
Ethan masih menunggu kabar dari Tom yang kini sedang mengoperasi Rachel. Pikirannya sungguh tidak bisa fokus, ia memikirkan keselamatan Rachel dan juga Arinka. Dua orang wanita yang begitu berarti dalam hidupnya.
“Bagaimana Rachel?” pertanyaan itu membuatnya mengangkat kepala.
“Dia sedang di operasi,” jawab Ethan.
“Ethan, maafkan aku karena tidak bisa melindungi Rachel. Saat itu aku sedang melawan mereka dan tidak sadar Rachel sudah di sandra,” ucap Raymond penuh penyesalan dan rasa khawatir. Ethan hanya diam tak menanggapi, Vallen memberi tanda pada Raymond untuk memberi Ethan waktu sendiri. Raymond akhirnya memilih duduk di kursi bagian lain bersama Marvin.
“Tak di sangka Jeff akan begitu saja menyerang di saat kita lengah,” seru Marvin.
“Dia mengawasi gerak gerik kita selama ini,” ucap Vallen. Kemudian ia melihat darah berceceran dari tangan Ethan. “Ethan, kau terluka?”
“Aku baik\-baik saja, ah!” Ethan meringis saat Vallen dengan sengaja menekan luka di bagian pundaknya.
“Itu yang kau bilang baik-baik saja, ayo kita ke ruang pengobatan. Kau jangan anggap remeh luka kecil, sebentar lagi kita akan berperang dan luka kecil ini bisa menjadi kelemahanmu dan kesempatan untuk melemahkanmu.” Vallen menarik jas Ethan dan membawanya pergi.
“Vallen memang cocok menjadi Ibu tirinya Ethan,” kekeh Marvin.
Merasa ucapannya tak di respon, ia menoleh ke arah Raymond yang tampak gelisah dan sangat khawatir. “Kau mendengarkan ucapanku tidak?” seru Marvin sedikit kesal.
“Eh? Memangnya kau mengatakan sesuatu?” tanya Raymond membuat Marvin menghela nafasnya.
“Tidak, ternyata cinta bisa membuntukan otak manusia,” seru Marvin seakan tak perduli.
Raymond mengabaikan Marvin dan tetap menatap ke arah pintu ruang operasi menanti kabar dari Tom bagaimana dengan kondisi Rachel. Dia berharap Rachel baik\-baik saja, karena kalau terjadi sesuatu pada Rachel maka dia tak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri yang tak mampu melindungi wanitanya.
ΩΩΩ
“Bagaimana bisa bocah itu membiarkan Arin di tangkap oleh anak buah Jeff?” seru Ethan dengan penuh rasa kesal. Ia mengutuk dirinya sendiri karena tadi malah meninggalkan area itu dan hilang pengawasan pada Arinka dan Rachel. Ia tidak menyangka kalau Jeff akan menyerangnya dalam keadaan seperti ini. Ethan masih mengingat tatapan ketakutan dari Arinka saat terakhir ia beradu tatap dengan Arinka. Rasa khawatir Ethan kini semakin besar. Ia berharap Jeff tak akan melukai Arinka.
“Sudahlah jangan kau pikirkan bocah itu, sekarang kita pikirkan saja bagaimana kita menemukan Arinka, dan semoga Rachel segera melewati masa kritisnya,” ucap Vallen.
Saat mereka sedang diam membisu sibuk dengan pikiran masing\-masing, handphone Ethan berdering dan tertera nama Arinka di sana. Ethan langsung berdiri dari duduknya membuat Vallen ikut kaget.
“Arinka,” serunya.
“Angkat sekarang,” ucap Vallen membuat Ethan mengangkat telpon itu dengan cepat.
“Hallo Arin,” seru Ethan.
Tak terdengar suara apapun selain suara isakan kecil yang Ethan ketahui adalah Arin. “Arinka, dengarkan aku baik\-baik. Aku pasti akan menemukanmu dan aku pasti akan menyelamatkanmu. Jadi jangan takut, dan berhentilah menangis, kamu gadis yang kuat. Jangan menangis, Arin. Dan tunggulah aku, aku akan menyelamatkanmu,” ucap Ethan.
Di sebrang sana Arin semakin menangis mendengar kata\-kata Ethan yang entah kenapa selalu menenangkan dan merasa dirinya terlindungi. Ia tak bisa berbicara karena mulutnya masih di bekap, dan ia hanya mampu menangis dan mengeluarkan isakan kecil sebagai pertanda. Jeff berdiri di sampingnya menyodorkan dan melonspeaker sambungan telpon mereka.
“Ckckck mengharukan sekali, kau begitu mencintai putriku, Menantu.” Kali ini Jeff yang berbicara membuat Ethan terdiam. “Dan sayang sekali adik kesayanganmu ikut terluka, aku sungguh tidak sengaja melukainya,” tawa Jeff sungguh membuat Ethan meradang.
“Apa maumu? lepaskan dia, urusanmu denganku!” pekik Ethan dari sebrang sana.
“Kau memang benar, urusanku denganmu. Maka dari itu mari kita buat kesepakatan,” ucap Jeff dengan senyuman liciknya.
“Kesepakatan apa?”
“Kau tau, musuhku pun ada di mana\-mana dan mereka ingin kematianku, termasuk kamu sendiri, bukan? Kau tau menantu, aku ingin hidup dan aku membutuhkan uang yang banyak. So, bantu aku keluar dari Negara ini dengan aman setelah melakukan transaksi itu. Aku ingin segera melarikan diri, jadi kau tidak perlu repot\-repot mengejarku lagi,” kekeh Jeff. “Ah yah, dan satu permintaan kecil dariku mari kita barter, putraku dengan putriku, kau paham bukan?”
“Bawa Charlie bersamamu, malam ini tepat pukul 8 malam dan sediakan satu buah helikopter untuk pelarianku. Lancarkan perjalananku meninggalkan Negara ini. Kau tidak perlu membawa teammu, cukup dirimu dan Charlie yang datang kemari, aku akan mengirimkan alamat tempat kita bertemu nanti,” seru Jeff dan langsung menutup sambungan telponnya tanpa mendengarkan ucapan Ethan kembali.
“Shit!” umpat Ethan kesal karena Jeff memutuskan sambungan telponnya.
“Bagaimana?” tanya Vallen.
“Berapa lama lagi proses operasi Rachel?” tanya Ethan.
“Aku tidak tau, ada apa Ethan? Jangan gegabah dan ambil tindakan sendiri, kita harus menyusun rencana!” ucap Vallen.
“Terlalu lama, aku tak punya waktu,” ucap Ethan menatap layar jam tangannya yang bertengker manis di pergelangan tangannya.
“Ethan!”
Vallen membuntuti Ethan yang sudah berlalu meninggalkan ruang pemeriksaan dan terus berjalan menyusuri lorong rumah sakit. “Ethan dengar! selama ini kita bersama-sama untuk mencari keberadaan Jeff. Jeff itu mafia kelas kakap dan sangat licik, kamu tidak bisa menghadapinya sendiri dengan gegabah penuh emosi seperti ini. Kita perlu rencana,” ucap Vallen menghadang langkah Ethan.
“Minggir Vallen, ini urusanku dengan Jeff,” ucap Ethan.
“Dia juga musuh Negara, dan incaran Negara. Team kita harus bekerja sama untuk menangkapnya,” ucap Vallen.
“Ada apa ini?” pertanyaan seseorang itu membuat mereka berdua menoleh dan tak jauh dari mereka, Marvin berjalan mendekati mereka. “Apa ada kabar baru?”
“Jeff menghubungi Ethan,” jawab Vallen.
“Benarkah? lalu apa? Apa bocah emosional ini kembali bertingkah dan keras kepala seakan dia bisa menghadapi Jeff sendirian?” tanya Marvin menyindir Ethan.
“Kau mengenalnya,” jawab Vallen.
“Oke fine!” akhirnya Ethan mengalah. “Arin sekarang ini dalam bahaya dan waktu kita hanya tinggal 3 jam lagi, bagaimana kita menyusun rencana?” seru Ethan lalu ia menceritakan apa yang di inginkan Jeff.
“Ck si tua bangka yang rakus dan licik,” gerutu Marvin. “Ngomong\-ngomong kau tak masalah kan aku mengumpat dan menyumpahi mertuamu itu.” Marvin bertanya hal yang menurut Vallen dan Ethan sangat tak penting di saat genting.
“Kau bebas mengumpat dan menyumpahinya sampai mulutmu berbusa,” seru Ethan dengan kesal.
“Santai dong, dude. Kau ini tegang sekali,” goda Marvin.
“Marvin, apa kau ingin tinjuku melayang di wajah tampanmu itu?” ucap Ethan penuh penekanan dan malah membuat Marvin tertawa.
“Baiklah kita briefing, kebetulan James dan Jerry sudah datang.”
Mereka bertiga berlalu pergi menuju ruang tunggu di depan ruangan operasi.
ΩΩΩ