
Ethan masih duduk termenung di ruang tunggu dengan perasaannya yang tak menentu. Bagaimana mungkin ia tidak mengetahui kalau Arin sedang mengandung? Kenapa dia mengetahuinya setelah anak itu pergi untuk selamanya. Hukuman semacam apa ini? Kenapa harus menimpa pada Ethan.
Vallen datang dan memperhatikan Ethan yang terlihat hancur dengan matanya yang merah dan basah. Vallen tau kalau Ethan kini telah begitu hancur. Terlalu banyak beban dan rasa sakit yang Ethan tanggung dan rasakan. Selama ini Vallen lah yang menjadi kesakitan Ethan tanpa ada yang mengetahuinya, bagaimana Ethan menyiksa dirinya hanya untuk membalas perlakuan kasarnya pada Arin. Ethan seperti memiliki dua karakter, di depan Arin dan semua orang, dia tampak begitu dingin, angkuh dan kejam. Tetapi tak ada yang tau sebenarnya Ethan begitu rapuh, sangat rapuh bahkan dari ranting yang jatuh ke tanah.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Vallen memilih duduk di samping Ethan.
"Dia sedang beristirahat," jawab Ethan. "Ternyata dia sedang hamil, dan aku bahkan tidak mengetahuinya. Sekarang saat aku tau, janin itu telah hilang." Ethan menunduk dan mengusap wajahnya penuh rasa penyesalan dan frustasi.
Vallen tidak bisa berkata apapun selain menemani sahabatnya dan mendengarkan segala keluh kesahnya.
"Kenapa hidupku harus seperti ini, Vall? Aku mulai merasa lelah."
"Perjalanan kamu masih panjang, Than. Dan sekarang Arin membutuhkanmu, dia pasti akan sangat kehilangan mengetahui fakta bahwa janinnya telah tidak ada."
ΩΩΩ
"James! James! James!"
Teriakan itu menggelegar di rumah mewah nan besar itu membuat sang empu terganggu dan keluar dari tempatnya.
"Kenapa kau berteriak-teriak di malam hari begini, Ray?" tanya James yang berdiri di lantai atas hingga tatapannya menunduk menatap ke arah Raymond yang berdiri di lantai satu.
"James, aku mendapatkan informasi terbaru yang sangat mengejutkan," seru Ray membuat James mengernyitkan dahinya.
"Oke, aku turun," jawab James dan berjalan untuk menghampiri Raymond.
Raymond tampak sudah duduk manis di sofa yang ada di ruang televisi James saat James datang dan duduk di dekatnya.
"Baca ini," perintah Raymond menyerahkan dokumen biru pada James.
James bersandar ke sandaran sofa dengan santai dan bertumpang kaki. Ia mulai membuka dokumen itu dan membaca isinya.
"Ini?" James termangu dalam diamnya hingga posisi duduknya menjadi tegak dan tegang.
"Itu fakta terbaru dari seorang informan yang aku pastikan akurat," seru Raymond.
"Jadi Arinka?"
"Iya james, sepertinya kita harus segera meluruskan kesalahpahaman ini," ucap Raymond yang di angguki James.
ΩΩΩ
Ethan masuk ke dalam ruangan Arin di rawat dan ia berjalan mendekati Arin yang masih tak sadarkan diri di atas blangkar. Ia masih berdiri tegak di sisi blangkar menatap wajah Arin yang pucat. Ethan merasa sesuatu yang keras menghantam dadanya dan rasanya begitu sesak.
"Kenapa kamu menyembunyikan semua ini dariku, Arin?" gumam Ethan memegang tangan Arin dan menggenggamnya.
"Aku rasanya seperti tersesat jauh sekali hingga aku tidak menemukan jalan pulang seperti dulu dimana kamu adalah tempatku berpulang, berkeluh kesah. Aku tidak menemukan jalan untuk kembali seperti dulu."
"Arin, aku tidak tau lagi harus bagaimana. Rasa sakit dan dendam ini seperti membunuhku secara perlahan." Ethan tampak menghela nafasnya cukup panjang. "Aku tidak tau, apa yang akan aku lakukan selanjutnya. Aku ingin kamu kembali padaku, tetapi di sisi lain rasa ini membunuhku, dendam dan sumpahku yang akan membunuh semua keturunan Jeff, termasuk kamu. Ini sungguh sulit untukku. Setelah semuanya terpenuhi maka akupun akan mati bersamamu, Arin."
"Jauh di dalam lubuk hatiku, aku sangat mencintai kamu, Arinka." Ethan mengecup kening Arin dan keluar dari ruangan itu.
Langkah Ethan terhenti saat keluar dari ruangan tampak James berdiri dengan angkuh dan tatapan tajam. Ethan masih kesal dan cemburu pada James mengenai kejadian beberapa minggu lalu. Ia menghela nafasnya sebelum berjalan mendekati James.
"Ada apa?" tanya Ethan.
"Kenapa tidak kau gunakan saja ruangan Tom di sini, aku tidak bisa meninggalkan Arin sendirian begitu saja," seru Ethan.
James terkekeh kecil membuat Ethan menatapnya dengan sinis. "Ck, lucu sekali sekarang kau mengkhawatirkan Arin."
"Tidak ada yang perlu kau tertawakan, dan jangan berpikir aku sudah memaafkanmu atas apa yang kau lakukan dengan Arin beberapa hari lalu." Setelah mengatakan itu, Ethan berjalan terlebih dahulu diikuti James.
Mereka berdua sampai di ruangan milik Tom di rumah sakit itu dan tak ada oranglain lagi selain mereka berdua.
"Tom berpesan supaya kita tidak menghancurkan ruangannya," seru James.
"Asalkan kau tidak memancing emosiku," jawab Ethan.
"Sepertinya aku akan tetap memancing emosimu, Brother." James tersenyum penuh arti membuat Ethan bertanya-tanya.
"Sekarang katakan apa yang ingin kau katakan, James."
"Duduklah," perintah James menunjuk sofa di hadapannya.
"Aku tidak memilki banyak waktu untuk bermain-main," ucap Ethan dengan nada datar.
"Duduklah dulu, susah banget sih," seru James dengan gaya santainya. "Kau ini sok jaim berbincang dengan teman sendiri."
Ethan hanya melirik sekilas sebelum akhirnya duduk di sofa tepat di hadapan James.
"Ini kau baca dengan begitu teliti dan jangan sampai ada yang terlewatkan." James menyodorkan sebuah berkas berwarna biru ke hadapan Ethan.
"Apa ini?"
"Baca saja dengan teliti, setelahnya baru kau boleh berkomentar."
Ethan akhirnya menuruti James dan membaca isi dari berkas itu. Cukup lama Ethan membaca dan memahami isi dari berkas itu dan tampak wajahnya begitu kaget dan menegang. James masih menunggu dengan sabar seraya membaca ekspresi yang di tunjukkan Ethan.
"Ini-!" Ethan menatap James dengan ekspresi begitu syock.
"Itu adalah faktanya," seru James. "Arinka bukanlah putri kandung Jeff, dia hanya anak angkat yang di ambil Jeff dari panti asuhan."
Ethan sampai tak bisa berkata-kata mendengar kenyataan baru itu. "Di sana aku menyertakan juga akte dari Arinka dan surat pengambilan hak asuh Jeff terhadap Arin."
Bagaimana bisa ini terjadi setelah Ethan berlaku seperti itu pada Arin?
"Sejak awal aku tidak mempercayai keterlibatan Arin dengan Jeff. Arin begitu polos dan lugu, bahkan dia takut untuk membunuh semut, dia gadis jujur yang tidak tau menahu soal semua itu. Aku malah yakin kalau Jeff memanfaatkan Arin dalam hal ini, atau mungkin juga Arin di jadikan umpan untuk persembunyiannya dan menghancurkanmu." Ethan mengepal kuat penuh emosi mendengar penuturan James. Wajahnya tampak mengeras dan matanyanya menggelap, emosinya kepada Jeff semakin menumpuk besar.
Karena pria tua bangka itu, dirinya telah menyiksa Arin habis-habisan.
Karena pria tua itu sekarang dia kehilangan calon bayinya.
Dan Jeff tak bisa lagi di maafkan.
"Kau akan kemana Than?" tanya James saat Ethan beranjak dari duduknya.
Ethan tak menjawabnya dan terus saja berjalan tanpa memperdulikan panggilan dari James.
ΩΩΩ