(Un) Perfect Wedding

(Un) Perfect Wedding
Episode 16



Warning 21+


Arin duduk di stasiun kereta bawah tanah, ia ingin pergi dan menyelamatkan diri juga bayi nya. Ia tidak bisa membiarkan Ethan membunuh janin di dalam perutnya. Bayi yang tidak tau apapun dan tidak berdosa dan harus menerima siksaan dari Ayahnya sendiri.


2 Kereta sudah berangkat menuju keluar kota, tetapi Arin tetap duduk termenung di kursi tunggu tanpa beranjak sedikitpun. Hari semakin larut dan ia sungguh dilema antara harus bertahan dengan keyakinan Ethan akan berubah dan ia juga bisa menolong Ibunya, atau pergi dari kehidupan Ethan untuk selamanya.


Ia memiliki waktu 2 minggu untuk membebaskan Ibu nya, dan kalau sampai ia tak berhasil menemukan keberadaan Ayahnya maka dia dan ibunya akan di bunuh, begitu juga janinnya.


"Oh God!" keluh Arin mengusap wajahnya yang basah. Apa yang harus dia lakukan. Ini adalah situasi yang tepat untuk dia pergi menjauh dari kehidupan Ethan dan memulai hidup yang baru bersama calon anaknya di kota lain dengan lembaran yang baru. Tetapi bagaimana nasib Ibu nya, bagaimana nasib keluarganya. Ethan tak akan berhenti begitu saja, sudah jelas dendamnya sangat kuat dan ia begitu ingin melenyapkan Ayahnya dan menghabisi keluaganya hingga tak akan ada lagi keturunan Drummond.


"Bagaimana ini," gumamnya terus berpikir hingga kepalanya terasa sangat pusing dan sakit, ia juga belum makan apapun sejak siang tadi.


Setelah berperang dengan pikirannya, akhirnya Arin memutuskan untuk kembali pulang ke rumah Ethan. Ia akan bertahan mungkin untuk 2 minggu ke depan sampai ia memiliki kesempatan untuk menyelamatkan kedua orangtuanya.


ΩΩΩ


Arin baru saja sampai di penthouse Ethan, ia melepaskan mantel yang ia gunakan, salju masih setia menghujani kota Boston. Arin tidak tau ini sudah jam berapa, yang jelas ia merasa pusing, lemas, haus dan ia butuh istirahat.


"Darimana saja?" geraman itu menghentikan langkah Arin. Ia menoleh ke belakangnya dimana Ethan sedang duduk angkuh di atas sofa tak jauh dari tangga.


"Jangan karena aku tidak menyekapmu lagi, kamu bisa seenaknya! Kamu ini tetaplah tawananku!" bentaknya.


"Bukankah aku ini istrimu, Ethan." Arin berucap.


"Kalau kau memang istriku, tidak seharusnya kamu keluyuran tanpa mengabariku dan menonaktifkan handphonemu, Arinka!"


"Baiklah aku minta maaf untuk itu," ucap Arin hendak beranjak tetapi Ethan mencengkram pergelangan tangan Arin.


"Kau mau kemana? aku belum selesai berbicara denganmu!"


"Lepaskan aku! aku ingin ke kamarku dan beristirahat," ucap Arin.


"Tidak semudah itu, kau harus menerima hukuman dariku dulu." seringai terukir di bibir Ethan membuat Arin bergidik ngeri.


"Ethan, ku mohon jangan lakukan apapun," seru Arin berjalan mundur.


"Kenapa Arin? bukankah kau bilang kau ini istriku," serunya menyeringai dan menarik pergelangan tangan Arin.


"Ethan lepaskan tanganku!" Arin sudah khawatir Ethan akan melakukan sesuatu padanya, dia sedang hamil dan dia tidak ingin Ethan melukai janinnya.


"Ethan lepaskan aku," ucap Arin berusaha berontak.


"Kenapa Arin? apa kau sudah menyerah untuk meluluhkan hatiku?" tanya Ethan masuk ke dalam kamarnya.


"Et- ah!" pekik Arin saat Ethan mendorong Arin hingga terhempas ke atas ranjang, dengan cepat Arin memegang perutnya dan berangsur mundur menghindari Ethan.


Ethan menarik kaki Arin hingga kini posisi Arin terlentang dan tanpa menunggu lama lagi, Ethan menarik celana jeans Arin dan memposisikan dirinya di pusat Arin.


"Ethan kumohon jangan," isak Arin.


"Teruslah memohon kepadaku," ucap Ethan dengan penuh kekejaman.


Arin menjerit kencang saat Ethan begitu saja menerobos miliknya tanpa ada pemanasan. Arin memalingkan wajahnya dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipi. Ia tak sudi menatap wajah Ethan. Sekuat tenaga ia menahan rasa sakitnya dan terus berdoa untuk keselamatan janinnya.


Ethan pun memalingkan wajahnya dan menghela nafasnya. Ia tak bisa menatap wajah Arin yang tersiksa seperti ini, kenapa?


Tanpa menyelesaikan aktivitasnya, Ethan menghentikan gerakannya dan melepaskan miliknya dari Arin. Dengan berpaling memunggungi Arin, Ethan kembali merapihkan celana tranningnya.


"Pergilah," ucap Ethan terdengar melembut membuat Arin menoleh ke arahnya yang kini berdiri memunggungi Arin.


Dengan gerakan pelan Arin beranjak dengan merapihkan pakaiannya dan berjalan lesu keluar kamar Ethan.


"Sial!"


Ethan mengumpat kesal seraya meninju dinding, kenapa ia begitu lemah. Bukankah kesakitan Arin adalah yang ia inginkan, tetapi kenapa melihat wajah Arin yang terluka dan tersiksa malah membuat hatinya ikut tersakiti juga.


ΩΩΩ


"Arin, kau baik-baik saja? Kau ini kemana kemarin sih?" tanya Jason langsung menghadang Arin saat ia masuk ke kelas.


"Aku baik-baik saja, Jas." Arin berjalan melewati Jason dan duduk di salah satu kursi diikuti Jason.


"Kau tidak baik-baik saja, wajahmu pucat sekali. Sebaiknya kita periksa kandunganmu ke rumah sakit," ucap Jason dengan sangat khawatir.


"Seharusnya kamu tidak perlu masuk kuliah kalau kamu tidak sehat, ingat ada janin di dalam perutmu." Arin tetap diam tak menggubris Jason.


"Biar aku hubungi Rachel dan meminta Kakaknya menjemput kamu kesini," ucap Jason.


"Tidak Jas, ku mohon jangan lakukan itu," seru Arin menghadang gerakan tangan Jason yang hendak menghubungi Rachel.


"Why?"


"Tidak Jas, ku mohon jangan menghubungi mereka." Jason menatap intens ke arah Arin. "Dan Jas, bisakah kau membantuku."


"Apa itu Rin? Katakan saja, aku akan selalu membantumu kapanpun itu," ucap Jason dengan begitu tulus.


"Tolong jangan beritahu Rachel mengenai kehamilanku," ucap Arin membuat Jason mengernyit bingung. Setau Jason, Arin tidak pernah merahasiakan apapun dari Rachel, Rachel ibarat belahan jiwa Arin. Tetapi kenapa sekarang seperti ini.


"Rin, kita berteman sudah sangat lama, Bukan?" Arin menatap ke arah Jason dan menunggu kelanjutan ucapannya. "Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?"


"Pasti terjadi sesuatu antara kamu, Rachel dan suamimu, bukan begitu?" Arin termenung mendengar ucapan Jason barusan.


Arin tau Jason pasti akan mencurigainya, ia sudah berteman dengan Arin dan Rachel cukup lama, dan ia pasti bisa melihat perbedaan di antara kami.


"Rin, katakan ada apa." Jason tampak memaksa.


Haruskah Arin memberitahu Jason?


ΩΩΩ