
Malam ini Ethan bersama Rachel menghadiri acara ulang tahun party adik dari Tom. Jenny adalah adik dari Tom dan ia juga kuliah di tempat yang sama dengan Rachel dan Arin hanya saja berbeda fakultas. Jenny lebih mengambil fakultas kedokteran, dia mengikuti jejak Kakak dan Ayahnya yang seorang dokter di rumah sakit milik keluarganya.
Ethan dan Rachel berjalan menghampiri team Delta yang tampak sudah hadir dan berkumpul di sebuah meja VIP yang di siapkan untuk mereka. Tampak Marvin membawa kekasihnya, begitu juga dengan James dan Jerry. Vallen tampak duduk angkuh di kursi dengan mencicipi anggur merah bersama Tom dan Raymond. Raymond segera berdiri saat melihat kedatangan Rachel yang tampak cantik dengan gaun berwarna violet. "Hai Achel," sapa Raymond membuat Rachel mendelik.
"Kau tidak menyapaku, Ray?" seru Ethan dengan nada sindiran membuat Raymond hanya nyengir kuda.
"Hai Than, tapi tadi sore juga kita bertemu kan," jawab Raymond dengan enteng.
Rachel duduk di antara Tom dan Vallen yang terkekeh melihat Ethan yang memojokkan Raymond.
"Sudah ayo silahkan duduk, Brother." Akhirnya Raymond mengalah dan Ethan ikut duduk di sana dengan pandangan menyisir seluruh penjuru.
"Itu James datang membawa kekasihnya?" tanya Ethan.
"Iya," jawab Tom.
"Lalu Arinka dimana? apa dia tidak datang?" pertanyaan Ethan membuat raut wajah Raymond berubah. Tampaknya tak ada yang menjawab pertanyaan dari Ethan sehingga dia kembali bertanya. "Ray, kamu yang paling dekat dan selalu bersama dengan James dan Arin. Dimana Arin? apa dia tidak datang?"
Raymond masih terdiam dan seakan menimbang-nimbang antara harus menjawabnya atau tidak. "Arin-"
Ucapan Raymond terhenti saat mendengar suara gaduh dan mereka semua menatap ke arah ambang pintu masuk. Ethan membelalak lebar saat melihat sosok Arinka yang tampak cantik dengan balutan gaun berwarna gold dan cukup seksi dengan belahan di kaki jenjangnya hingga paha. Tetapi bukan hanya kecantikan Arin yang membuat Ethan mematung kaku. Melainkan seseorang yang datang bersamanya dan tampak mesra layaknya sepasang kekasih. Arinka datang bersama Jason dan mereka terlihat saling bergandengan layaknya sepasang kekasih.
Ethan memalingkan wajahnya ke arah lain dan memunggungi Arin dan Jason yang berjalan mendekati Jenny. Rachel menatap ke arah Ethan dengan tatapan penuh iba dan rasa sakit yang juga bisa ia rasakan. Ethan memilih duduk di samping Vallen dan meneguk segelas wine yang di sediakan di sana.
"Jangan sampai mabuk," seru Vallen.
"Kau tau aku tidak mungkin bisa sampai mabuk," jawab Ethan.
"Ya memang kau benar," kekehnya.
Ethan mengingat dulu dirinya pernah bergandengan bersama Yuri, apa begini rasa sakitnya? Sakit yang seperti di remas-remas oleh tangan tak kasat mata. Ethan meneguk habis minuman dalam gelasnya hingga kerongkongannya terasa terbakar, tetapi ia tidak perduli karena hatinya jauh lebih terbakar.
"Ethan," gumam Rachel menggenggam tangan Ethan yang hanya di balas dengan senyuman kecil darinya. Rachel dapat melihat rasa sakit yang begitu dalam di mata Ethan.
"Rachel," panggilan itu membuat Rachel menengadahkan kepalanya dan ternyata Arin berdiri di belakang Ethan bersama Jason.
"Hai Rin, Jase," ucap Rachel tersenyum kecil dan ia kembali menatap ke arah Ethan yang tampak acuh dan meneguk minumannya tanpa ingin menoleh ke belakangnya.
Arin sendiripun sadar kalau Ethan berada tepat di depannya, walau posisinya memunggungi Arinka, tetapi ia sudah sangat hapal setiap detail dalam diri Ethan. Arin berusaha menahan dirinya agar tidak menyapa Ethan, padahal sejujurnya di dalam hatinya ia ingin Ethan menyapanya dan seperti biasa memuji kecantikannya, mengagumi dirinya seperti dulu. Tetapi itu sudah tidak akan mungkin bisa terjadi.
"Hel, kami akan duduk di sana," ucap Arin menunjuk ke meja lain.
"Oke," jawab Rachel yang tetap di sisi Ethan seakan ingin menguatkan Kakaknya itu.
Kegiatan demi kegiatan berlangsung dengan begitu meriah dan semuanya menikmati suasana pesta itu kecuali Ethan yang hanya duduk di mejanya dan tidak berhenti meneguk minumannya hingga habis 3 botol. Dan semua itu tidak terhindar dari pandangan Arinka yang terus menatap ke arahnya.
"Rin, kamu baik-baik saja?" tanya Jason menyadarkan lamunan Arinka dan kini mengalihkan pandangannya dari Ethan ke arah Jason.
"Ya, aku baik-baik saja," ucap Arin tersenyum kecil.
"Kamu masih perduli padanya?" tanya Jason tampak jelas ada kecemburuan dari nada suaranya.
"Tidak Jase, aku hanya sedang melihat sekeliling dan melihat Rachel yang berbincang dengan Raymond. Tumben sekali dia mau berbincang dengan Ray, padahal dia tidak menyukainya," kekeh Arin berusaha mengalihkan pembicaraan Jason.
"Mungkin Rachel sudah mulai membuka hatinya untuk Raymond," jawab Jason walau masih ada kecurigaan dari tatapannya.
Arin memalingkan wajahnya, menghindari tatapan Jason dan memilih menatap ke depan dimana beberapa pasangan berdansa di lantai dansa. "Bagaimana kalau kita berdansa?" ajak Arin.
"Ide yang bagus," seru Jason.
Mereka berdua berjalan menuju lantai dansa dan mulai berdansa di sana. Dan gerakan itu tertangkap oleh mata tajam Ethan. Hatinya semakin hancur saat melihat tubuh Arin di rengkuh dan di sentuh oleh pria lain. Hati kecilnya marah besar karena Arin adalah miliknya.
"Aku akan ke belakang dulu," ucap Ethan kepada Rachel dan berlalu pergi.
Ethan berjalan menuju ke bagian luar gedung yang juga di gunakan untuk pesta tetapi lebih sepi karena itu taman belakang. Ethan mengeluarkan rokok dari sakunya kemudian menyelipkan di sela bibirnya yang seksi. Ia membakar ujung rokok itu dengan api dan meniupkan asapnya ke udara. Sesak di dalam hatinya sedikit berkurang karena kepulan asap yang ia keluarkan, walau hatinya masih sangat terluka melihat kedekatan Arinka dengan pria bernama Jason itu.
Ingatan Ethan melalangbuana ke masalalu dimana dirinya masih berpacaran dengan Arinka. Rasanya Ethan ingin memutar kembali waktu dan tetap berada di masa itu, tanpa mengetahui keterlibatan atau ada hubungan antara Arin dan Jeff musuh besarnya.
Lamunan Ethan terganggu dengan suara jeritan dan suara gaduh dari dalam. Ia membuang rokoknya dan berlari ke dalam. Suasana di dalam tidak seindah tadi, kini semua orang tampak ketakutan dan beberapa saling baku hantam dan saling mengacungkan pistol. Tampaknya ada penyudup yang datang dan menghancurkan pesta ini.
"Arin, Rachel!" gumam Ethan bergegas mengeluarkan pistol dari balik pakaiannya dan beranjak menembus beberapa orang yang berlarian dan tampak panik.
"Arin! Rachel!" teriak Ethan dan berkelahi dengan para penyudup yang memakai topeng hitam itu. Suara tembakan menggema di dalam ruangan itu dan jeritan para wanita. Ethan dapat melihat anggota team Delta sibuk berkelahi dan berusaha menyelamatkan orang-orang di sana. Ia bertemu dengan Raymond.
"Dimana Rachel?" tanya Ethan.
"Rachel pergi keluar, tadi aku berusaha melindunginya, tetapi sepertinya dia terdorong orang-orang yang bergerombol keluar gedung ini," seru Raymond.
Ethan berlari keluar gedung yang tampak beberapa orang berlarian menuju mobil mereka dan pergi meninggalkan tempat itu.
"Rachel!" teriak Ethan.
Bug
Tubuh Ethan tersungkur saat seseorang meninjunya dari samping, ia melihat seorang pria bertubuh besar dan tinggi menggunakan topeng baru saja memukulnya. Ethan bergegas berdiri dan membalas pria itu hingga terjadilah baku hantam. Pria itu telah terjatuh karena tinjuan dan tendangan Ethan. Dia mengacungkan pistol untuk membunuh pria itu tetapi panggilan Rachel membuatnya menoleh.
"Rachel!" pekik Ethan yang kaget melihat Rachel di sandra dua pria bertopeng. "Lepaskan dia!"
Tanpa kata pria itu mendorong tubuh Rachel ke arah Ethan membuat Ethan bergegas mendekati Rachel.
Dor
"Rachel!"
Tubuh Rachel ambruk dan hampir menyentuh tanah kalau Ethan tidak segera menangkap tubuh adiknya itu. Ethan mengacungkan pistolnya untuk menembak pria pria bertopeng itu karena telah menembak Rachel di punggungnya. Tetapi gerakan jari Ethan yang hendak menarik pelatuknya terhenti dan matanya membelalak lebar. Dari balik semak semak pepohonan keluarlah tiga orang pria bertopeng dengan menyandra Arinka yang sudah di ikat kedua tangannya dan mulutnya di bekap lakban. Tatapan Arin dan Ethan beradu, tampak tatapan ketakutan dan air mata yang menggantung di pelupuk mata Arinka. Mata mereka seakan tak bisa lepas sedikitpun satu sama lainnya.
"Turunkan senjatamu atau kepala gadis ini akan aku hancurkan!" perintah pria yang menodongkan pistol ke kepala Arinka. Ethan mengangkat sebelah tangannya ke udara, kemudian menyimpan senjatanya di tanah. Sebelah tangannya masih memeluk tubuh Rachel yang tampak menahan kesakitan.
Tak lama datanglah sebuah mobil limosin hitam nan mewah berhenti di dekat mereka. Dan sosok angkuh nan sombong keluar dari dalam mobil dengan tongkat hitamnya dan seringai menyeramkan di bibirnya.
"Jeff," gumam Ethan penuh kebencian pada pria tua yang baru saja menuruni mobil.
"Lama tak berjumpa, Menantu," serunya diiringi seringainya. "Ah mungkin lebih tepatnya mantan menantu." Jeff tersenyum menakutkan membuat amarah Ethan naik hingga ke ubun-ubun.
"Uch ternyata adik kesayanganmu yang cantik ini terluka? Sepertinya anak buahku tidak sengaja melakukannya" kekeh Jeff dengan penuh keangkuhan dan kesombongan. Jeff lalu menoleh ke arah Arin yang berontak ingin minta di lepaskan. "Oh apa kabar putri kesayanganku?" ucap Jeff membuat Arin terus berontak meminta lepas.
Jeff menggerakkan kepalanya sebagai tanda kepada anak buahnya untuk membawa Arin masuk ke dalam mobilnya. Ethan hendak mengambil senjatanya dan menembak Jeff tetapi seseorang di belakang Ethan terlebih dulu memukul punggung Ethan hingga ia sempat tersungkur tetapi bertahan karena menahan tubuh Rachel. Arin sempat kaget dan merasa khawatir melihat Ethan yang di pukul tepat di bagian pundak bawah kepalanya.
"Ckckckck, jangan bertindak gegabah. Kau belum sadar situasi di sini, kau yang terpojok di sini, Menantu," kekeh Jeff. "Aku hanya ingin membawa putriku kembali, aku sangatlah merindukannya."
Jeff tersenyum puas dan berbalik menuju limosinnya, Ethan sungguh tak berdaya karena pistol terus mengarah pada dirinya dan juga kepala Arinka. Tatapan mata Arin dan Ethan tak terputus satu sama lain sampai Arin di paksa masuk ke dalam limosin itu. Ethan mampu melihat dengan jelas air mata yang jatuh dari pelupuk mata Arin dan ketakutan di matanya. Tatapan mereka terputus saat pintu mobil tertutup dan mobil itu berlalu pergi meninggalkan tempat itu diikuti yang lain meninggalkan Ethan dan Rachel.
"Shitt!" umpat Ethan sangat kesal. Ia melihat darah terus keluar dari punggung dekat bahu Rachel yang tertembak. Ia yang juga mengetahui ilmu kedokteran segera melepaskan dasinya dan menahan pendarahan di luka Rachel.
"Bertahanlah demi aku, Hel. Kita akan ke rumah sakit," ucap Ethan dengan ekspresi datarnya dan membopong tubuh Rachel ala bridal style.
"Arinka?" gumam Rachel di tengah menahan rasa sakitnya, dan peluh yang sudah membanjiri seluruh tubuhnya.
"Aku akan segera menyelamatkannya," ucap Ethan seperti sebuah janji dan ia merasakan cengkraman kuat dan tatapan sendu dari Rachel mendengar itu.
"Aku akan baik-baik saja dan menjaga diriku sendiri, aku harus menyelesaikan semuanya, Rachel. Kamu tidak usah khawatir," ucap Ethan berusaha mengenyahkan rasa takut dalam diri Rachel.
"Ethan,, Rachel!" Team Delta keluar dari gedung bersama Jason, Jenny.
Tom yang notabennya sebagai Dokter bergegas menghampiri Ethan dan membawa Rachel ke dalam gendongannya, ia memeriksa luka di punggung Rachel. "Ambulance akan segera datang," ucap Tom.
Tanpa di sangka-sangka Ethan menerjang Jason dan mencengkram kerah jasnya. "Kau ini gunanya apa, hah!" pekik Ethan.
"Bagaimana bisa Arin tertangkap oleh mereka? Kau tidak becus menjaganya!" pekik Ethan.
"Ethan cukup!" Vallen dan James menarik Ethan menjauh dari tubuh Jason yang hanya diam membisu.
"Lepaskan! karena kalian terlalu sibuk di dalam, kini Jeff menangkap Arinka!" pekik Ethan penuh emosi terutama pada Jason. "Kau adalah pria yang membawa Arinka kesini, tetapi kau bahkan tak mampu melindunginya, Sialan!"
"Ethan cukup! emosimu tidak akan bisa menyelesaikan segalanya!" seru Marvin membuat Ethan terdiam.
"Kalian terus saja memintaku diam! Arinka di tangkap, apa aku harus diam saja, hah!" pekik Ethan.
"Tenangkan dirimu, Ethan!" bentak Vallen seraya mencengkram kerah jas Ethan. "Kita tidak akan bisa menolong Arin kalau keadaanmu seperti ini!"
"Persetan denganmu!" Ethan melepaskan cengkraman Vallen. Ambulance datang dan Tom bergegas membawa Rachel ke dalam ambulance diikuti Ethan.
"Jerry, James kalian cari tau kemana Jeff pergi," perintah Marvin yang di angguki mereka.
"Dan sisanya kalian bisa ke rumah sakit, dan kau bocah," panggil Marvin pada Jason. "Sebaiknya kau pulang saja."
"Aku ingin ikut mencari keberadaan Arinka," ucap Jason.
"Jangan memperburuk keadaan, kau saja tidak mampu melindungi dirimu sendiri. Jangan menambah beban kami," seru Vallen dengan begitu dingin hingga membuat Jason terdiam.
ΩΩΩ
TBC...