Write Love On The Sky

Write Love On The Sky
Mantan Tercinta



Sedangkan dia hanya tukang jahit biasa, dan sorenya mengajar ngaji anak - anak di mushala dekat rumahnya.


Papah Ferdi sebenarnya ingin menyekolahkannya, karena dulu kakaknya Rima di sekolahin oleh ayahnya. Tapi dia menolaknya, karena dia menjaga perasaan ibunya, yang masih merasa sakit atas perlakuan papah Ferdi dahulu.


Kakaknya juga sempat menawarkan diri untuk ikut membiayai kuliahnya, tapi dia pun menolaknya karena dia gak mau gak enak aja rasanya.


Dia tinggal di kampung sekaligus untuk merawat neneknya, sebenarnya dia pernah melamar di pabrik di kota S dan lolos. Tapi ketika akan berangkat neneknya sakit bahkan sampai di rawat. Karena itu akhirnya dia menjadi tukang jahit karena Hany keahlian itu yang dia bisa.


Ibunya setiap bulan akan mengirim uang untuk biaya hidup dirinya dan neneknya dari hasil kerjanya sebagai buruh cuci gosok.


Ibunya tinggal menumpang di rumah kakaknya. Makanya dari itu ia enggan untuk ikut kerja di kota J, rasanya malu aja gitu kalo sampe dia juga ikut numpang juga.


Walau dia hanya seorang tukang jahit rumahan tapi dia bisa benerin rumah di bantu dengan uang ibunya, bisa beli motor dengan cash tanpa kredit.


"Mei, eyang tolong beliin hot cream, badan eyang pegal - pegal". Ujar neneknya dari dapur.


"Iya yang, sama apa lagi, Roti atau kue lainnya mau?" Tanya Meisya


"Gak usah, beli teh aja." Jawab neneknya


Jalan pergi ke kamar untuk mengambil dompetnya, dia bergegas pergi ke warung untuk membeli pesanan neneknya. Sampe di warung dia membeli apa yang di katakan neneknya, dia juga memilih beberapa makanan untuk dirinya dan neneknya nyemil.


"Beli apa Mei?" Tanya seseorang di belakangnya.


Meisya tersenyum canggung, yang bertanya padanya adalah ibunya Firman. Semenjak Firman cerai dari istrinya dan sakit, ibunya ramah sekali. Dulu kalau bertemu paling bertanya biasa aja. Gak seramah sekarang.


"Ini Bu beli pesanan nenek." Ujarnya sambil menenteng belanjaan untuk di hitung


"Mei ibu besok ada cara, pagi - pagi ke rumah ya tolong bantu in ibu." Pinta ibunya Firman


Apa aku gak salah dengar. Batinnya


Ibunya Firman tersenyum, dia merasa geli. Dia yakin gak mungkin Meisya gak dengar ucapannya. Dia tahu Meisya bertanya hanya untuk memastikan nya saja.


" Rencananya ibu mau selamatan di rumah besok sore, Mei tolong ke rumah ya bantu ibu masak - masak. Ibu kan di rumah sendiri gak ada yang bantuin, makanya Mei besok pagi datang yah." Ucapnya lagi memastikan


"I.. Iya Bu." Ucap Meisya terbata.


"Bu duluan ya, belanjanya udah." Ucap Meisya lagi.


Ibu Firman menganggukan kepalanya sambil tersenyum. Dia tahu Meisya gugup, maklum beberapa tahun ke belakang mereka hanya bicara seperlunya. Dan sering menghindar jika sempat berpapasan atau bertemu.


Setelah memberikan pesanan kepada neneknya Meisya kembali ke kamar, Hari sudah hampir Maghrib dia berencana akan ke mushala untuk shalat berjamaah.


Dua pesan masuk dari mantan ter❤️


Mei aa baru sampe ( Pesan pertama di tambah photo selfienya)



Mei Aa bersih - bersih dulu ya, takut ketinggalan shalat di mesjid. (Pesan ke dua)


Meisya memandang photo Firman, dia mengusap wajah di layar ponselnya sambil tersenyum. Air mata dari pelupuk matanya mengalir tanpa sadar. Pria ini yang telah meluluh lantahkan hatinya, yang telah membuatnya mengeluarkan airmata kesakitan.


Alhamdulillah a, Mei juga mau siap - siap ke mushala. Habis Isya di lanjut lagi ya A.