
Setelah ngobrol sejenak dengan sang Ibu dia bergegas masuk ke kamarnya.
Terbaring di kamar menatap langit - langit kamar pikirannya menerawang mengingat kisah asmaranya yang sempat terjalin dengan tetangga kedua orangtuanya di kampung tempat ia di besarkan.
Namanya Meisya Aryanti, mengenalnya bukan sehari dua hari atau sebulan dua bulan, tapi dari semenjak di kandungan mungkin. Sempat menjalin hubungan tanpa di ketahui oleh masing - masing orangtuanya, baik orangtuanya maupun Orangtua Meisya tidak menyetujui hubungannya. Karena ada permasalahan keluarga yang sudah terjadi jauh sebelum Meisya lahir.
Firman menghela nafas sejenak, mengingat kembali perasaan yang selama ini terpendam demi kedua belah pihak akhirnya dengan berat hati dia menerima keputusan ayahnya menjodohkannya dengan anak rekan kerja ayahnya. Yang sangat dia selali adalah dia tak pernah menemui Meisya sampai dia menikah bahkan untuk sebuah kata maaf saja dia tak pernah terucap.
Pernikahan yang awalnya dia pikir akan merubah perasaanya dan mengubur kisah asmaranya dengan Meisya ternyata hanya membawa luka.
Perempuan yang ayahnya jodohkan hanya perempuan tak bermoral. Dia bukan hanya berselingkuh tapi dia juga tega memanipulasi harta yang selama ini dia raih dengan kerja kerasnya. Bahkan dengan tega selingkuhan istrinya menabraknya hingga dia koma selama 1 Minggu, agar mereka bisa menerima berbagai asuransi dan tunjangan kalau sampai dia meninggal.
Astaghfirullah.... lirihnya.
Dia membuka laci nakas di pinggir ranjangnya dan mengambil dompetnya, di mana ada satu photo antara dirinya dan Meisya. Meisya memakai baju seragam putih abu nya waktu itu dia masih kelas 1, dan dirinya memakai baju kaos dan celana pendek. Dia ingat photo itu di ambil ketika dia liburan kuliah dan menjemput Meisya sepulang sekolah.
Dor dor dor
"A makan dulu kata ibu" Adik perempuan satu - satunya yang bernama Mayang memanggilnya.
"Iya neng, bentar." kata Firman sambil menyimpan dompetnya ke tempat semula
Firman membuka pintu kamar dan menuju ke ruang makan. Ada Ayah dan Ibu serta adiknya yang menunggu untuk sarapan.
"Iya yah.." jawabnya pelan
Dia mengambil nasi dan beberapa lauhan, tapi ketika makan rasanya sulit sekali untuk mencernanya, seakan menelan pil pahit. Dia berusaha untuk makan dan berusaha untuk tegar di hadapan orangtuanya.
Orangtuanya seakan menyesali keputusannya dulu menjodohkannya dengan perempuan itu. Bahkan sang ibu tak hentinya menitikkan air mata jika dia bertemu atau sekedar menelepon dan bertanya kabar. Ibunya orang yang paling rapuh kala dirinya sedang di landa susah. Istri berhianat, harta habis dan dia terbaring lemah di rumah sakit.
Firman menyudahi makannya dengan alasan sudah kenyang. Dia tak ingin membuat keluarganya khawatir dengan kondisinya saat ini. Dia berpamitan untuk masuk ke kamarnya dan istirahat.
#Ibu#
Air bening mulai turun dari pelupuk matanya tatkala anak pertamanya masuk kembali ke kamar.
Rasa sakit bahkan teramat sakit melihat kondisi anaknya. Anak yang dia kandung, yang dia rawat sedari kecil dengan penuh kasih sayang, di didik dan di besarkan dengan taruhan nyawa. Kini seakan tak bergairah menjalani hidup. Dia ingat kembali ketika anak lelakinya itu bangun dari komanya sambil terbata bilang.
"Bu, kalau aku menemui ajalku saat ini tolong sampaikan maafku pada Meisya."
Kalimat pertama yang dia ucapkan tatkala dia membuka mata dari komanya.
Dia terisak jika ingat itu semua, Pak Iskak suaminya mengusap bahunya saat dia melihat istrinya terisak.
Anak bungsunya yang masih kuliah semester pertama hanya menunduk sambil mengaduk - aduk makanan di depannya.