
Firman berhenti di sebuah mesjid megah di kota C, hari sudah sore. Dia berhenti untuk melaksanakan shalat Ashar.
Dia wudhu lalu masuk ke dalam mesjid. Setelah selesai dia menuju warung yang ada di depan mesjid. Untuk minum dan istirahat sejenak.
"Pak punten teh pucuknya 1 ya, yang dingin." Pintanya pada penjual warung.
"Ah mangga, ini cep teh nya." Penjual warung berkata sambil menyodorkan teh dan sedotan.
"Eh iya makasih pak, numpang duduk sebentar ya pak," Ucapnya lagi
"Mangga cep mangga." Jawab penjual warung
Firman meneguk minumannya, hampir setengah botol minuman itu pindah ke mulutnya, karena rasa haus yang menderanya.
Dia mengambil ponselnya, membuka kuncinya. Dia melihat ada 2 pesan di WhatsApp nya dari nomor baru.
Ternyata itu pesan balasan suratnya dari Meisya, dan pesan yang satunya adalah gambar tangan Meisya yang memakai cincin pemberiannya.
Dia tersenyum, membaca balasan surat dari Meisya. Dia juga senang Meisya mau mekai cincin pemberiannya.
Terimakasih untuk balasannya, terimakasih untuk pengertiannya, terimakasih untuk semangatnya.
Aa mau berangkat ke kota B sekarang lagi istirahat abis shalat Ashar di kota C. Minta doa dan supportnya agar aa semangat untuk berobat ya Mei.. biasanya suka semangat kalo di semangatin orang yang si sayang mah ππ
Iya cincinnya cantik di pakai sama jari lentiknya bidadari tak bersayap. Makin afdol deh. πππ
Firman pun kembali menyedot minumannya, sampai habis. Lama dia menunggu balasan dari Meisya tapi tak kunjung di balas.
Setelah dia membayar minuman dan hendak beranjak terdengar bunyi pesan di ponselnya.
Maaf a, aku juga abis shalat Ashar. Semangat untuk berobatnya semoga sehat seperti sedia kala lagi, jangan malas - malasan berobatnya, dengein kata dokternya, pantangannya juga di pantangin ya a, selamat perjalanannya hingga rumah.
Dikirim photo kirain photo aa, tahunya jalananππ
Firman membaca pesan yang di kirim dari Meisya sambil tersenyum. Sepele memang hany sebuah pesan tapi entah kenapa membuat dirinya yang tadinya pikirannya terasa berat seakan hilang terbang entah kemana. Dia berharap Allah menjadikannya penyempurna hidup dan ibadahnya.
ππ Kalau di kasih photo orangnya takut kabur kaya kemarin.
Aa jalan lagi ya, nanti udah sampai rumah di kabarin lagi. β€οΈβ€οΈ
Balasnya, dia langsung berjalan menuju depan mesjid dimana motor nya terparkir.
Diapun melajukan motornya menempuh perjalanan ke kota B.
Sementara di sebuah rumah sederhana, wanita cantik yang habis nerima pesan dari orang yang spesial di hatinya sedang senyum - senyum bahagia. Dia menatap cincin emas putih yang melekat di jarinya. Dia senang karena selama ini dugaannya benar. Firman menerima perjodohan itu karena tak mau melukai orang - orang di sekitarnya. Salah satunya mamahnya.
Walau mamahnya sekarang tidak pernah lagi menjodohkannya dengan lelaki lain tapi dia yakin jika mamahnya masih tak mau jika Firman menjadi menantunya.
Dia termenung mengingat itu semua, seolah taqdir baik tak pernah mau menyapanya. Berbeda jauh dari sang kakak Rima, ketika papah Ferdi sempat tak pernah mengurusinya, tapi ada ayahnya yang rela hati mengurus dan membiayai sekolahnya hingga tamat kuliah. Dan sekarang bekerja sebagai guru kini bahkan sudah PNS.
Sedangkan dirinya saat baru lulus SMP ayahnya meninggal, tinggal di kampung bersama nenek dari ibunya karena ibunya harus bekerja di kota J untuk membiayai sekolah dan kehidupannya.
Kakaknya menikah dengan orang yang dia cintai yang sama - sama tenaga pendidik dan sama - sama PNS pula sehingga sekarang kehidupannya bisa di kata mapan.