
Adzan maghrib berkumandang, Meisya sudah siap dengan mukenanya, dia berjalan menuju mesjid dekat rumahnya. Dia berjalan beriringan dengan orang - orang yang akan salat berjamaah.
Yang menjadi imam adalah Pak Iskak karena memang keluarga itu hampir rata-rata menjadi imam masjid di keluarganya.
Sekitar 1 jam setengah Meisya di masjid, selepas salat Isya Meisya pulang ke rumahnya. Seperti biasa dia membereskan mukena dan menyimpannya lalu berjalan untuk melihat eyangnya di kamar.
Ketika dia masuk ke dalam kamar terlihat eyangnya seperti sedang menahan sesak nafas dia lalu buru-buru menghampirinya.
"Yang eyang.. " Ucapnya
Tetapi Eyang Meisya tidak menjawab dia hanya melihat sambil meringis seolah menahan kesakitan.
"Ya Allah eyang, eyang kenapa?" tanya Malaysia sambil mengusap kepala eyangnya dia pun menangis
Dengan lelehan air mata dia lalu berjalan menuju kamarnya untuk mengambil ponsel. Dia akan menghubungi ibunya. Meisya ketakutan dia bingung harus berbuat apa melihat kondisi eyangnya seperti itu.
Dia mengambil ponsel lalu membuka laman WhatsApp dan melakukan video call kepada mamahnya sambil berjalan menuju kamar eyangnya. Dia duduk di pinggir eyangnya sambil menunggu jawaban dari mamahnya.
Halo Mei
Terdengar jawaban dari seberang telepon
Meisya buru-buru menekan tombol video ke arah eyangnya sambil berkata
Mah ini eyang kenapa dari tadi ditanya diem aja kayaknya yang kesakitan.
Ya Allah Mey itu kenapa Mei kok bisa begitu
Nggak tahu mah pulang dari masjid tahu-tahu eyang kayak begini tadi sebelum ke masjid nggak begini dia masih ngomong tapi sekarang ditanya nggak jawab
Mei coba keluar minta bantuan sama tetangga Mama mau menghubungi saudara biar pada kesitu Mey
Iya mah, Mei takut mah, gimana ini mah takut
Mei hendak keluar untuk minta pertolongan tapi dia bingung eyangnya di dalam sendirian akhirnya dia pun memberanikan diri untuk menelepon Firman
Assalamualaikum Mei
Waalaikumsalam a aku minta tolong bisa nggak ibu sama ayahnya Aa datang ke sini Eyang kok kayak gini ya
Firman melihat kondisi eyangnya Meisya dari video call dia juga mendengar tangisan Meisya tersedu-sedu
Iya Mei, yang tenang Ya nanti aa telepon ibu sama ayah suruh ke situ
Mei menutup telepon dia lalu ke dapur untuk mengambil air minum dia pun menuangkan air minum yang hangat lalu membawanya ke kamar eyangnya. Tangannya gemetaran ketika dia akan memberikan minuman untuk eyangnya entah kenapa kondisi Eyangnya sekarang malah diam seperti orang tertidur.
Dia pun buru-buru mengecek kondisi tubuh eyangnya memegang urat nadinya lalu menempelkan tangannya ke hidung eyangnya tapi ternyata Eyangnya masih hidup.
Tak lama ibu dan pak Iskak datang ke rumah dia lalu melihat kondisi eyangnya Meisya.
"Mei kita bawa ke rumah sakit aja, ya Mei bapak kan cari mobil."Ucap pak Iskak
Meisya mengangguk karena dia bingung harus berbuat apa dia juga takut sekali melihat kondisi eyangnya
Pak Iskak keluar untuk mencari mobil dan saudara-saudara yang mungkin dihubungi oleh mamanya Meisya pun mulai berdatangan melihat kondisi eyangnya Meisya
Ibu Firman mulai membereskan barang yang akan dibawa ke rumah sakit seperti bantal dan juga tikar dan ember.
Ketika mobil sudah siap salah seorang saudara yang hendak mengangkat tubuh Eyang Meisya merasa hembusan nafas eyang Meisya sudah tidak ada, dia lalu mengecek denyut nadi dan nafas untuk memastikan ternyata memang yang Meisya sudah tidak ada.
"Innalilahi wainnailaihi roji',un." Ucapnya
Semua orang menatap Pak Anto lalu mereka mengecek keadaan eyangnya Meisya dan ternyata memang sudah meninggal mendengar semua orang mengucapkan innalillahi Meisya langsung Pinsan.