
Hampir seminggu Meisya di Jakarta kerjanya hanya makan dan tidur serta main sama anak kakaknya.
Dia benar - benar bosan kalau di kampung entah sudah berapa potong baju yang dia jahit selama seminggu itu. Dia akhirnya memutuskan untuk bekerja, dan berharap mamahnya mau menyetujuinya.
"Maaah Mei mau kerja ya, bosen kalau di rumah terus." Ucapnya saat mereka lagi asyik nonton TV di rumah Rima.
Mamahnya menatap ke arah Meisya, dia sebenarnya gak rela kalau anaknya harus kerja karena dia berfikir masih sanggup untuk membiayai kebutuhan Meisya.
"Mau kerja apa?" Tanya mamahnya
"Mau ngelamar di toko - toko aja mah, paling pelayan toko sesuai dengan ijazah aku." Ucap Meisya
Ibu Kinan sedikit tercubit mendengar anaknya bicara seperti itu, seandainya saja dulu Meisya juga kuliah mungkin dia akan kerja layak seperti kakaknya Rima.
"Kita buka usaha aja Mei, mau?" Tanya Bu Kinan lagi
"Usaha apa mah?" Meisya malah balik bertanya
"Gak tahu, sesuai yang Mei bisa aja. Jahit mungkin." jawab ibunya
"Mendingan buka warung nasi aja mah, nanti mamah yang masak Mei yang ngelayanin." Ucap Rima memberikan ide
"Terus kerjaan mamah?" Tanya Bu Kinan
"Mendingan mamah keluar saja mah, buka usaha sendiri bareng sama Mei, kerja di orang salah dikit di cemberutin di omelin. Teteh gak tega dengernya mah." Ucap Rima dengan wajah sedih
"Kalau buka warung nasi dimana? soalnya kalau disini kayanya kurang pembelinya, kalau sewa tempat pasti mahal." Bu Kinan menimpali
"Kita semu patungan saja, mamah ada uang berapa, terus Mei dan nanti teteh juga bantuin. Buat sewa tempat dan modal lainnya, dari beli perabot sampai modal dagangnya." Ucap Rima
"Sewa tempat di depan jalan pasti mahal udah gitu tahunan." Ucap Meisya
"Kita cari - cari aja dulu siapa tahu ada yang murah, teteh akan minta bantuan papah." Ucap Rima
###
Sore itu pak Ferdi menemui orang yang hendak menyewakan kiosnya, dia ingin melihat kios dan tempatnya sesuai dengan keinginannya atau tidak. Ternyata
kiosnya berada di belakang kampus ternama di Jakarta dan di kelilingi kos - kosan di sekitarnya. Merasa cocok pak Ferdi pun membayar sewa kios tersebut tersebut untuk satu tahun. Setelah urusannya selesai pak Ferdi pun mengemudikan mobil nya untuk pulang tapi sebelumnya dia akan mampir ke rumah anak semata wayangnya.
"Assalamualaikum... " Ucap Pak Ferdi
"Waalaikum salam" Ucap orang - orang Yang
ada di dalam rumah kecuali Meisya karena dia sedang di kamar
"Kakek... Kakek..." Ucap Novita sambil berlari ke arah kakek ya.
"Aduuuh manjanya cucu kakek." Ucap pak Ferdi sambil duduk di kursi.
Matanya sekilas menatap Bu Kinan, perempuan yang selama ini masih saja mengisi hatinya meski mereka sudah bercerai puluhan tahun lalu.
"Pulang kerja langsung kesini pah"? tanya Rima sambil menyuguhkan minuman untuk papahnya.
"Mau ngasih ini, (sambil memberikan kwitansi pembayaran sewa kios). Sudah di bayar buat satu tahun, tempatnya sangat cocok kalau buat warung nasi, berada di belakang kampus dan sekelilingnya kos - kosan." Jawab pak Ferdi
Bu Kinan yang sedang di ruang tamu langsung melirik ke arah mantan suaminya, apa yang dimaksud itu kios untuk jualan saya dan Mei batinnya.
"Alhamdulillah sudah dapat tempatnya, berarti tinggal beli perabot dan lain - lain serta membereskan tempatnya ya. Uang sewanya nanti teteh ganti di transfer ke rekening papah ya." Ucap Rima
"Jangan... jangan di ganti. Biarin aja, itu papah anggap buat modalin Mei, dia mau buka usaha kita selaku keluarga harus mendukungnya." Ucap ka Ferdi
Sementara Rima melirik ke mamahnya, dia tahu maksud papahnya adalah ingin mengambil hati mamahnya walau tak pernah berhasil.