Write Love On The Sky

Write Love On The Sky
Terima Kasih



Kini firman dan Meisya sedang asyik duduk sambil menantikan hidangan yang mereka pesan ini adalah tempat kedua mereka mengenang kisahnya dahulu. Setelah pesanan mereka datang mereka pun akhirnya makan. Di sini mereka dulu sering janjian ketemu sebelum pulang ke rumah setelah jam sekolah.


Mereka makan dengan suasana hening, karena sejak dulu Firman sangat melarang makan dengan bersuara. Menikmati makanan di sore hari bersama orang yang di sayang membuat Meisya menikmati makanannya dengan lahap. Dia merasa sangat lapar, tadi di danau dia hanya makan cemilan saja. Hingga akhirnya makanan pun habis. Mereka kini kembali ngobrol.


"Masih makanan favorit nggak?" Tanya Firman


"Iya a." Jawab Meisya sambil menahan malu


"Rasanya juga masih enak ya Mei, padahal yang jualan sekarang cucunya, karena yang punya kedai udah meninggal." Ucap Firman


"Iya katanya, beberapa tahun ke belakang saya pernah kesini sama teteh dan mamah yang punya kedainya bercerita, sekarang yang jualan cucunya." Ucap Meisya


"Jalan lagi yu." Ajak Firman


Mereka lalu berjalan beriringan menikmati cuaca di sore hari, tanpa bersentuhan tangan mereka terlihat serasi.


"Mei jangan lupain aa ya kalau di Jakarta." Ucap Firman


Meisya tersenyum menanggapi ucapan Firman uang terdengar absurd itu. Bagaimana bisa lupa akan dirinya sedangkan bertahun - tahun dia menyimpan perasaannya dalam dia. Menyebutkan nama Firman di setiap do'anya.


Melihat Meisya yang cuma tersenyum Firman merasa gemas.


"Bidadari surganya aa sekarang makin cantik ya. Makin Solehah, jadinya makin sayang." Ucap Firman


"Rayuan kardus? Ucap Meisya


"Ko kardus?" Tanya Firman


"Iya kardus, terlihat kokoh tapi kena air dikit aja melempem, gak kuat." Ucap Meisya


"Ko gitu, berarti Mei berpikir perasaan Aa bohongan ya." Ucap Firman sambil merengut


Firman semakin memanyunkan bibirnya, dia kesal akan ucapan Meisya.


"Dih ngambek, gak inget umur banget sih a." Ucap Meisya lagi sambil tergelak.


Melihat Meisya tergelak Firman tersenyum dia senang karena Meisya sudah kembali seperti dulu, sudah mulai tidak canggung lagi dan dia berharap bisa menerimanya kembali sama seperti dahulu.


Melihat Firman tersenyum mesia menghentikan tawanya dia merasa malu.


"Kenapa berhenti ketawanya, suka aa melihatnya, sudah lama aa tak melihat tawa Mei lagi." Ucap Firman


Meisya menundukkan kepalanya dia benar-benar malu karena kebablasan tertawa, wajahnya terlihat seperti kepiting rebus menahan malu.


"Mau naik ayunan nggak?" tanya Firman karena merasa Susana canggung mulai menyelimuti


"Boleh, hayu.." Ajak Meisya


Meisya lalu naik ke ayunan dengan penuh hati-hati karena dia takut tercebur ke dalam kolam, sementara Firman dia mengayun-ayunkan ayunan yang dinaiki oleh Meisya lalu dia mengambil ponselnya untuk memphoto Meisya.



Firman tersenyum saat melihat hasil jepretannya terlihat sangat cantik yang sedang duduk di atas ayunan dan di bawahnya terlihat ikan-ikan mengelilingi sekitaran kakinya.


Terlihat senyum Meisya begitu mengembang dan sesekali kakinya dia suruh kan ke dalam air. Dia merasa bahagia, kesedihan selama ini dia pendam sirna begitu saja. Sama halnya seperti Meisya, Firman pun merasakan hal yang sama. Dia tak lepas matanya dari wajah Meisya yang sedang tersenyum. Dia senang Meisya mau di ajak jalan mengenang masa lalu mereka dulu.


" Terimakasih ya Allah, hamba masih di kasih kesempatan melihat senyum manisnya." Batin Firman dengan mata berkaca - kaca.


Waktu sudah mulai sore Firman mengajak Meisya untuk ke mesjid terlebih dahulu melaksanakan salat ashar dan setelah itu barulah mereka melanjutkan kembali jalan - jalannya.