
Papah Ferdi tak membedakan antara dirinya dengan Rima, dengan alasan dulu Rima juga di perlakukan baik oleh ayahnya. Dia tahu papah Ferdi masih mengharapkan ibunya. Tapi ibunya selalu menolak karena trauma dimasa lalunya.
Tok Tok Tok
Suara pintu rumahnya di ketok dari luar. Meisya pin bangun dari ranjangnya dan menuju pintu depan.
ceklek...
"Teh Mei maaf, ini ada titipan dari aa, ia juga berpesan katanya MAAF." Ucap Mayang sambil menyodorkan ampop
"Oh iya, makasih. Mau masuk dulu neng main?" Tawar Meisya
"Gak teh, aku mau berangkat ke K besok harus masuk kuliah. " jawabnya
"Owh gitu, ya udah atuh ati - ati aja di jalan neng." Ucap Meisya
"Iya teh, pamit ya teh." Ucap Mayang sambil menyodorkan tangan dan mereka pun bersalaman.
Setelah Mayang pergi Meisya kembali ke kamar dan membuka amplop dari Mayang, ternyata isinya surat dari Firman
^^^Dear Mei...^^^
Assalamualaikum Bidadari tak bersayap
Aa sadar kalau aa salah, mungkin kata maaf aja belum cukup buat kamu maafin kesalahan aa, mungkin apa yang aa lakukan sama kamu ini terlalu fatal buat kamu, tapi satu hal yang kamu tau bahwa yang aa lakuin diluar kuasa aa.
Aa tau mungkin berat buat kamu maafin aa dan aa pun sadar kata maaf aja ga cukup untuk menghilangkan rasa kesal dan kecewa di hatimu.
Mungkin kamu juga mengerti dengan kondisi hubungan kita, dilanjutin ada beberapa orang yang kita cintai yang terluka, jika tidak berlanjut hati kita justru yang terluka.
Maaf kan aa yang mungkin kurang berjuang demi hubungan kita. Berharap aa mendapat kesempatan untuk membuktikan bahwa aa bisa menjadi seseorang yang berharga untukmu, walau kecil kemungkinan.
Mei aa harap cincin ini di pake ya, anggap buat kenang - kenangan, bukan sebagai beban di hati karena ada maksud tertentu. Murni aa kasih sebagai kenangan. Gak berharap lebih. Karena aa sadar dengan status aa yang sekarang.
Aa minta maaf yang sebesar - besarnya atas janji yang tidak di tepati, terimakasih telah menjadi bagian dari hidupku. Tetaplah menjadi bidadari tak bersayap.
Jika berkenan balaslah ke WA aa 0812****1234
Firman Abadi
Air matanya tumpah seketika, tinta dari surat itu agak pudar karena airmatanya. Orang yang di cintainya itu tak tahu, kalau dia sangat rindu akan kebersamaannya. Tapi dia juga sama seperti Firman tak bisa berbuat apa - apa. Hanya melalui do'a lah dia mengadu pada pemilik hati.
Diambilnya ponselnya dan mencatat nomor yang tertera di surat. Dia bingung harus menulis apa.
Berkali kali dia menulis, tapi di hapus lagi. Dia bingung harus menulis apa, tapi dia harus membalas surat itu, Karen ia yakin Firman pasti akan tambah merasa bersalah kalau tidak di balas.
Dear A Firman
Waalaikum salam Akhi Akhmar
Bagaimana aku bisa memaafkan sedangkan aa gak salah, yang aa lakukan hanyalah menjalani taqdir dariNya, yang awal datangnya melalui kedua orangtua aa. Seperti kata aa manusia cuma bisa berencana. Jangan menyalahkan diri sendiri apalagi menyalahkan orang - orang yang sudah begitu tulus menyayangi kita.
Jika memang kita di taqdirkan bersama biarlah Allah yang menuntun taqdirNya untuk kita bersama. Tanpa harus menyakiti dan melukai orang - orang yang menyayangi kita. Dan jika kita di taqdirkan tidak bersama kita berharap semoga Allah memberikan yang terbaik untuk kehidupan kita a.
Fighting a, sehat selalu dan semoga Allah senantiasa melindungi kita.
Terima kasih cincinna, cantik pas di pake a.
02 Januari 19**