Write Love On The Sky

Write Love On The Sky
Bagaimana Nasib Aku



Malam itu di rumah Meisya mulai berdatangan orang, karena mendengar kabar meninggalnya eyang Mesiya. Meisya yang dari tadi pinsan sudah mulai sadar, dia nangis tersedu - sedu atas kepergian eyang tercintanya. Tak di sangka enyangnya akan pergi secepat itu.


"Mei hubungi mamah nak, kalau eyang sudah pergi." Ucap ibu Firman


Mesiya mulai membuka laman hijau di ponselnya, untuk mengabari mamahnya.


Iya Mei, gimana eyang? Mamah udah siap - siap mau pulang ini.


Mei... Mei...


Hallo Mei... Mei...


Suara mamahnya terdengar bertanya keadaan eyang, tapi Mesiya susah untuk mengatakan yang sebenarnya, lidahnya terasa kelu saat akan mengatakan keadaan eyang saat ini.


Melihat Meisya uang tak sanggup untuk mengatakan kalau eyangnya sudah tiada kepada mamahnya, akhirnya salah satu tetangga mengambil ponsel Mesiya.


Assalamualaikum Bu Kinan, eyang sudah tiada, cepatlah pulang. Meisya masih shock atas kepergian eyangnya.


Innalillahi wainnailaihi rojiun...


Terdengar Isak tangis suara mamah Mesiya mendengar kabar atas meninggal ibunya.


"Bangun Mei, ngaji yu." Ajak ibu Firman


Akhirnya Mesiya pun bangun, dia mengambil air wudhu lalu mengaji di depan jasad eyangnya bersama dengan pelayar lainnya.


Sementara itu ibu dan bapak nya Firman ikut sibuk di rumah Mesiya mempersiapkan kebutuhan - kebutuhan untuk memandikan jenazah, untuk mensholatkan serta penguburan, di bantu oleh tetangga dan saudara dari ibunya Mesiya, mengingat di rumah itu Mesiya sendiri karena ibunya masih dalam perjalanan.


#


Paginya jenazah sudah siap untuk di semayamkan, keluarga mengantar eyang hingga peristirahatan terakhir. Mesiya tak ikut pergi ke makam dia membaringkan tubuhnya di atas ranjang, badannya lemas sehingga ia mengikuti saran dari para tetangga untuk tidak ikut ke pemakaman.


Mesiya masih ingat nasehat eyangnya yang terakhir kali, agar ia dan mamahnya berdamai. Sesungguhnya ia tidak membenci mamahnya sama sekali, tapi mungkin karena kekecewaan terhadap mamahnya sehingga dia lebih memilih untuk diam jika bertemu mamahnya.


Suasana duka masih menyelimuti keluarga Meisya atas kepergian eyang, para tetangga membujuk agar dia makan, tapi dia selalu menolaknya.


Menjelang siang yang para pelayat mulai meninggalkan rumah duka sehingga tinggal keluarga Meisya yang ada di rumah itu.


Mei makan ya...


Ucap ibunya saat masuk ke kamar Meisya sambil membawa nasi beserta lauk pauk dan juga air minum.


"Makan Mei sedikit juga enggak apa-apa, isi perut kamu Mei, ikhlaskan kepergian eyang Mei kasihan dia pasti tidak tenang kalau kamu terus-terusan bersedih seperti ini." ucapnya lagi saat melihat Meisya hanya memandanginya tanpa bersuara.


Meisya bangun dan menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang lalu dia mengambil piring yang berisi nasi.


Dia pun lalu menyuapkan makanan walau terasa tidak enak tapi dia mengunyah nya sedikit demi sedikit.


"Mah eyang udah nggak ada bagaimana nasib Indonesia sekarang?" tanya Mesiya dia tak tahan air matanya terus bercucuran.


"Kamu nggak usah khawatir Mei kamu bisa ikut mama ke Jakarta" Jawab ibu Mesiya sambil mengusap air mata Meisya.


"Tapi.... tapi Mesiya maunya disini mah" Jawab Mesiya sambil menundukkan kepalanya


Ibu Kinanti mengusap Puncak kepala Meisya dengan penuh kasih sayang.


"Ikut mamah saja ya Mei, mamah gak akan pernah lagi menjodohkan kamu dengan siapapun. Mamah minta maaf ya." Ucapnya lirih