
Firman masih asyik dengan lamunannya. Dia seolah males jika harus bangun dari tempat ternyamanya yaitu ranjang.
Karena gak ada tujuan lain dia siang ini rencananya mau kembali ke kota B. Tempatnya mengais rezeki. Dia sekarang harus berjuang lagi dari nol, rumah dan mobil di jual oleh mantan istrinya. Sekarang dia hanya punya motor cicilan dan rumah juga ngontrak.
Setelah shalat Dzuhur dia bersiap - siap untuk berangkat. Dia menghampiri Ayah dan ibunya yang baru pulang dari kebun, ada adik bungsunya yang sedang memberikan minuman hangat untuk orangtuanya.
"Aa mau minum? " Tawar adiknya
"Gak usah neng ah, Aa udh makan takut kekenyangan tar di jalan ngantuk. " jawab Firman
"Jam berapa a berangkat?" Sambung ibunya
"Sekarang Bu, Iman pamit ya bu, ayah." Ucapnya
"Gak nemuin dulu Meisya a?" tanya sang ayah sambil menatapnya
"Mei nya gak mau ketemua Iman yah, kemarin udah sempat ketemu tapi Meinya lari."Jawabnya sendu
"Apa ayah yang harus ngomong a?" Tanyanya lagi.
"Gak usah yah, kalau mau sampaikan maaf saja dari Iman, bagi Iman udah dimaafin aja udah lega yah, kalau untuk kembali Iman kayanya terlalu muluk yah, Iman juga malu dan tahu diri, nanti pasti orang - orang beranggapan karena sekarang Iman gak punya apa - apa makanya mau balik ke Mei, dan juga status Iman sekarang Duda, Mei pasti mikir lagi."Firman berkata sambil mata berkaca - kaca.
Pak Iskak hanya menganggukan kepalanya, Firman bersalaman dengan kedua orangtuanya. Dan menuntun tangan adiknya menjauh dari orangtuanya.
"Neng aa nitip ini buat teh Mei, sampaikan maaf aa ya neng." Ucap Firman sambil memberikan amplop ke adiknya.
"Hee... aa gak punya nomornya Mei neng. Aa pamit ya neng. Jaga diri ya." Ucapnya
Mereka bersalaman, tak lama ayah dan ibunya juga ke depan untuk melepas anak pertamanya kembali ke kota B.
Dengan mengendarai sepeda motor Firman kembali ke kota B.
Tanpa mereka ketahui ada seorang gadis yang mengintip di balik tirai jendela kamarnya.
"Hati - hati a di jalan."Lirihnya
Dia pun kembali tiduran di atas ranjang.
#Meisya#
Firman Abadi, nama aslinya. Jika dia mempertahankan egonya ada orang yang amat tersakiti yaitu ibunya. Ibunya pernah memohon kepadanya boleh menikah dengan siapapun asal tidak dengan orang yang satu itu.
Walau sakit karena di tinggal nikah, tapi dia tahu alasan nya kenapa Firman tega menikah dengan wanita yang di pilihkan orang tuanya. Ketika mendengar mantan kekasihnya gagal dalam pernikahannya, hartanya juga terkuras habis, serta dirinya juga koma di rumah sakit, mungkin tidak ada orang yang tahu kalau dia juga ikut terluka.
Bahkan ketika Firman terbaring di rumah sakit dan ke kurangan darah dia langsung pergi ke kota B, tak ada yang tahu kalau dia sempat mendonorkan darahnya karena golongan darahnya dan golongan darah Firman sama. Hanya satu orang yang tahu kalau dia mendonorkan darahnya karena prosesnya orang itu pulang yang membantunya. Dia adalah Ferdi, ayah dari kakaknya, dan mantan suami ibunya, paman dari Firman.
Dengan bantuan papah Ferdi dia ke kota B, dan semua biaya keberangkatannya hingga dia pulang kembali ke kampung di tanggung oleh papah Ferdi.
Papah dari kakaknya Rima, dia orang yang mensupportnya kala dia sedang di landa susah, bahkan ketika ia kabur dari rumahnya dan Pinsan di jalanan, orang yang menjemputnya dari RS pun papah Ferdi.