Write Love On The Sky

Write Love On The Sky
Ke Jakarta



Jumat siang ba'da salat Jumat warung nasi Ibu Kinanti dan juga Meisya terlihat sangat ramai pengunjung meski hari itu adalah tanggal merah. Ternyata mereka adalah orang-orang yang sedang mengantri pembagian nasi Jumat berkah. Kurang lebih satu jam makanan pun habis tanpa sisa, Meisya dan Bu Kinan selonjoran depan ruang tv kamar atas, karena merasakan pegal setelah melayani orang-orang yang berkunjung ke warung nasinya.


Mereka menutup warung nasinya meskipun masih siang, karena para mahasiswa dan karyawan yang kos dan juga yang biasa melakukan aktivitas hampir rata-rata pulang mengingat libur panjang. Ditambah rencananya Ibu Kinan dan Meisya setelah istirahat akan pergi ke rumah Rima Karena disana Sudah ada Firman yang sudah jauh jauh datang dari Bandung untuk menemui Meisya. setelah istirahat kurang lebih jam Mereka pun bersiap-siap untuk pergi ke rumah Rima.


Saat mereka turun dari lantai atas hendak menuju ke rumah Rima ternyata di depan kios sudah ada Pak Ferdi yang menunggu mereka.


"Loh papah udah lama?" Tanya Meisya


"Baru Dateng, sudah siap? ayo..." Ucap pak Ferdi sambil melirik mantan istrinya


Mereka berdua lalu naik ke mobil Pak Pardi Pak Pardi dengan sikap membawakan barang yang berisi makanan untuk mereka makan di rumah Rima.


"Mei, aa Firman udah pegal tuh nungguin dari tadi." ucap pak Ferdi becanda


"Massaaaaa.... "Ucap Meisya sambil mendelik


"Iya... dia udah gak sabar ketemu, Mei kalau di ajak nikah sama a Firman mau gak?" Tanya pak Ferdi sambil menatap ibu Kinan


"Eheeem... ish aneh masa nanya mau engganya nya di nikahin a Firman tapi matanya ke mamah, bilang aja pengen balikan.." Jawab Meisya meledek mamahnya dan pak Ferdi


"Cieeee neng Kinan... hahahahahahah" Jawab Meisya


Sementara itu yang di lirik oleh keduanya tak menggubris sama sekali, dia asyik dengan ponselnya pura - pura tak mendengar, Meisya langsung mencolek mamahnya.


"Maaah yang ngelamar malah cuek bebek." Ucap Meisya


"Yang harusnya menikah itu kamu Mei bukan mamah, mana mungkin mamah nikah lagi sementara kamu gak ada niatan untuk nikah." Jawab Bu Kinan


"Bukan gak ada niatan, tapi nunggu restu ya Mei, justru calon mah sudah di depan mata." Ucap pak Ferdi


"Kalau memang baik dan mau menerima Meisya dengan segala kekurangan dan kelebihannya saya sih setuju saja, asal tidak untuk di sakiti. Karena tidak ada seorang ibu yang ingin melihat anaknya menderita. Apalagi hanya karena harta dan jabatan nanti sampai Meisya sampai di sakiti. Karena memang kami bukan orang berada, cukup saya yang pernah mengalaminya jangan sampai di anak dan cucu saya. Di tinggalkan oleh suami dalam keadaan perut buncit, di cerai tanpa ada kesalahan. Melahirkan anak tanpa seorang ayah. Hanya karena saya orang tidak mampu, dan juga tidak berpendidikan." Ucap Bu Kinan


Mendengar ucapan Bu Kinan sontak pak Ferdi dan Meisya terdiam. Bu Kinan mengeluarkan kata - katanya dengan lantang. Mengungkit semua perlakuan pak Ferdi dulu, sakit rasanya pak Ferdi mendengar semua ucapan Bu Kinan. Tapi mau gimana nasi sudah menjadi bubur. Semuanya sudah berlalu, dia cuma berharap Bu Kinan mau di ajak kembali balikan sehingga dia bisa membuktikan perasaan dan mengurangi penyesalannya atas sikapnya di masa lalu. Tapi sampai detik ini Bu Kinan selalu menolak nya.


"Maaf Kinan, jika saya menyakiti kamu. Sudah jelas alasannya kamu juga tahu kenapa. Tapi untuk masalah Meisya dan Firman, Insya Allah tak akan mengalami seperti yang kamu rasakan dulu." Ucap pak Ferdi


Semua terdiam setelah pak Ferdi berbicara, Meisya yang dari tadi mendengar percakapan antara ayah dari kakaknya dan mamahnya hanya terdiam sambil memainkan ponselnya, hingga tak terasa mereka sampai di rumah Rima.