
Sekitar jam 9 pagi Meisya bersama Rini menuju ke rumah Firman sesuai dengan amanat ibunya Firman kalau Meisya disuruh datang untuk membantu di acara selamatannya di rumah Ibu Firman.
Sebenarnya Meisya canggung untuk datang ke rumah itu kembali terakhir dia ke rumah itu waktu Firman belum menikah dia mengembalikan buku ke neng adiknya Firman
Kedatangan Meisya disambut oleh ibunya Firman ya begitu senang melihat Meisya mau datang ke rumah itu kembali, walau terlihat canggung dari bahasa tubuhnya. Ibu Firman memaklumi, agar tidak merasa canggung Ibu Firman lalu mengajak meja ke dapur untuk membantu memasak di dapur dalam rangka selamatan kesehatan Firman yang acaranya akan dilaksanakan nanti sore selepas salat ashar.
Untuk beberapa saat Meisya yang terlihat canggung mulai terbiasa apalagi ibunya Firman memperlakukannya seperti kepada anaknya sendiri mereka bekerja sambil sesekali mengobrol dan tertawa bahkan ibunya Firman tak ragu untuk memberikan nasihat-nasihat kecil untuk Meisya agar Meisya tidak canggung lagi kepada keluarganya
Pada saat mereka asyik di dapur di luar rumah ada yang mengetuk pintu.
Ibu Firman bergegas keluar untuk melihat siapa yang datang.
Ternyata yang datang Ibu mertuanya atau neneknya Firman dari ayahnya yang bernama Eyang Heti.
Eyang Heti kaget ketika ternyata di dapur sudah ada Meisya.
"Ada neng Meisya ternyata, sehat neng? tanyanya dengan nada yang sumringah
"Alhamdulillah sehat eyang, eyang juga gimana kabarnya sehat? Meisya menjawab dan kembali bertanya sambil mengulurkan tangan untuk berjabatan tangan.
Mereka pun akhirnya bersalaman. Walau terlihat Meisya sedikit gugup dan tegang tapi akhirnya dia bisa menyesuaikan dengan orang-orang yang ada di rumah itu.
Waktu tak terasa bergulir, kini memasuki waktu untuk salat dhuhur karena yang dikerjakan tinggal sedikit lagi Mei pun pamit untuk pulang, untuk shalat dan untuk makan siang tetapi ibunya Firman melarang pulang dia menyarankan untuk shalat dan makan di rumah tetapi Meisya menolak karena dia harus menyiapkan makanan untuk eyangnya yang sedang sakit di rumahnya.
Ibu Firman pun tidak bisa mencegahnya karena memang Meisya harus mengurus eyangnya yang sedang sakit di rumahnya.
Ibu Firman memberikan beberapa makanan yang ia buat untuk Mei dan neneknya. Karena melihat pekerjaan yang sudah hampir rampung dia berfikir pasti Meisya tidak akan mau kembali lagi ke rumah itu.
"Nggak apa-apa neng bawa, orang ini masih banyak banget pasti lebihan." Jawab Ibu Firman
"Bawa neng biar nanti di rumah nggak usah masak sampai sore." kata Eyang Heti
"Ibu, eyang makasih ya, Mei pamit assalamualaikum." Ucap Mesiya pamitan
"Waalaikumsalam sahut" Ibu dan Eyang Firman
Meisya pun pulang kerumah yang hanya terhalang oleh dua rumah saja.
Sampai rumah Meisya membuka makanan yang diberikan oleh ibu Firman dia berniat untuk memberikan makanan tersebut kepada eyangnya.
Meisya pun masuk ke kamar eyangnya dan terlihat eyangnya sedang tidur sambil memegang tasbih.
yang ini ada makanan makan dulu ya minumnya mau mandi
Eyangnya membuka mata lalu tersenyum kearah Meisya
"Mei sini duduk dekat eyang." Ucapnya
"Ada apa yang? tanya Mesiya sambil duduk di sisi ranjang
"Eyang cuman mau berpesan, suatu saat nanti kalau misalnya eyang sudah pergi meninggalkan dunia, eyang minta kamu tinggallah bersama mamah kamu." Ucap eyangnya sambil menatap Mesiya