
Mesiya berjalan menuju kamarnya, dia meletakkan obat di nakas. Lalu keluar menenteng kantong plastik ke dapur. Dia mengambil pisau lalu memotong kue brownies kesukaanya itu. Tak lupa sebelum dimakan d photo dulu. Lalu di kirim ke mantan terβ€οΈ.
Meisya :
Terimakasih a untuk obat dan kuenya, kuenya sedang di nikmati... Ternyata rasa kuenya masih sama. Walau yang ngasih sekarang statusnya berbeda πππ
Firman terkekeh membaca pesan singkat dari mantan pacarnya itu.
Firman : Dulu waktu beli masih perjaka, sekarang beliin lagi udah duda... πππ
Meisya : Eh maaf maaf... bukan gitu maksudnya, dulu masih pacar Mei, sekarang udah mantan. Ish jangan baper dong ah... kaya Abege aja labil. Inget umur dong a
Mei mengirim pesan dengan cepat dia merasa tak enak hati, takut Firman tersinggung. Sungguh dia tak berfikir seperti yang di tuduhkan Firman.
Firman : Gak Mei, aa becanda. Aa tahu Mei gak maksud nyinggung. Jadi gak ada yang harus di maafkan
Meisya : Kirain.... A aku minum obat dulu ya..
Firman : Oke nanti kalau udah kita video call. Boleh?
Meisya : Nanti aku VC a. Assalamualaikum
Firman : Wa Alaikum salam
Setelah berkirim pesan Meisya menyimpan kue ke dalam lemari pendingin, dia lalu mengambil minum di gelas dan membawanya ke kamar. Dia mengolesi keningnya yang agak benjol lalu meminum obat.
Setelah semua urusan obat selesai di merebahkan badannya di kasur sambil memainkan ponsel. Dia ragu untuk menelpon Firman. Tapi dia sudah janji mau Video call. Akhirnya dia membuka aplikasi laman hijau tersebut dan mendial nomor mantan terβ€οΈ tapi tak lama dia lalu mematikan panggialnnya. Karena jantungnya tiba - tiba deg-degan tak karuan.
Tak lama ponselnya berdering, dia menghela nafas sebelum menjawab panggilan dari Firman.
Assalamualaikum Mei...
Ucap Firman sambil tersenyum
Waalaikum salam aa...
Mesiya menjawab dengan malu - malu keliatan banget mukanya merah
Firman terkekeh geli melihat Meisya, dari dulu mantan kekasihnya itu selalu saja pemalu. Ah dia sungguh rindu akan masa masa dulu.
Hening untuk beberapa saat, hanya ada helaan nafas mereka. Seolah bingung harus bicara apa.
Mei...
Iya a
Maaf aa ya, aa selalu merasa bersalah.
Sudah a gak usah di bahas. Takdir kita gak ada yang tahu.
Iya, besok mau ketemu gak?
Mau apa a?
Ya ngobrol atau apa gitu, bingung kalau di tanya mau apa Mei
Gak enak a, sama yang lainnya. nanti orang berfikir kita ada hubungan a.
Mau ngobrol doang gak boleh Mei, lalu kapan kita bisa ke pelaminan..
Biarlah Allah menuntun jalan jodoh untuk kita jika memang taqdir kita berjodoh.
Tak terasa cairan bening mulai turun dari mata Meisya.
Firman menghela nafas. Menatap wajah Meisya dengan sendu. Dia juga sedih dengan kisah asmaranya yang rumit.
Jangan nangis lagi, nanti cantiknya hilang.
Firman mencoba mengajak Meisya untuk becanda.
A kemungkinan aku ikut mamah ke Jakarta
Kapan berangkatnya?
Gak tahu a, tapi mungkin aku nanti nyusul aja, gak ikut berangkatan sekarang ini. Karena harus pamit sama anak - anak di madrasah dan menyelesaikan jahitan yang belum rampung. Kemungkinan bulan depan.
Kalau Mei di Jakarta boleh ya aa ke Jakarta
He... emang berani?
Insya Allah Mei
Ya udah, terserah aja.
Hingga larut malam mereka asyik ngobrol tanpa Meisya sadari di depan pintu kamarnya mamahnya mendengarkan percakapan antara dirinya dan Firman, hingga Bu Kinan berlinang air mata.