
Sebulan sudah Meisya ditinggal ke Jakarta oleh ibunya dia selama sebulan itu tinggal sendirian karena dia harus menyelesaikan beberapa jahitan yang belum diselesaikan dan juga rencananya dia mau pamitan kepada anak didiknya.
Hampir setiap hari manusia berkomunikasi dengan firman walau belum ada kejelasan tentang hubungannya tetapi mereka masih berkomunikasi dengan lancar.
Pagi ini rencananya Meisya akan pergi ke Jakarta dengan menaiki bus, dia merasa sedih harus meninggalkan rumah kesayangannya. Walau sederhana tapi dia merasa nyaman. Kalau dia tidak ingat nasihat eyangnya sebenarnya dia enggan ikut mamahnya. Karena di Jakarta Mei bingung harus kerja apa, d tambah pendidikannya cuma tamatan SMK.
Dia ke terminal di antar pak Iskak, tadi pagi sehabis shalat subuh ibunya Firman mengabari kalau pak Iskak akan mengantarnya ke terminal. Ada rasa haru menyelimuti dirinya, keluarga Firman sekarang baik sekali, semenjak mamahnya berangkat ke Jakarta ibunya Firman hampir setiap hari menengok dirinya ke rumah. Bahkan menawarinya untuk menginap di rumahnya karena Meisya sendiri di rumah.
Jam 7 Meisya dan pak Iskak sampai di terminal, pak Iskak membawakan tas Meisya ke bis. Dia juga membelikan tiket bus. Meisya menolak tetapi pak Iskak maksa untuk membelikannya tiket. Meisya menyalami pak Iskak saat bus sudah hendak jalan.
Meisya duduk di dekat jendela terdengar ponselnya berdering.
Meisya : assalamualaikum mah...
Mamah : Waalaikum salam, Mei udah jalan belum?
Meisya : ini baru jalan mah
Mamah : Hati - hati di jalan ya Mei
Meisya : iya mah...
Mamah : Assalamualaikum
Meisya : Waalikum dalam
Meisya menyimpan kembali ponselnya ke tas kecilnya baru saja dia menutup tas kecilnya tiba-tiba ponselnya kembali berdering, smash ya pikir mamahnya menelpon lagi tetapi setelah dilihat nama pemain gaulnya ternyata itu dari Firman.
Meisya : Assalamualaikum
Firman : Waalikum salam, bidadari tak bersayap. (Firman menjawab salam sambil tersenyum.)
Meisya : Ada apa A
Meisya : Iya udah A, tadi ke terminalnya diantar sama bapaknya.
Firman : cie yang diantar camer..
Meisya : Ih apaan sih aa ngeledek mulu ya
Firman : Aminin dong, setiap ucapan itu adalah doa loh. Siapa tahu memang kita jodoh. Aamiiin
Mesiya : Aamiiin ( sambil menunduk menyembunyikan wajahnya yang merona karena malu)
Firman : diiih ada yang malu kayaknya, ya udah deh hati-hati ya di jalannya nanti telepon lagi soalnya Aa udah mau masuk kelas. Assalamualaikum...
Meisya : Waalaikum salam
Meisya menutup ponselnya dan menyimpannya kembali ke tas kecil dia lalu memejamkan matanya walau sebenarnya dia tidak ngantuk.
Pukul 13 lebih Meisya sampai terminal dia sudah mengabari kakaknya yang akan menjemputnya di terminal dia lalu keluar dari mobil dan menuju ke jalan raya.
Kini mereka sudah ada di dalam mobil hari itu ibu kan nanti rencananya akan mengajak keluarganya untuk makan di luar sebentar sebelum kembali ke rumah. Mereka sampai di rumah makan khas sunda. Karena Meisya belum shalat sambil menunggu hidangan Meisya pun salat zuhur terlebih dahulu.
Saat ini saya sedang salat ponselnya terus-terusan berbunyi kakaknya ngangkat teleponnya telepon dia ganti menjadi video call.
"Assalamualaikum Mei... Loh ko gak ada mukanya mana... Mei..
Ucap Firman di seberang telepon Rima yang iseng terkekeh lalu membalikkan arah video call ke arahnya,
"Meisyanya lagi shalat A." Ucap Rima
"Udah sampai ya, udah kumpul deh syukur, kalau sampai dengan selamat sampaikan aja salam buat Meisya ya Assalamualaikum." Jawab Firman sambil tersenyum
"Waalikum salam." Ucap Rima