
Tak terasa eyang meninggal sudah 7 hari, keluarga Meisya disibukkan untuk acara tujuh hari eyangnya.
Sudah menjadi tradisi di kampungnya jika acara 7 hari di tutup dengan pengajian atau tahlil.
Malam itu selepas Isya warga berkumpul untuk tahlilan 7 hari Eyang Meisya di rumahnya.
Firman yang baru datang siang tadi pun dia juga datang untuk tahlilan di rumah eyangnya Meisya.Dia mendapat kabar eyangnya Meisya meninggal saat jenazah sudah dikuburkan maka dari itu dia tidak langsung pulang karena jenazah sudah dikubur dan juga jarak yang lumayan jauh ditambah dia juga terikat akan pekerjaannya. Makanya dia memutuskan untuk melayat ketika 7 harinya meninggal.
Saat tiba di rumah Meisya Firman bersamaan dengan warga sekitar lalu dia pun menemui keluarga Meisya untuk mengucapkan bela sungkawa.
Firman mengucapkan bela sungkawa kepada keluarga Meisya dan dia disambut oleh sepupu dari ibu Kinanti sambil menyerahkan amplop takziah kepada Pak Budi atau sepupunya Ibu Kinanti.
Dari kamar Meisya melihat kedatangan Firman di ruang tamu tapi dia tidak berani keluar dikarenakan banyak tamu dan juga ada mamahnya sehingga dia memutuskan untuk tetap di kamar.
Dari kamar Meisya mendengarkan obrolan pamannya dan juga Firman yang ada di ruang tamu di belakang pintu yang tidak terkunci.
Saat sedang asyik nguping tiba-tiba pintu kamarnya dibuka oleh kakaknya.
"Awwww... " Pekik Mesiya yang kejedot pintu kencang akibat kakaknya yang membuka pintu dengan kencang
Konten semua orang melihat kearah pintu kamar.
Kakaknya Meisya yang bernama Rima langsung masuk dan melihat ke ke belakang pintu. Terlihat Meisya sedang memegang kepalanya akibat benturan pintu.
" Ya Allah Mei, maaf teteh kira nggak ada orang di belakang pintu maaf ya sakit ya." Ucap kakaknya sambil menuntun Meisya dari balik pintu kamar.
Meisya nggak menjawab ucapan kakaknya dia menggosok-gosokkan keningnya dengan tangan karena sakit ditambah dia juga malu karena orang-orang sedang memperhatikan dirinya.
"Lagian kamu ngapain di belakang pintu, jangan bilang kamu lagi nguping Paman sama Firman." Bisik Rima
blushh.... muka Mesiya langsung merah mendengar bisikan kakaknya
Rima tak membalas jawaban adiknya tapi dia memperhatikan raut muka Meisya yang merona ditambah dengan ucapan adiknya yang gugup dia menaik turunkan ujung alisnya.
Meisya digoda seperti itu oleh kakaknya dia dia hanya membuang muka karena malu.
Sementara itu di ruang tamu Firman tersenyum seolah mengerti kejadian di balik pintu tersebut, dia lalu bergabung bersama warga lainnya untuk melaksanakan tahlilan.
"Kinan ini ada amplop takziah dari Firman". ucap Paman Budi kepada Ibu Kinanti
Ibu Kinan menerima amplop tersebut dia merasa tidak enak hati karena kedua orang tua Firman juga membantu keluarganya dari mulai ibunya meninggal sampai sekarang 7 harinya. Ayah dan Ibu Firman membantu baik dari segi tenaga mau pun dari materi.
#
Acara tahlilan telah usai warga juga sudah mulai pulang satu persatu hingga tertinggal hanya keluarga inti saja.
"Mamah tau nggak tadi ada yang nguping di belakang pintu sampai kejedot." Ucap Rima sambil mengerling ke arah Meisya
"Apaan sih Teh, orang aku tadi juga mau buka pintu tapi teteh duluan dah buka makanya jadinya kejedot." Jawab Meisya
Mukanya udah kaya kepiting rebus karena menahan malu atas ucapan kakaknya itu di hadapan keluarganya.
"Nguping apaan? tanya mamahnya kepada Rima
"Itu waktu ada Firman tadi mau takziah dia kan ngobrolnya di ruang tamu, eh dia di belakang pintu nguping." Ucap Rima
"Teteeeeeh... " teriak Meisya
"Sudah sudah... ah jadi ribut kayak begini. Sakit kepalanya Mei?" tanya mamahnya kepada Meisya
Meisya mengangguk lalu menundukkan kepalanya sambil menahan malu di depan keluarganya