
Hari-hari yang dihabiskan Shasha bersama dengan Liu bersaudara begitu menyenangkan. Manis dan pahit kehidupan ia jalani dengan damai di desa terpencil ini. Hidup di sini benar-benar berbeda seratus delapan puluh derajat dari kehidupannya di ibu kota kerajaan. Di sini ia hanya mengkhawatirkan hal sepele seperti nasi agar tidak gosong, sayur mayur yang berkali-kali di tolak oleh kelima saudara karena mereka membenci terlalu banyak sayuran juga perasaan cemburu yang membuat mereka mencari perhatian seperti anak kecil yang iri jika tidak diperhatikan ibunya.
Shasha tersenyum kecil jika mengingat ulah mereka yang konyol dan pencemburu.
"Aku seperti ibu yang mempunyai lima anak, " guman Shasha.
Jika Shasha mengenang kembali kehidupan dirinya di ibu kota, tentu saja hal seperti ini tidak pernah menjadi perhatian. Di sana walaupun hidup tidak pernah kekurangan perak, perhiasan dan makanan tapi kehidupan di kalangan bangsawan sangatlah kejam. Shasha harus berperang lidah dengan para putri bangsawan dan istana agar tidak menjadi bahan ejekan. Sudah menjadi rahasia umum jika skema jahat selalu terbang di sekitar putri pejabat agar bisa menjatuhkan reputasi. Jika dulu Shasha selalu bangga karena mampu menyerang balik perangkap lidah putri yang lain tapi kini Shasha merasa hal yang ia lakukan dulu benar-benar membuang waktu. Sekarang dirinya bisa hidup nyaman tanpa khawatir dengan kehilangan reputasi yang bisa menyebabkan dirinya kehilangan nyawa.
"Istri Liu, apakah anda ikut mencuci di sungai?" An koi menawari dirinya untuk bersama-sama istri keluarga yang lain mencuci selimut di sungai. Kehidupan di sini sungguh rukun walaupun ada beberapa istri yang sombong.
"Iya, aku ikut."
Shasha menulis pesan dan meletakkan di atas meja agar kelima saudara itu tidak khawatir. Ia bersyukur karena Liuchi dan LiuKa mampu membaca dan menulis.
Dengan segera Shasha mengambil selimut yang tebal dan membawa timba dari kayu. Ia bergegas menuju para istri keluarga yang lain yang menunggunya.
Di sungai, para istri termasuk Shasha berbincang-bincang dengan bersemangat. Godaan sering kali dilontarkan oleh An koi dan Yu kim. Kata-kata itu seperti.
"Bagaimana cara mu untuk bergiliran memberi mereka makan daging, istri Liu?" tanya An koi.
Di pikiran Shasha memberi makan daging artinya memang memberi makan daging lain lagi dengan pikiran Fu dan Yu kim. Bagaimana pun istilah memberi makan daging adalah melayani suami mereka di ranjang.
"Tentu sajaa, berrgantian, " jawab Shasha dengan polos.
An koi membelalak kaget. "Jadi mereka makan daging saat itu juga bersamaan?" tanya nya lagi.
Shasha mengangguk. "Benar, akuu yang haaruss memberi mereka secaarra berganntiang agarr tidak iiri."
An koi, Fu dan Yu kim menatap tak percaya pada Shasha. Ternyata Liu bersaudara itu sungguh liar. Bagaimana bisa tubuh mungil Shasha menahan lima pria yang kuat dan bersemangat. Mereka bertiga mengigil saat membayangkan kelima pria itu menyerang Shasha bergantian.
"Apa tubuhmu tidak kelelahan?" Yu kim bertanya dan merasa iba dengan Shasha. Sebab dirinya melayani suami nya bergatian dengan durasi sehari untuk Yu hiko, sehari untuk Yu Sora dan begitu seterusnya.
"Tentu tidak, aku merasa senang melakukannya. Walaupun terkadang mereka bertingkah konyol. Agar tidak iri aku juga memaksa agar yang lain makan daging juga."
Shasha menjawab pertanyaan An koi, Fu, Yu kim dengan terbata-bata. Walaupun ia sudah bisa dikatakan bisa berbicara dan mengerti bahasa desa ini namun Shasha mengalami kesulitan dalam pengucapan. Ia juga tidak mengerti bahasa yang tidak bisa di praktekkan oleh Liu bersaudara saat mengajarinya berbicara beberapa kata.
'Ternyata Shasha lebih bersemangat dari pada suaminya.' Fu, An koi dan Yu kim membatin bersamaan. Mereka memiliki rasa hormat tersendiri untuk Shasha, tubuhnya yang kecil ternyata sangat kuat dan tahan lama.
'Meski memiliki tubuh kecil ternyata dia gadis yang buas di ranjang, ' batin An koi.
.
.
.
Di kediaman Sha, Sha Me menangis tersedu-sedu saat melihat jubah Shasha yang dibawa mata-mata yang mereka kirim. Sha ki hanya menatap kosong meja tempat peninggalan Shasha tergeletak begitu pula Sha hori. Hatinya hancur karena kabar meninggalnya sang adik dan disertai bukti barang-barang yang dibawa Shasha untuk melarikan diri. Mata-mata itu melaporkan jika seorang gadis berambut merah jambu melakukan bunuh diri di bukit dekat perkampungan yang terpencil. Sebelum mayatnya di kremasi, kepala desa wilayah itu menyimpan barang-barang peninggalan sang gadis.
"Ini tidak mungkin, putriku yang cantik hiks hiks."
Sha me kembali melihat barang yang di bawa mata-mata yang sedang berlutut di depannya. Tangan Sha me bergetar saat akan mengambil giok identitas Shasha.
"Tidak, aku tidak akan percaya jika putriku akan menyerah dan menjadi pengecut hingga mengakhiri hidupnya."
"Ibu."
"Pergilah, tetap cari keberadaan putriku di tempat kau menemukan barang-barang ini, dan jika ada gadis berambut merah muda maka bawa ke hadapan ku. Aku tidak perduli gadis itu Shasha atau bukan."
"Baik."
"Sha mei, kau tidak boleh melakukan ini."
"Tuanku, seandainya memang putriku meninggal aku tetap menginginkan seorang putri berambut merah jambu untuk kujadikan anak angkat. Apakah anda keberatan...?"
Sorot mata sedih dari Sha me membuat Sha ki tak berdaya. Namun tabib menyarankan untuknya menuruti semua keinginan Sha me agar jiwanya tidak tergoncang. Akhirnya dengan terpaksa Sha ki menyetujui keinginan Sha me.
"Baiklah."
"Terima kasih tuanku."
Sha hori yang melihat keadaan ibunya menjadi membenci Hago Yu lebih besar lagi. Seandainya tunangan adiknya yang ******** itu tidak melipat tangan waktu itu, keadaan ini tidak akan terjadi.
"Lupakan pertemanan kita selama ini Hago yu. Keluarga Sha tidak akan memberikan dukungan untukmu lagi. Hmmpt."
.
.
.
Di tengah keasyikan mereka dalam mencuci dan juga berbincang. Suami dari Yu kim menjemput dirinya. Dengan lembut Yu hiko mengajak istrinya pulang.
"Istri, suamimu datang menjemput anda Yu kim. Mari kita pulang."
"Baik." Dengan malu-malu Yu kim berpamitan dengan Fu, An koi dan Shasha.
Kepala Shasha serasa di hantam palu saat menyadari hal yang selama ini ia abaikan.
"Istriii?" beo Shasha.
An koi terkikik geli, "Apa yang aneh Shasha? Dia istri Yu hiko dan Yu hiko suami Yu kim. Dia punya tiga suami." An koi menjelaskan tentang keluarga Yu kima sambil menunjuk ke arah Yu kim dan Yu hiko.
Tak lama lagi kemudian, Liuji, Ning ga, Kai bu datang ke arah mereka untuk menjemput masing-masing istrinya. Melihat suaminya Fu memekik senang.
"Ah, suami kita telah menjemputnya menjemput. Mari kita pulang."
"Ya."
Para suami itu meraih cucian dari sang istri lalu menggandeng tangan nya. Liuji juga melakukan hal yang sama dengan lainnya. Mereka semua mengobrol dengan riang dalam perjalanan pulang.
Shasha hanya terdiam karena berusaha mencerna tentang statusnya yang baru ia ketahui. Dia tidak mengucapkan apapun dalam perjalanan karena kejutan hingga membuatnya seolah tak menapak bumi.
'Ya dewa, aku mempunyai lima suami!!' Shasha masih tidak bisa menerima kenyataan ini agak linglung.
Tbc