Wise Wife

Wise Wife
Salah.



Liusa terus menarik Shasha hingga di depan toko ramuan obat. Kemudian dia menghadap Shasha dan berbicara agar tidak mengucapkan kata itu lagi.


"Istri, anda tidak boleh berbicara seperti itu lagi. Ya..." Liusa berbicara dengan nada agak keras.


"Tapi aku ingin berguling-guling dengan..."


"Sudah ku bilang jangan bicara masalah berguling-guling!"


Tanpa sadar suara Liusa berkata dengan suara yang lebih keras. Alhasil semua pejalan kaki yang lewat berhenti dan menoleh padanya.


"Tapi, tapi..." Mata Shasha berkaca-kaca karena tidak tahu salahnya, apalagi ekspresi marah dan suara tinggi Liusa membuat Shasha takut.


Para pejalan kaki yang lewat melihat wajah menyedihkan gadis itu merasa iba. Wajahnya memerah menahan tangis mengundang simpati para pejalan kaki yang lewat. Seketika mereka geram dengan Liusa yang membuat istrinya mau menangis. Mereka pun berlomba-lomba memarahi Liusa.


"Hei nak, wajar jika istrimu ingin berguling-guling. Kau seharusnya tidak perlu marah." Seorang ibu yang agak gemuk menegur Liusa.


"Benar, istrimu sangat cantik,apa yang membuatmu tidak puas dan menolak permintaannya untuk berguling-guling?"


"Jangan-jangan akar mu tidak bisa berdiri ya?"


"Atau kau mempunyai istri simpanan."


Melihat banyak orang yang menghakimi dirinya, Liusa hanya bisa menunduk. Dia tidak mungkin berbicara jika istrinya ingin mengucapkan terima kasih tapi dengan kata 'berguling-guling kepada pria lain.


"Iya, aku akan baik pada istri. "


"Nah begitu bla bla. "


Puas mendapatkan omelan, Liusa kemudian mengatupkan kedua tangannya pada mereka yang lewat dan menarik tangan Shasha dari tempat mereka tadi. Sayangnya semua tidak sesuai harapan Liusa. Shasha berbalik menariknya ke toko pakaian. Karena memiliki banyak uang, Shasha ingin membeli baju untuk lima saudara itu dan selimut baru. Lalu ia ke arah penjual biji sayuran. Dia ingin membeli bibit sayur mayur dan menanam sayuran yang bergizi agar bisa di masak. Tak lupa sepasang ayam beserta tiga ekor bebek. Dia berpikir hewan itu pasti akan berkembang biak, saat sudah banyak mereka bisa memotong dan memanfaatkan telurnya. Tentu sekali-sekali mereka harus makan daging bebek.


Setelah selesai mereka berdua menuju ke arah Liuji yang menunggunya di gerobak. Beras, juga berbagai bumbu dapur sudah siap di gerobak.


"Kalian berdua berbelanja banyak sekali?" Liuji tidak menyangka jika Liusa membeli begitu banyak barang. Rasanya sepuluh perak tidak mungkin membeli begitu banyak barang yang dia bawa.


"Dari mana kalian mendapatkan uang untuk membeli barang-barang ini?"


"Istri yang beli, dia menjual jamur aneh yang berharga mahal." Liusa tidak mungkin bicara jika istrinya hampir mengucapkan kata berguling-guling untuk berterima kasih. Terlebih telinganya masih berdengung karena omelan para ibu-ibu tadi.


.


"Wah, anda memiliki takdir yang baik."


Shasha tersenyum manis sambil pada mereka berdua. Lalu matanya beralih pada salah satu bebek.


"Makan sssiang nanti kita makan wek wek." Shasha yang tidak tau nama bebek menirukan suaranya agar dua pria didepannya mengerti.


Liusa dan Liuji langsung mengangguk geli. Sebelum berangkat  pulang Shasha mampir ke penjual sate. Ia memesan sate kambing enam puluh tusuk. Lalu dengan cepat naik ke gerobak di bantu Liusa. Mereka pun akhirnya berangkat pulang.


Sepanjang perjalanan Liusa dan Liuji diam tak bersuara. Itu dikarenakan Shasha tengah tertidur di pangkuan Liusa. Diam-diam dalam hati mereka berdua merasa janggal dengan segala kepandaian Shasha. Mereka merasa ada yang ganjil saat mengetahui jika Shasha mampu mengenali tanaman langka itu.


Mana mungkin gadis yang mempunyai pengetahuan yang mengenai tumbuhan langka adalah seorang gadis yang rela dibeli untuk menjadi istri seseorang. Bahkan jika Shasha mau dia pasti sudah kaya raya karena kemampuannya itu.


Ada perasaan khawatir dan takut akan kehilangan gadis yang tengah tidur itu. Mereka berdua takut jika ini hanya mimpi indah dan harus bangun pada akhirnya.


.


.


.


Di kota kerajaan. Seorang wanita mendekati pria tampan yang berdiri memandang bulan.


"Tuanku, tolong anda istirahat. Mencari nona Shasha butuh waktu yang lama. Perhatikan kesehatan anda." Mi ko sang selir kehormatan Hago yu membujuk suaminya untuk beristirahat. Wanita cantik itu menaruh bubur sarang burung walet untuk Hago yu.


"En." Hago yu melirik sekilas selirnya yang pertama itu. Seharusnya Shasha menjadi nyonya pertama yang menyandang status permaisuri pangeran jika dia tidak menghilang. Hanya saja, niatnya dulu untuk memutuskan pertunangan dengan Shasha menjadi kekhawatiran tersendiri bagi nya. Kata-kata itu terucap saat gadis itu meminta bantuannya.


"Anda tidak memiliki kualifikasi sebagai permaisuri pangeran ini lagi."


Kata yang ia ucapkan memang bertujuan tetap menjaga reputasi dirinya yang tengah bersaing dengan pangeran lain untuk merebut posisi putra mahkota. Jadi jika dia terlibat dengan keluarga Sha maka akan menghancurkan dukungan dan reputasinya.


.


.


.


Di kediaman Liu, Ma dengan semangat menyambut kedatangan mereka bertiga, sebenarnya hanya pada Shasha. Dengan langkah terburu-buru ia menuju gerobak agar segera bertemu dengan Shasha. Sayangnya saat ini istrinya sedang dalam mode putri tidur. Dia harus puas hanya dengan melihat wajah cantik itu tidur dengan nyenyak.


"Kakak pertama, segeralah angkat istri. Kakiku sudah kesemutan."


"En." Otot bisep Ma menggembung dan membentuk gumpalan yang kuat saat menggendong Shasha. Liuji harus mengakui bentuk tubuh ideal kakak pertama nya itu. Dalam hati dia khawatir jika istrinya lebih menyukai kakak pertama dari pada dirinya.


Shasha terbangun begitu berada dalam gendongan Liuma. Matanya berkedip-kedip untuk mencerna situasi saat ini.


"Kenapa aku di genddonng?"


"Oh sudah sampai ya...?" Tapi...


Wajah Shasha begitu dekat dengan Ma. Ditambah secara tidak sengaja Shasha memegang lengan berotot itu. Jadi sesuai dengan instingnya, Shasha mengucapkan kata sakral itu lagi.


"Turunkan aku, dan aku ingin berguling-guling dengan akar anda."


"Haaaah..." Mereka berlima mendesah  panjang karena bingung bagaimana harus menjelaskan jika itu artinya mengajak bercinta, pada Shasha.


Liuma hanya bisa pasrah dan memegang tangan Sakura, " Tolong agar jangan ucapkan itu lagi."


Liusa, Liuji dan Liuka mengangkat barang yang berada di gerobak. Lalu Liuchi mengambil bungkusan yang berbau harum juga bungkusan baju.


"Liuji, kenapa kau menghabiskan uang penjualan ikan untuk membeli barang ini?"


"Itu perak istri."


"Apa, bagaimana mungkin. Dia tidak bekerja di sana, Kan?"


"Istri menjual jamur aneh dengan harga mahal. Penghasilan kita bahkan sangat kecil dibandingkan dengan hasil penjualan jamur."


"Apa, jadi istri tau tumbuh-tumbuhan obat?"


"Kemungkinan besar, iya."


"Kakak, aku mendengar berita dari kepala desa kalau ditemukan mayat gadis seusia dengan Shasha. Dia berpakaian mewah seperti seorang putri. Tapi wajahnya hitam dan kulit tangannya kasar. Jangan-jangan..."


Brak


Liuma memukul meja makan  mereka berbincang-bincang. Dengan muram Liuma menyangkal semua yang mereka pikirkan.


"Aku tidak perduli urusan orang luar, Liuchi jangan berbicara dan berpikir buruk. Apa kau ingin kehilangan istri kita dan mengira putri yang tewas itu istri kita yang tertukar?!"


"Itu benar Liuchi. Giok ayah berada di tangan istri. Kita tidak bisa mencurigai istri kita lagi." Liuka yang pertama kali membela Liuma.


Sebenarnya Shasha berada tak jauh dari mereka. Karena mereka berbicara dengan cepat, Shasha tidak bisa mengikuti ucapan mereka."


Dengan wajah tanpa dosa, Shasha menaruh nasi dan tusuk sate yang ia beli.


"Kita makan saaate." Shasha tersenyum memamerkan gigi nya yang seperti mutiara.


"Wah sudah lama kita tidak makan sate daging."


"Benar-benar istri pembawa  berkah."


"Aku semakin menyukai istri."


Mereka berlima tersenyum tipis. Pemikiran Liuchi yang sempat terlintas kembali mereka buang jauh-jauh. Apapun dan siapapun Shasha mereka tidak perduli. Saat ini Shasha adalah istri mereka. Itu saja tidak ada yang lain. Dan mereka tidak akan membiarkan seorang pun mengambil atau mencelakai istrinya yang di cantik ini."


TBC