
Shasha merasa ada yang aneh dengan Liuchi. Dia datang ke kamarnya dan langsung memeluk tubuhnya. Badannya juga sedikit bergetar.
"Liuchi..." Shasha tidak menolak gerakan Liuchi. Sha sha tau jika pria ini paling peka terhadap sekitarnya dari pada saudaranya yang lain. Pasti ada alasan mengapa Liuchi sampai seperti ini.
"Istri, kau seperti tau segalanya. Tolong katakan padaku bagaimana agar kami tidak perlu berperang? " tanya Liuchi. "Sejujurnya aku takut membunuh, aku tidak menyukai darah yang mengalir dari pihak manapun. "
"Apa akan ada perang? " tanya Shasha khawatir. Dia balas memeluk Liuchi yang bergetar.
"Pihak negeri Angin sedang mengerahkan pasukan besar-besaran ke perbatasan yang kita jaga. Itu jelas ancaman untuk negeri kita, '' jawab Liuchi.
"Jika harus terjadi perang maka terjadilah, yang terpenting disini kita memenangkannya tanpa pertumpahan darah yang tidak diperlukan, Kan? " tanya Shasha. Sejujurnya dia juga muak pada perang antar negeri demi memperluas kekuasaan negara. Padahal belum tentu anak cucu mereka bisa mempertahankan wilayah yang begitu luas. Dia juga tidak habis pikir mengapa para kaisar itu lebih suka berperang dari pada memikirkan cara mensejahterakan rakyatnya.
"Katakan padaku jika kau mempunyai cara untuk menghentikan perang, " ucap Liuchi.
"Aku punya cara, tapi lebih baik kita rahasiakan terlebih dahulu sebab rencana kita melanggar aturan perang. "
"Apa?! tanya Liuchi terkejut.
"Ini lebih baik, apa gunanya aturan jika hanya mementingkan keserakahan orang istana. Banyak rakyat yang terluka jika perang berlangsung. "
Liuchi terdiam. Dia berpikir jika kakaknya pasti tidak akan setuju untuk melakukan sesuatu yang berkaitan dengan melanggar peraturan dan kejujuran. Namun jika kejujuram dan aturan itu membuat korban berjatuhan maka Liuchi lebih suka melanggar aturan.
"Baiklah, ini akan menjadi rahasia kita berdua."
Liuchi tersenyum. Istri seperti inilah yang dia inginkan. Seseorang yang mampu menjadi teman dan bisa meredakan kekhawatirannya.
"Istriku... " Liuchi menatap Shasha dengan penuh cinta. Tangannya menangkup wajah Shasha dan mendekatkan wajahnya ke istrinya itu.
Shasha tau jika dia tidak bisa lolos dari Liuchi. Dia tidak tega menolak karena tau Liuchi akan sibuk mengurus prajuritnya.
Maka malam pertama Shasha dengan Liuchi terjadi ketika siang hari saat kakaknya tidak berada di kediaman dan para pelayan mengurus pernikahan Suni.
.
.
.
Menjelang sore, Liuchi keluar dari kamar setelah mandi. Wajahnya terasa segar dan hatinya berbunga-bunga. Kemudian ia memerintahkan pelayan untuk membantu Shasha berpakaian.
"Shasha, aku akan meninjau persiapan pernikahan Suni. Setelah itu aku akan membantu kakak Liuma membahas trategi perang. "
"Pergilah, aku baik-baik saja, " ucap Shasha. Sejujurnya dia juga tidak bisa mengikuti Liuchi karena tubuhnya sakit semua.
Pelayan yang Melayani Shasha agak. khawatir dengan kondisi Shasha. Wajahnya sedikit demam dan lemah.
"Apa nona baik-baik saja, " tanya pelayan Mio.
"Aku baik-baik saja. Buatkan aku sup gingseng."
"Baik nona, " jawab Mio.
Shasha melambai agar Mio segera melakukan pekerjaannya.
"Aku harus mengetahui peta wilayah perbatasan Negeri Angin, "guman Shasha. Selain itu dia memikirkan ramuan apa saja yang ia gunakan untuk membuat prajurit suaminya menang.
.
.
.
Liuchi segera memasuki ruang kerja Liuma setelah mengirim hadiah pertunangan pada Liu yuyu.
"Aku sudah mengirim prajurit untuk pesan pesan pada Yang mulia dan mengirim elang untuk pangeran Hago As."
"Itu bagus, "ucap Liuchi. Dia kemudian mengamati peta perbatasan antara negeri Awan dan Angin.
"Kau baru mandi? " tanya Liuma. Dari tadi hidungnya mencium aroma bunga yang segar bercampur buah.
"I-iya, " jawab Liuchi sambil menunduk. Dia sengaja melakukannya untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Liuma mengangkat alisnya, dia bisa menebak jika Liuchi sudah melakukan hubungan badan dengan Shasha.
"Ternyata kau tidak melewatkan kesempatan bagus, hehehe. Aku bangga padamu, " ucap Liuma.
"Aku hanya terbawa perasaan. Semua terjadi tanpa direncanakan lebih dahulu, "ucap Liuchi.
Liuma dan Liuchi berpandangan. Mereka memerah karena ingat hal manis saat berada di ranjang.
"Aku berharap Liuchi, Liuka dan Liuma bisa menunggu hingga esok hari. Tubuh istri kita tidak akan tahan menerima kita sekaligus. "
"Mereka pasti bersedia menunggu setelah melihat kondisi Shasha. "
"Jenderal, kami datang untuk melapor! " ucap keras salah seorang pengintai di perbatasan. Liuchi dan Liuma berpandangan.
"Segera masuk! " jawab Liuma. "Apa yang terjadi? " lanjutnya.
"Pasukan negeri Angin berjumlah seratus ribu prajurit sudah mendirikan tenda di padang perbatasan. Mereka juga mengibarkan bendera negeri Angin disana. "
.
.
.
Sementara itu, istana menjadi gaduh ketika kabar dari Liuma datang. Hago Mo segera mengadakan pertemuan untuk membahas masalah perbatasan.
"Apa kalian memiliki pendapat? "tanya Hago mo.
"Yang mulia, jika mereka menghendaki perang maka biar saja terjadi. Pihak kita tidak pernah lari seperti pengecut. "
"Alangkah lebih baik jika kita mengirim juru bicara untuk berdamai. Jadi tidak akan ada korban dari pihak manapun. "
Pengadilan semakin memanas. Para pejabat bersuara dan saling berdebat. Mereka ingin membuktikan jika fraksi mereka jauh lebih unggul.
"Ehem... "Hago yu berdeham. Secara mengejutkan semua pejabat menjadi terdiam. "Usul menteri Sha memang benar, Yang mulia kita harus mengirim seseorang untuk berunding di negeri Angin. "
Tanpa diduga, kasim berlari kecil dan bersujud di depan Hago Mo.
"Ada apa? " tanya Hago Mo.
"Lapor yang mulia, utusan dari negeri Angin datang untuk berkunjung, " ucap kasim itu.
Para pejabat saling memandang dan berdiskusi.
"Suruh mereka masuk, " perintah Hago Mo.
Tanpa diduga, utusan itu langsung menyerang ke arah Hago mo dengan menusukkan pedang ke arah jantungnya. Para penjaga bayangan segera turun tangan dan melawan serangan utusan negeri Angin. Sayangnya mereka kalah jumlah. Ternyata prajurit utusan negeri Angin itu sudah mengepung istana.
Hago As yang datang terlambat segera bersembunyi ketika melihat situasi yang ada. Dia segera menyuruh pelayan memberi kabar pada Liuma untuk datang ke istana.
tbc