Wise Wife

Wise Wife
Perjamuan



Perasaan nyaman dan kehidupan yang damai merupakan salah satu bentuk harta yang tidak bisa dinilai dengan perak. Shasha menyadari jika dirinya jauh lebih bahagia hidup bersama dengan para suaminya di desa terpencil ini. Ada banyak sekali hal yang sederhana namun menjadi sebuah pelajaran yang berharga. Hal yang dulu sangat sulit didapatkan Shasha sewaktu masih berada di kota kerajaan.


Contoh sederhana dari hal yang berharga itu diantaranya adalah rasa saling berbagi rasa senang maupun susah, persahabatan dan kepolosan para suaminya. Kadang kala Shasha agak khawatir jika suaminya ditipu oleh orang jahat ketika berada di kota sebab mereka semua termasuk kategori orang yang mudah percaya. Bagaimanapun para suaminya mudah percaya terhadap orang karena mereka tidak memiliki niat jahat. Jadi dalam benak mereka orang tidak akan berbuat jahat karena menganggap semua orang itu sama yaitu berhati bersih. Hanya beberapa orang saja yang memiliki sifat usil dan itu juga tidak berniat untuk menyakiti dan membuat orang celaka.


Shasha tidak bisa menyalahkan pemikiran polos mereka sebab memang seperti itu kehidupan di desa terpencil ini. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang ramah hanya beberapa yang usil dan sombong. Namun tidak ada yang berhati dengki hingga ingin mencelakakan pihak lain.


"Istri, kita mendapat undangan jamuan makan di rumah kepala desa," Liusa mendatangi Shasha yang sedang menyeduh teh dan madu.


"Ini adalah tradisi desa untuk menghormati dewa bumi." Liuchi menjelaskan perkataan Liusa yang kurang menjelaskan maksud dari jamuan itu.


"Apa yang dii baawa wargaa untukk hadirr di jamuan ituu," tanya Shasha.


"Biasanya para istri akan membawa makanan untuk dihidangkan di meja besar untuk dimakan bersama." Liuma datang dari arah depan. Ia membawa lima ekor ayam hutan hasil perburuannya.


"Bagaimana jika kita membawa telur rebus? Akku rasaa banyaak yang tidak pernah maakan teluur rebus." Shasha menyampaikan idenya pada para suami yang duduk dan menikmati teh madu. Sebenarnya Liuma ingin menyajikan ayam pengemis (ayam pegar) yang lezat untuk jamuan sebab ia yakin jika tidak ada satu orang pun didesa ini yang pernah makan ayam pengemis yang lezat dan harum seperti masakan Shasha. Oleh karena itu, dari tadi pagi Liuma bekerja keras berburu ayam hutan di bukit.


"Apapun itu jika istri yang masak pasti hasilnya akan luar biasa," Liuka memuji Shasha. Tiba-tiba Liuji datang dan berseru dalam arah depan.


" Kakak apakah anda sudah memesan istri untuk memasak ayam pengemis untuk jamuan!" Mereka yang berada di ruang tengah langsung melihat ke arah Liuma.


Shasha "..."


Liusa "..."


Liuchi "..."


Liuka "...."


"Ah itu, itu awalnya rencana...em maksud ku." Liuma bingung bagaimana cara menjelaskan.


"Jika suami berniat menyajikan ayam pengemis itu juga baik-baik saja."


Liuji kemudian bergabung dengan saudaranya yang lain. Ia mengambil cangkir dan menuangkan teko yang berisi teh madu tersebut.


"Bagaimana ide kakak Liuma? Pasti semua orang akan terkesan dengan ayam pengemis resep dari istri." Liuji sangat bersemangat hingga tidak menyadari raut wajah tegang keempat saudaranya. Ide dari LiuMa memang baik tapi mereka takut jika menyinggung perasaan istri kecilnya, sudah pasti mereka takut jika istri marah dan pergi meninggalkan mereka berlima. LiuMa hanya bisa melotot ke arah Liuji yang tersenyum lebar dan tanpa dosa.


"Ide kak LiuMa bagus tapi ide istri untuk menyajikan telur juga sangat bagus." Liuchi mencoba memecah suasana yang menegangkan. Liuji akhirnya sadar jika istrinya memiliki ide yang lain mengenai jamuan desa.


"Oh benar- ayam pengemis luar biasa tapi masakan istri yang lain pasti juga istimewa," Kata Liuji.


"Benarkah seenak itu masakan ayam pengemis ku?" Mata Shasha berbinar mendengar pujian mereka yang setinggi langit.


"Benar sangat lezat bahkan kami tidak pernah makan ayam selezat itu seumur hidupku."


"Baiklah, kita masak ayam pengemis dengan isian istimewa ditambah bumbu istimewa, " ucap Shasha bersemangat.


Kelima Uchiha langsung menghela nafas lega saat istri kecilnya tidak marah.


"Nah para suamiku, ayo bantu istrimu inii mengambil sayur dan jamur yang kita tanam di belakang rumah. Jangan lupa telur ayam juga diambil dan direbus."


Shasha mengintruksikan kepada suaminya tugas yang mereka lakukan untuk membuat sajian ayam pengemis yang istimewa.


Setelah bahan terkumpul Shasha memasak isian itu beserta bumbu yang sudah dihaluskan. Masing-masing ayam diisi dengan sayur,jamur dan telur yang telah dimasak lalu dibungkus dengan daun teratai. Langkah terakhir adalah membalur bungkusan daun teratai dengan lumpur dan memasukkan ke dalam arang yang menyala. Mereka benar-benar bersemangat untuk memasak kali ini. Ayam pengemis biasa saja sudah lezat, apalagi yang yang ditambahkan bumbu istimewa dan isi sayur tadi. Pasti rasanya luar biasa.


Liuma yang tengah memasukan ayam yang sudah siap ke dalam keranjang menoleh saat Liusa memanggilnya. Dirinya sempat membeku waktu melihat Liusa memakai pakaian yang baru, itu terlihat sempurna di tubuh adiknya. Lalu ketiga saudaranya yang ia lain muncul ke hadapan Liuma, mereka semua nampak cantik dan halus. Ada perasaan bersalah dari dalam dirinya karena tidak pernah memberikan pakaian yang layak untuk adik-adiknya.


Liuchi menyadari jika Liuma tengah memandang dirinya dan Liusa dengan tatapan kosong. " Kak, lekaslah bersiap. Kami yang akan menyiapkan jamuan ini," kata Liuchi. Liuma mengangguk dan menuju kamar untuk ganti baju. Di tengah perjalanan menuju kamar ia sempat melihat Shasha yang memakai jubah putih dengan hiasan brokat hijau. Seketika niat berganti baju hilang teralihkan oleh kecantikan istrinya. Di dalam kamarnya yang pintunya terbuka, terlihat Shasha yang kesulitan menata rambut pamjang miliknya.


Dengan perlahan Liuma mendekat," bisa ku bantu?" tanya Liuma. Shasha menoleh dan tersenyum tipis kemudian ia menganggukkan kepala. Perasaan Liuma meledak dalam kegembiraan. Dengan segera ia menjepit rambut Shasha dengan jepit rambut berwarna perak. Lalu mengikat rambut istri kecilnya itu dengan model yang sesuai untuk gadis yang sudah menikah. Tangannya begitu menikmati kelembutan rambut Shasha. Sesekali ia mencuri satu ciuman pada rambut Shasha.


'Ini wangi bunga ceri,' batin Liuma.


"Sudah selesai."


"Terrima kasih," ucap Shasha lembut.


'Syukurlah dia tidak bilang berguling-guling lagi, ' batin Liuma.


Dengan senang Liuma meninggalkan kamar Shasha dan mulai memakai baju yang disiapkan Shasha sebelumnya. Setelah itu  ia mengajak anggota keluarganya pergi ke rumah kepala desa.


Ternyata warga sudah banyak  datang ke rumah kepala desa. Rumah kepala desa telah dihiasi lampion merah yang belum dinyalakan. Di masing-masing halaman depan terdapat dua meja berukuran besar dan berjarak agak jauh. Hidangan juga sudah banyak yang ditata di atas meja. Karena momen ini berlangsung satu tahun sekali maka banyak yang memakai jubah yang indah. Terutama para istri, mereka berdandan seperti kotak perhiasan berjalan. Itu juga sebagai penanda status keluarga. Semakin banyak dan mahal perhiasan yang dipakai oleh si istri maka bisa dilihat jika tahun kemarin keluarga itu tengah diberkati kekayaan. Suasana semakin ramai dan penuh semangat ketika Liu menggelar ayam pengemis di atas meja makan. Warga yang tadinya memuji keluarga Song karena menyajikan anggur yang terkenal mahal kini berubah mengagumi ayam pengemis yang berbau harum dan terlihat mengiurkan.


"Ini terlihat lezat! Apakah anda yang memasak ayam ini, istri Liu," tanya An koi.


"Benar bibi," jawab Liusa.


"Yu kim dan yang lain mendekati ayam pengemis yang ditaruh di atas meja. Mereka semua berdecak kagum dan hampir meneteskan air liur. Song mei merasa jengkel karena perhatian warga teralih dari anggur ke ayam milik Liu bersaudara.


Setelah melihat ayam yang dibawa Liu bersaudara, dia akhirnya ikut memuji aroma dan penampilan ayam itu.


"Tadinya aku merasa iri karena kalian mencuri perhatian karena masakan kalian. Tapi setelah melihat ayam ini aku jadi bersyukur kalian membawanya, ini terlihat enak. Bolehkah kami memakan sekarang?" Tanya Mei. Rasa irinya berubah ke menjadi rasa kagum. Diam-diam dia ingin belajar memasak ayam yang dibungkus daun teratai itu dari istri Liu.


"Baiklah karena warga sudah lengkap mari kita  mulai makan, para istri segera memisahkan diri di pinggir sana!" perintah Hi zen.


Mereka segera menuruti perintah kepala desa. Meja para istri dan suami dipisahkan agar tidak bercampur. Jumlah penduduk di desa ini tidak terlalu banyak. Hanya ada lima puluh keluarga yang tinggal jadi beberapa dari mereka tidak mendapatkan bagian memakan ayam pengemis. Namun mereka tidak khawatir karena berniat meminta resep dari istri Liu.


"Tunggu dulu, kemana istri Liu itu pergi?" Salah satu istri di sana berteriak karena tidak melihat keberadaan Shasha.


"Tadi ia pamit mengambil air untuk mencuci tangan," jawab Fu.


Pandangan mereka serentak menuju ke penampungan air yang berada di pojok.


Kondisi wadah air yang terguling dan berantakan membuat para istri berteriak histeris.


"Kepala desa! Istri Liu menghilang!" Para istri berlari kecil menuju meja para suami.


Liu bersaudara yang mendengar suara teriakan wanita itu langsung memucat dan segera berlari ke arah mereka.


"Bibi, apa maksud anda? Bukannya Bukankah istriku berada bersama dengan kalian?" Tanya Liuka yang panik.


"Benar, tapi setelah menuju  tempat mencuci tangan istrimu tidak terlihat lagi."


Hi zen kemudian memerintahkan kepada para pria untuk mencari Shasha. Karena hari sudah agak gelap, mereka membawa obor untuk melakukan pencarian. Dengan segera mereka mencari keberadaan gadis yang tiba-tiba hilang itu.


Tbc