Wise Wife

Wise Wife
Bertemu.



Keluarga Sha mengadakan jamuan kecil untuk merayakan kembalinya Shasha ke tengah keluarga Sha. Berbagai hidangan lezat tertata rapi di meja. Warna di kediaman telah berubah menjadi warna merah cerah. Lampu lampion beserta tirai telah diubah menjadi warna merah juga. Begitu banyak kebahagiaan yang menyelimuti kediaman ini.


Untuk menghindari gosip artis yang tiada tidak baik, seluruh pelayan diperintahkan untuk merahasiakan kedatangan Shasha. Sha Ki melakukan hal itu agar pangeran Hago yu tidak mendatangi kediaman Sha dan memaksakan kembali pertunangan dengan Shasha. Berkat peristiwa yang menyedihkan dahulu, Sha Ki akhirnya menyadari jika putrinya hanyalah salah satu bidak catur bagi pangeran Hago yu. Sha Ki tidak mungkin membiarkan niat Hago yu terlaksana. Segera setelah kondisi tenang ia akan mencarikan jodoh yang tidak bisa disinggung bahkan oleh pihak kerajaan. Maka dari itu pilihan yang terbaik adalah menikahkan Shasha dengan pemimpi sebuah perguruan bela diri ataupun tempat pendidikan.


Shasha menatap pantulan dirinya di cermin perunggu. Di cermin menampilkan bayangan gadis yang seputih salju dengan pipi merona. Ibunya terlihat bahagia dengan kegiatannya menata rambut sang putri.


"Ibu sangat menantikan saat putriku ini menikah. Ibu sendiri yang akan menata rambut mu sayang."


Deg


Mendengar kata dari sang ibu, hati Shasha tersentak dan menjatuhkan jepit rambut giok yang ia pegang. Jantungnya berdetak kencang karena bayangan wajah tersenyum suaminya satu-persatu muncul di matanya.


"Su..suamiku," rintih Shasha dengan mata nanar. Matanya mulai memerah dan diikuti butiran air di sudut mata hijau Shasha.


"Nah selesai," ucap Sha me.


"Lihatlah, anda akan menjadi pengantin wanita yang cantik." Sha me mengelus kepala Shasha sebentar dan meninggalkan putrinya. Ia pergi untuk melihat jamuan hidangan di meja.


Shasha masih bergetar, segalanya tidak lagi sama dengan sebelumnya. Dia tidak lagi seorang gadis bangsawan yang belum menikah. Dirinya saat ini adalah seorang istri dari lima pria bersaudara.


Shasha kembali menatap pantulan bayangan di cermin. Rambut gadis di cermin itu tertata seperti seorang gadis yang belum menikah.


"Tidak, tidak." Shasha menggelengkan kepalanya.


"Tidak, ini salah. Seharusnya tidak seperti ini," Shasha meracau. Tangannya dengan segera melepaskan semua jepit rambut yang telah terpasang rapi di kepalanya. Wajahnya telah memerah sempurna dengan butiran air mata yang menghiasi pipi sehalus bayi.


.


.


.


"Kenapa aku merasa jika istri sedang menangis?,"" Liu sa memecah kesunyian malam di atas gerbong kereta kuda barang.


"Hatiku juga merasakan hal itu," jawab Liu Ka.


Mereka kemudian terdiam. Akibat perasaan yang tiba-tiba terlintas di benak mereka, kini rasa khawatir akan keselamatan Shasha bertambah besar. Ingin sekali mereka memotong si penculik menjadi seribu keping karena telah berani mengambil istri mereka. Hanya saja mereka kini tidak bisa melakukan apapun saat ini. Di tengah kegelapan malam mereka hanya bisa berdoa semoga Shasha dalam keadaan baik-baik saja.


.


.


.


Shasha melangkah perlahan ke ruang makan. Di sana keluarganya menunggunya untuk merayakan membalik dirinya di tengah keluarga. Sha Me, Sha Ki dan Sha hori sedang membicarakan tentang rencana perjodohan Shasha dengan putra pemilik Manor Sejati. Sebuah persekutuan para pedagang yang mempunya koneksi luar biasa di dataran tengah. Bisa dipastikan jika pemimpin persekutuan dagang yang akan mereka jodohkan dengan Shasha merupakan salah satu penentu kestabilan ekonomi di negara Hi. Dengan demikian Sha ki tidak perlu takut dengan tekanan dari istana, terutama dari pangeran Hago yu.


Tepat ketika Shasha berada di pintu masuk, keadaan langsung menjadi hening. Raut terkejut nampak di wajah mereka bertiga.


"Shasha er, apa yang telah anda lakukan?" Sha me nampak shok dengan cara Shasha menata rambutnya yang seperti gadis yang telah menikah.


Shasha tidak menjawab dan hanya maju kemudian berlutut di depan mereka bertiga.


"Sebenarnya putrimu ini telah menikah ketika dalam pelarian," lanjut Shasha.


"Suamiku adalah pria sederhana dan seorang petani yang lugu. Aku, aku mencintainya."


Mereka bertiga terhenyak mendengar ucapan Shasha. Bagaimanapun juga mereka tidak bisa menyalahkan Shasha karena menikah dengan seorang petani kelas bawah. Saat itu kondisi begitu rawan jadi bisa diterima jika Shasha menikah agar mendapatkan perlindungan.


Sha me tidak habis akal. Ia tetap tersenyum dan membantu Shasha agar bangun dari tempatnya berlutut.


"Putriku... Memang saat itu kondisinya mengkhawatirkan jadi bukan salah anda jika menikah dengan laki-laki acak terlebih seorang petani. Tapi kini anda telah kembali ke dalam keluarga Sha. Kami akan mengurus surat cerai anda."


Ucapan Sha me bagai petir di siang hari. Bagaimana mungkin ibunya memikirkan hal keji seperti itu. Shasha terhuyung dan limbung karena beban pikiran.


Dirinya benar-benar tidak ingin berpisah dengan mereka berlima. Tapi apa yang harus ia lakukan untuk mengubah pemikiran sang ibu. Terlebih statusnya sangatlah tidak biasa atau tabu di lihat dari perilaku di ibu kota kerajaan. Ia sepenuhnya sadar jika cap Vixen akan di alamatkan pada dirinya jika semua orang tahu statusnya bersuamikan lima orang.


"Shasha!" Sha hori langsung menangkap Shasha sebelum gadis itu menghantam lantai. Wajah pucat dan sedih adiknya membuat Sha hori tidak tega. Akhirnya perayaan ini berubah menjadi kebingungan karena pingsannya Shasha.


"Apa kalian daging mati? Cepat panggil tabib!" Teriak Sha ki pada pelayan.


Disaat mereka sibuk dengan kondisi Shasha. Seorang tamu tidak diundang diam-diam datang dan mendengar semua yang diucapkan oleh penghuni kediaman Sha. Wajah elok nan tegasnya mengeras. Ada sorot mata membunuh di mata pheonik miliknya yang tajam. Fitur agung yang selalu lembut saat ini mengeluarkan aura menindas yang dingin. Dengan kesal Hago yu mengibaskan lengannya dan meninggalkan kediaman Sha.


Hago yu segera memanggil penjaga bayangan yang selama selalu berada di sekitar nya. Dalam hitungan detik penjaga bayangan langsung berlutut di depan Hago yu.


"Selidiki suami dari nona Shasha. Musnahkan hingga ke akar."


"Baik."


Sosok agung itu memandang keluar ke arah sungai. Tangannya masih yang satu berada di belakang dan yang lain memegang kipas. Matanya menyipit dan seolah berkata pada angin.


"Hal yang awalnya milikku tidak akan pernah menjadi milik orang itu lain."


.


.


.


Pagi telah menjelang. Sinar hangat dan lembut menerpa kulit kecoklatan mereka berlima. Tentu saja mereka akan terbangun dengan sendirinya ketika mentari mulai mengeluarkan cahaya nya.


"Akhirnya sebentar lagi kita sampai di ibu kota." Liu Ma tersenyum senang pada adik-adiknya.


"Aku merasa bersemangat pagi ini," Liu ji yang biasanya diam kini bersuara.


Liu chi, Liu Ka dan Liu Sa mengangguk.


Harapan mereka menyala saat itu juga. Sebab mereka yakin jika mereka telah lebih dekat dengan sang istri.


Tbc