
Karena menumpang pada kereta kuda yang mengangkut barang. Para Liu tidak bisa beristirahat maupun mengisi perut dengan benar. Mereka harus menyesuaikan diri dengan jadwalnya kusir kereta saat istirahat. Nampaknya kusir ini adalah manusia domba yang takut dengan air, mereka menjuluki kusir demikian karena tidak pernah sekalipun pemuda Liu melihat kusir mandi di sungai atau di penginapan. Terpaksa mereka semua harus mengikuti kebiasaan sang kusir agar tidak tertinggal kereta kuda barang.
Sebenarnya ini karena mereka telah tidak ingin ketahuan menumpang diam-diam di kereta kuda barang ini, mereka terlalu takut membayar mahal pada sang kusir jika meminta tumpangan dengan terang-terangan. Perak yang mereka bawa harus dimanfaatkan semaksimal mungkin agar mencukupi kebutuhan hidup saat mencari sang istri. Terlebih mereka tidak mengenal seorangpun di kota kerajaan.
Gerbang kota kerajaan terlihat beberapa kaki dari kereta kuda barang. Liuma memberikan kode pada adiknya untuk meninggalkan tempat duduknya dua hari ini. Rasanya mereka merasa agak tidak pantas menyelinap dan mengambil keuntungan dari orang lain namun mereka terpaksa agar bisa menghemat keuangannya.
Hup
Hup
Tidak menunggu kereta berhenti, mereka menggunakan qinggong terbang menuju pohon di dekat jalan gerbang ibu kota. Masih tersisa jarak beberapa kaki untuk melewati gerbang ibu kota kerajaan. Mereka semua harus segera meninggalkan kereta sebelum tertangkap penjaga gerbang.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Keluh Liusa.
"Tenanglah dulu Liusa, kita harus memikirkan cara untuk masuk kesana tanpa harus tertangkap penjaga," jawab Liuchu.
"Liuchi benar Liusa, jika kita ketahuan maka kita akan berakhir di penjara karena dikira penyusup atau mata-mata," kata Liuka.
"Ini sulit karena kita tidak memiliki tanda pengenal," ucap Liuchi.
Mereka berlima memikirkan cara agar masuk ke dalam kota kerajaan. Karena terhanyut dalam pemikiran masing-masing tak terasa hari sudah siang. Sinar matahari mulai terasa membakar kulit. Untung saja mereka berada di atas pohon sehingga tidak merasa kepanasan. Justru berkat kondisi mereka di atas pohon sebuah kejadian ganjil tertangkap mata tajam lima Liu.
"Kakak, bukankah itu...?" Sebelum Liuji menyelesaikan ucapannya, Liuma sudah melompat menuju tempat dimana sebuah kereta kuda di kepung sejumlah orang berkulit hitam.
Liuchi, Liuka dan Liusa juga turut menyusul Liuma yang telah berkelahi dengan orang-orang berkulit hitam.
"Hei tunggu aku!" Teriak Liuji.
Pertarungan sengit terjadi antara kelima Liu dengan orang-orangnya orang-orang berkulit hitam. Bisa dilihat jika kemampuan orang yang menyerang kereta kuda itu memiliki ilmu yang tinggi. Itu terbukti dari sepuluh pengawal kereta yang sudah tergeletak tidak berdaya.
"Kakak apa kita harus membunuh mereka semua?" Liuka melihat satu-persatu penyerang berbaju hitam.
"Jangan, cukup patahkan tangan dan kakinya saja," jawab Liuma.
"Benar, kita tidak memiliki dendam pada mereka jadi kita tidak bisa membunuh mereka."
Jika ada yang bisa melihat secara tembus pandang pasti ia akan tau ekspresi gelap dari para pembunuh. Mereka kesal karena kelima pria yang baru muncul berani meremehkan kemampuan mereka sebagai pembunuh profesional.
"Habisi mereka." Instruksi dari pemimpin kelompok pembunuh itu langsung dituruti oleh anak buahnya.
Mereka berlima kembali bertarung dengan pembunuh yang menyerang dengan kekuatan penuh. Sayangnya mereka meremehkan kemampuan Liu bersaudara yang legendaris.
Ilmu bela dirinya tidak dipelajari di perguruan tinggi manapun. Mereka mempelajari ilmu bela diri dari seorang pengelana aneh yang tiba-tiba mengangkat mereka menjadi murid sewaktu ibu mereka belum meninggal. Jadi ilmu bela diri para pembunuh ini seperti anak kecil di mata mereka berlima. Terbukti dengan tidak ada satupun pedang dari pembunuh yang mengenai kulit mereka.
Krak
"Hore aku berhasil mengalahkan kalian karena berhasil mematahkan tangan mereka pertama kali!" Seru Liuji.
Si pembunuh yang berada di bawah kendali Liuji merintih kesakitan.
"Aku tidak akan kalah...hiyaat" Liuma mengayunkan tinju.
Krek
Krek
Liuma berhasil mematahkan tangan dua orang pembunuh sekaligus. Pembunuh itu langsung berjongkok memegangi tangannya.
"Hahaha aku yang menang!" Seru Liuma.
"Jangan sombong dulu kak," Liuchi mengibaskan lengannya yang kemudian terlihat seperti kilatan berwarna merah darah berbentuk bulan sabit.
Krek
Krek
Krek
Krek
Empat orang pembunuh tangannya patah sekaligus. Hanya Liuka dan Liusa yang masih berusaha mematahkan tangan pembunuh yang mereka tawan.
"Aku tidak tega mematahkan tangannya, ini terlalu kejam," keluh Liusa.
"Benar, begini saja. Kita tendang akarnya agar dia pingsan. Itu lebih baik dari pada mematahkan tangannya."
"Hahaha benar juga.. ini menyenangkan."
Para pembunuh itu ingin muntah darah mendengar ucapan Liusa dan Liuka. Justru menendang akar mereka jauh lebih kejam dari pada mematahkan tangan mereka. Sebab jika akar mereka rusak ini bearti membunuh seluruh keturunan mereka.
"Hei aku belum menendang mu, kembali!" Liusa tidak terima dan mengejar mereka.
"Aku titip tendang juga orang yang aku pegang tadi!" Teriak Liuka.
Liusa yang melompat seperti kelinci hanya mengacungi jempol tangannya sambil mengejar kedua orang itu.
Orang yang berada di dalam kereta menghela nafas lega. Kondisi sudah aman, seseorang yang berada di dalam kereta kuda perlahan keluar. Seorang pria yang memakai mahkota giok turun dengan anggun. Tangannya membawa kipas yang mengeluarkan aroma manis. Jubah yang ia gunakan memiliki cakar naga berjumlah tiga.
Mereka berempat terkejut karena menyadari jika pria yang ia selamatkan adalah seorang pangeran. Tanda cakar naga untuk itulah yang menunjukkan pria itu seorang pangeran, Shasha pernah bercerita tentang ciri khas baju yang dikenakan oleh orang-orang istana.
Mereka berempat mundur selangkah, wajah cantik mereka berubah pucat dan tegang. Satu-satunya yang mereka hindari sebenarnya adalah terlibat dengan keluarga kerajaan. Selain mendengar dari Shasha, ibu mereka juga pernah bercerita tentang keadaan istana yang penuh dengan konflik dan skema jahat.
Tapi sekarang mereka terbang membantu salah satu pangeran. Bisa dipastikan ini akan menjadi hal yang merepotkan.
"Pangeran ini berterima kasih kepada para penolong semua," ucapan sopan dari pria itu sedikit menenangkan ketegangan mereka berencana berempat.
"..."
Melihat wajah membeku mereka, Hago As tersenyum tipis. Dia segera mengucapkan sesuatu agar mereka berempat tidak tertekan seperti sekarang.
"Maka pangeran ini akan membalas kebaikan para penolong. Jika anda tidak keberatan mari kita menuju istana hujan," kata Hago As.
"Kami menerimanya kebaikan hati yang mulia, namun kami khawatir tidak bisa bersantai karena sedang mencari seseorang," Liuchi dengan sopan menolak permintaan Hago As.
"Adik benar, kami harus segera mencari cara agar masuk ke kota kerajaan. Sayang sekali kami tidak punya tanda pengenal." Liuma seolah memberi kode, anda tidak perlu mengundang kami cukup buat kami bisa masuk gerbang ibu dan kota maka hutang budi dianggap lunas.
"Kalian mencari orang? Maka pangeran ini lebih dari mampu membantu kalian menemukannya. Apalagi kalian seperti dari luar kota jadi pasti tidak mengenal baik kondisi ibu kota."
"Itu...," Liuma ragu untuk menolak atau menerima kebaikan Hago as. Jadi mereka berempat terdiam untuk sementara.
Dari kejauhan Liusa berlari sangat cepat menuju kakaknya. Tubuhnya seolah-olah berkedip karena kecepatannya. Hago as begitu terpana dengan kemampuan istimewa Liusa.
"Hehehe..."
Mereka semua langsung mengerubungi Liusa. Semua ingin mendengar hasil pengejaran Liusa pada kedua pembunuh itu.
"Bagaimana? Apakah anda berhasil?" Tanya Liuka.
"Tentu saja, mereka sekarang sudah pingsan."
"Kenapa tidak mematahkan tangannya saja?"
"Aku tidak suka kekerasan. Tangan berguna untuk mencari nafkah. Kalau akar kan tidak ada gunanya. Jadi aku tendang kuat-kuat. "
"Benar juga."
Hago as merasakan rambut di seluruh tubuhnya berdiri tegak mendengar obrolan kelima orang didepannya. Dia tidak habis pikir pembunuh profesional sekuat itu bisa dibuat permainan oleh kelima orang ini. Seandainya mereka berlima serius, apakah kemampuannya bisa meruntuhkannya langit.
Liuma selesai mengobrol dengan adik-adiknya, ia berjalan menuju Hago as yang tersenyum lebar melihat mereka.
"Baiklah kami menerima kebaikan anda."
Hago as bersyukur dengan persetujuan mereka. Dengan adanya kelima orang mengerikan ini, pasti Hago yu tidak akan berani menyerang dirinya lagi.
.
.
.
"Suamiku...suamiku..."
Shasha mengalami demam setelah pingsan. Tabib telah selesai memeriksa tubuh Shasha. Karena Shasha hanya kelelahan maka Sha Me dan Sha ki menghela nafas lega.
Sha me mengelus rambut Shasha dengan sayang. Ia menyalahkan dirinya karena begitu berterus terang kepada putrinya ini.
"Kita harus mencari keberadaan suami Shasha er," kata Sha Ki.
"Tidak tuanku, aku tak tidak ingin memiliki menantu petani rendahan." Seumur hidupnya, Sha me mendidik Shasha agar menjadi gadis berbakat nomor satu. Mana mungkin dia bisa menerima jika putri kebanggannya hanya menikah dengan petani rendahan.
"Shasha harus bersuamikan seorang pemimpin. Aku tidak perduli dengan pernikahan kecelakaan yang terjadi. Dan lihat lengan Shasha," Sha me menunjukkan lengan Shasha pada Sha ki ," Cicak cinnabar Shasha masih ada. Bearti putriku masih terjaga kepolosannya."
Sha ki mendesah panjang. Jika mengenai putrinya, Sha me sangatlah vulgar dalam bertindak.
Tbc