Wise Wife

Wise Wife
Masak.



Liu ji berjalan mengendap-endap di menuju pintu ke arah Shasha yang tertidur di kursi bambu. Liu Sa hanya tetap tidak bersuara melihat kelakuan saudara bungsunya. Namun setelah melihat Liu ji mencolek pipi tembem Shasha dia jadi ingin melakukannya juga.


'Sepertinya menyenangkan, ' batin Liu Sa.


Liu ji tersenyum geli saat tangannya mencolek pipi istrinya itu. Pipi itu terasa lembut dan kenyal. Pandangannya mengarah ke arah lain. Pipinya langsung bersemu melihat dada legendaris milik seorang gadis. Dari  dulu ia bertanya-tanya bagaimana rasanya buah persik seorang gadis jika berada di tangannya. Niat pun memuncak, kedua tangannya kini bersiap memegang buah persik legendaris itu. Semakin lama semakin dekat dan--.


Bletak!


"Aduh..."


"Jaga pikiranmu, Liuji." Liu Sa memasang wajah horror pada Liuji. Meskipun demikian wajahnya juga sama merahnya dengan Liuji.


"Ck, kau mengganggu Liu sa, dia kan istri kita Jadi suatu saat dia harus melahirkan anak buat kita."


"Kau ingin istri kita ketakutan dan melarikan diri?" tanya Liu Sa.


"..." Liuji berdiri dengan mengerutkan bibirnya dan berniat membantu Liu Ka di dapur.


'Untunglah aku berada di sini.'


'...'


Sayangnya Sa juga penasaran dengan istri kecilnya ini. Dia perlahan meraih rambut Shasha dan mengendus baunya. Aroma manis bercampur kesegaran menguar dari rambut istrinya itu. Jantungnya merasa melompat-lompat kegirangan karena berhasil mencium rambut istrinya. Karena ketagihan, Sa menjadi lebih berani, dia baru mengerti perasaan Liuji yang sempat ia pukul tadi. Sebab Sa sekarang berniat mencicipi bibir legendaris seorang gadis.


Perlahan Sa menutup matanya lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Shasha. Semakin lama semakin dekat, dan---.


Cup


'Kenapa bibir istri banyak bulunya?' Sa membuka matanya. Alangkah terkejutnya ia, saat menyadari jika dirinya mencium tupai yang sudah mati.


"Huaaaa."


Liu sa tersadar jika Liu Ma menghentikan niatnya dengan menjadikan tupai mati itu tameng bibir Shasha. Karena merasa malu Liu Sa pergi ke dapur untuk membantu Liuji dan Liu Ka. Tak lupa ia membawa ayam liar dan tupai yang sudah mati hasil dari buruan Liu Ma.


"Dasar anak-anak nakal, " Gerutu Liu Ma. Ia kemudian berjalan menjauh dan meletakkan alat berburunya. Di saat itulah Shasha terbangun dari tidurnya.


"Ah... Aku ketiduran."


Liu Ma yang mendengar suara agak bingung dengan tingkah Shasha.


"Bla bla bla bla." (Aku tadi habis mencuci selimut dan pakaian kalian. Setidaknya aku di sini tidak terlalu merepotkan dan membebani kalian. Jadi maafkan aku jika tertidur. Baiklah apa yang bisa aku lakukan lagi?) "


Liu Ma tidak mampu berkata-kata melihat gerak tubuh Shasha yang seolah memberi bahasa isyarat tubuh. Lalu dia mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Shasha. Ternyata di halaman belakang tergantung banyak sekali cucian. Lalu Shasha berpose seperti orang menyapu. Liu Ma pun melihat sekeliling ruangan. Ruangan ini sekarang menjadi bersih dan rapi. Tidak ada lagi debu-debu yang menempel di dinding dan kursi. Akhirnya Liu Ma tau jika Shasha yang membersihkan rumah ini.


"Bla bla bla bla " ( Aku juga bisa memasak, tenang saja, masakanku sangat lezat. )


'...'


Madara masih diam memperhatikan Shasha yang bertingkah seolah-olah sedang memasak. Posenya sangat imut,  apalagi bibir merah basah Shasha yang terus berbicara meskipun dia tidak mengerti artinya membuatnya tidak tahan lagi. Liu Ma maju dan memeluk Shasha. Gadis itu membeku tapi tidak berani bergerak. Sesuai perkiraan Liu Ma, tubuh Shasha Benar-benar lembut dan nyaman untuk dipeluk. Aroma manis dan segar khas perempuan menguar dari tubuhnya membuat Liu Ma semakin nyaman.


Tapi.


Bletak!


Bletak!


Bletak!


"Jangan membuat istri takut, " ucap Liu Sa, Liu ji dan Liu Ka.


Shasha memekik kecil melihat tiga bersaudara itu memukul kepala Liu Ma. Dia mengulurkan tangannya untuk mengusap-usap kepala Liu Ma. Liu Ma yang mendapat perlakuan lembut itu memerah karena malu. Hal yang berbanding terbalik dengan Liusa, Liuji dan Liuka. Mereka merasa cemberut karena cemburu.


Shasha yang menyadari jika mereka bertiga cemberut. Ekspresi wajah itu mengingatkan pada ekspresi wajahnya sendiri saat merajuk pada orang tuanya.  Ia jadi teringat dengan ibunya. Jika dia cemburu karena ibunya tidak memeluk dirinya seperti ibunya memeluk ayahnya. Maka Shasha juga memasang wajah cemberut seperti mereka. Akhirnya Shasha tersenyum geli dan mengelus kepala mereka bertiga secara bergantian.


Alhasil, mereka berempat memasang wajah berbinar seperti anak kecil yang mendapatkan permen.


'Mereka sungguh apa adanya dan polos,' batin Shasha.


'Istriku baik sekali, 'batin Liu Ka.


'Memang istriku yang terbaik, ' batin LiuMa.


'Hn', imut, " batin Liu Sa.


'Aku berterima kasih kepada takdir,' batin Liuji.


"Aku pulang." Liuchi muncul dari arah depan. Dia nampak berseri-seri karena mendapatkan imbalan dari keluarga Shu.


"Lihatlah, aku membawa empat keping perak. Kita bisa berbelanja untuk membeli beras di kota," ucap Liuchi bangga.  Melihat mereka semua diam, Liuchi agak bingung. Seperti ada yang tidak beres, apalagi mereka semua memegang kepalanya.


"Kenapa wajah kalian semua merah?" Pertanyaan Liuchi membuat kelima orang tadi sadar.


"Oh tidak apa-apa... Itu bagus. Kita bisa berbelanja nanti," jawab LiuMa.


'....' Liuchi masih curiga.


"Ayo makan, makanan sudah siap. Hari ini nasi beserta ikan."


"Iya, betul," jawab Liuji.


"Hn." Sa hanya bergumam.


"'Istri, ayo kita makan. Kami memasak spesial hari ini,'' ajak Liu Ka.


Liu Ka menarik tangan Shasha. Sedari tadi gadis itu hanya diam mendengarkan lima bersaudara itu mengoceh.


Shasha di suruh duduk di kursi yang terbuat dari kayu yang agak besar. Lalu mereka semua mengikuti Shasha dan duduk di tempat masing-masing.


"Makanlah daging ini, Istri." Liu Ma mengambil sumpit dan menaruh daging ikan di mangkuk Shasha.


"Benar, makan yang banyak." LiuSa yang biasa diam tidak mau kalah. Ia juga mengambil daging ikan untuk Shasha.


"Ma..ma...makan." Shasha berusaha meniru ucapan mereka.


"Hei lihat istri kita belajar bicara bahasa kita. Bagus sekali." LiuKa bersemangat melihat Shasha yang mulai belajar bahasa mereka.


"Benar, makan." Liuchi mengajari Shasha sambil memperagakan artinya.


Shasha mengangguk. Karena memutuskan untuk tinggal di sini ia harus belajar bahasa mereka.


TBC