Wise Wife

Wise Wife
Rencana



Sisi damai Shasha di kediaman Liu bersaudara berbanding terbalik dengan keadaan di ibu kota kerajaan Api. Kaisar Hago tempat asal Shasha telah mencabut semua hukuman yang di jatuhkan karena telah menemukan bukti baru yang mengkorupsi dana korban banjir yang sebenarnya. Dengan demikian keluarga Sha dinyatakan tidak terbukti bersalah mengkorupsi dana sumbangan untuk korban banjir, sehingga nama baik dan jabatannya dipulihkan. Kaisar juga memberikan kompensasi pada Sha Zi akibat ketidak adilan yang mereka terima di tahanan.


Jadi langkah pertama yang mereka tempurung tempuh adalah mencari keberadaan putrinya yang berhasil melarikan diri.


Sebagai tunangan Shasha, Hago Yu turut mengerahkan seluruh pasukan di bawah komandonya untuk mencari Shasha. Dia sungguh menyesal karena terlambat mengamankan Shasha saat penangkapan itu. Seandainya dia datang lebih cepat ke kediaman Sha maka Shasha saat ini pasti masih berada dalam lindungannya.


Kini pemuda yang menyandang gelar pangeran ketiga itu hanya bisa merasa menyesal dan berharap akan bisa bertemu kembali dengan Shasha.


.


.


.


"Liuji, ayo ke hhutann." Shasha menarik tangan Liuji agar ikut ke bukit bersama dengan dirinya. Gadis ini sangat bersemangat menuju hutan di bukit. Ada banyak sekali hal berharga yang ditemukan di bukit itu. Diam-diam Shasha merawat beberapa tanaman obat dan diam-diam menyembunyikan tumbuhan obat yang harganya sangat mahal. Namun Shasha tidak memperhatikan Liuji yang memerah hingga telinga. Wajahnya juga malu-malu karena pertama kali digandeng seorang gadis.


Liuji pun hanya menuruti kemauan istri kecilnya, entah kenapa saat mereka bilang akan pergi ke kota untuk menjual ikan tangkapan LiuSa dan Liuji, ia bersemangat untuk ikut.


Jika saja Shasha belum bisa bicara bahasa mereka pasti kelima bersaudara itu akan melarang Shasha, tapi selama tiga Minggu Shasha tinggal dan mempelajari bahasa daerah ini. Shasha sudah bisa mengerti bahasa mereka.Walaupun ucapan Shasha masih terbata-bata, ia sudah bisa mengerti sedikit bahasa yang umum digunakan sehari-hari. Memang sedikit cadel seperti anak yang baru belajar bicara. Setidaknya mereka tidak bingung dengan bahasa Shasha lagi. Hanya saja dia masih belum mengerti statusnya saat ini yang mempunyai lima suami.


"Tunggo di cini." Shasha menyuruh Liuji berjaga di depan goa yang tertutupi daun lebat. Memang ada sesuatu yang ia sembunyikan disitu. Saat jalan-jalan Shasha tidak sengaja menemukan goa ini. Di situ Shasha mengambil jamur Lingzhi yang berharga. Dia tau benar jamur ini karena pernah melihat ayahnya menghadiahkan jamur ini pada ulang tahun Kaisar. Ini adalah jamur yang hanya di minum oleh penghuni kerajaan. Harganya juga sangat mahal. Shasha yakin dengan jamur ini kehidupan mereka akan lebih baik.


Liuji memandang bungkusan yang di bawa Shasha. Sebenarnya dia agak  penasaran, tapi karena tidak ingin membuat istri kecilnya takut. Ia tidak jadi bertanya.


"Ayo kita berangkat, Liusa sudah menunggumu menunggu lama kedatangan kita."


"Baik." Shasha menaruh tangannya pada tangan Liuji. Entah bagaimana, tapi Shasha merasa terbiasa dengan perlakuan mereka yang selalu memegang tangannya saat jalan-jalan. Hal yang tidak pernah di dapatkan dapatnya dari tunangannya dahulu. Hago yu. Rasa kecewa yang besar telah menghapus rasa cintanya pada Hago yu. Dia tidak akan bisa melupakan penolakan terhadap dari Hago yu saat dirinya datang dan meminta bantuan agar ayahnya tidak dihukum. Sayangnya nada dingin dan datar yang ia terima saat itu. Bahkan Hago yu berbicara tentang pembatalan pertunangan mereka. Jika teringat dengan masa lalunya, Shasha terkadang tersenyum miris. Tapi sekarang, entah benar atau tidak, saat membuka mata hanya tatapan penuh kasih yang ia terima dari kelima bersaudara itu. Hatinya sangat penuh dengan kebahagiaan dari kasih sayang mereka. Rasanya waktunya yang dulu sungguh sia-sia menghabiskan waktu mengharapkan ekspresi penuh kasih seperti mereka dari Hago yu.


"Ayo segera berangkat agar pasar tidak tutup." Liusa mulai berjalan menuntun gerobak kuda yang mereka sewa. Liuji mengangkut mengangkat dan mendudukkan Shasha di atas gerobak dan ikut melompat ke sana. Tugasnya mengawasi tiga gentong ikan siap jual.


Liuma, Liuka dan Liuchi mendesah karena tidak bisa ikut dengan mereka. Ketiga orang itu ada pekerjaan yang harus di lakukan.


Di perjalanan Shasha dan Liuji masih belajar berbicara. Selain belajar bahasa mereka, Shasha juga mengajari  bahasanya di kota kerajaan. Jadi mereka belajar bahasa masing-masing. Sesuai dugaannya, Liuchi yang mampu belajar bahasa Shasha dengan cepat.Bahkan Shasha sangat malu pada daya tangkap pemuda itu.


"Hei, aku bukan pajangan, " gerutu Liu Sa.


"Sudah kau lihat ke depan jangan sampai kuda itu melompat ke jurang, " jawab Liuji.


"Melongcat ke julang? Kita bisa mmati!" Shasha  yang hanya mengerti  sedikit ucapan mereka agak takut untuk dengan kata yang ia mengerti, yaitu "xxxx meloncat dan ke jurang."


Melihat istrinya yang pucat, Liuji memanfaatkan kesempatan dengan berpura-pura menghibur Shasha dan memeluk erat Shasha. Kemudian menepuk lembut punggungnya.


Liuji berbisik pada Shasha dengan lembut." Bukan kita yang meloncat ke jurang. Kau jangan takut."


Di depan kereta, Liu Sa mengerucutkan bibirnya karena cemburu.


Memang selama ini, mereka berlima bersaing untuk mendapatkan perhatian Shasha, selain itu mereka juga suka mencuri-curi skinship dengan Shasha.


"Gombal mesum."


"Ah?" Shasha langsung melepaskan diri dari pelukan Liuji saat mendengar kata baru dari Liusa.


Dia ingin belajar kosa kata yang baru setiap hari. Jadi setiap dia mendengar kata-kata yang baru, Shasha selalu bersemangat mempelajarinya.


"Ah, tidak, tidak."


'Bisa gawat nanti, ' Batin Liusa. Dia masih ingat jika Liuchi kena hukuman karena dikira mengajari kata-kata kotor pada Shasha. Namun ternyata Shasha mempelajari kata-kata itu dari wanita tak tahu malu dari Mei. Tapi mereka tidak punya cara untuk menjelaskan pada Shasha arti kata-kata yang ia ucapkan.


"Jangan bicara kotor Sa!" peringat Liuji.


"Iya maaf."


Mereka akhirnya sampai di pasar. Para wanita dan putri yang tidak sengaja lewat langsung mengikuti gerobak mereka. Ketampanan mereka memang terkenal di kota ini. Oleh karena itu kaum hawa selalu menunggu di kedatangan mereka untuk berjualan.


Shasha hanya memperhatikan LiuSa dan Liuji menggelar dagangannya. Tak lama para wanita langsung berjejer. Dari yang tua hingga muda. Dari yang gemuk hingga kurus. Entah  pelayan atau wanita kaya mereka akan membeli ikan Liuji dan LiuSa walaupun tidak butuh.


"Ayo beli ini masih segar!" Teriakan Liuji langsung mengundang serigala wanita seperti gerombolan lebah yang menyengat. Shasha memandang iba pada kedua pemuda itu. Mereka berdua di lecehkan begitu saja olah para wanita . Selain memberi perak mereka juga mencuri kesempatan memegang tubuhnya Liuji dan Sa. Tapi pembeli adalah raja mau tidak mau mereka hanya diam agar ikan cepat habis.


"Hihihi aku berhasil pegang pipinya."


"Aku juga."


"Sayang sekali, aku hampir memegang itu sedikit lagi. Sayangnya dia menghindar."


"Dasar janda genit."


"Biar saja, ini kesempatan langka melihat pemuda cantik itu."


"Benar juga hihihi."


Shasha hanya menonton gerombolan wanita itu mengobrol.  Dia sebenarnya agak bingung bagaimana bisa seorang wanita begitu senang hanya karena bisa memegang kulit pemuda cantik.


Tidak lama setelah kemudian dagangan mereka habis. Sekantong perak penuh ada di genggaman tangan Liuji. Para wanita yang tidak kebagian ikan hanya bisa kecewa dan pergi. Bearti kesempatan untuk memegang pemuda cantik itu harus diundur.


"Liusa, coba antar Shasha. Barang kali dia ingin pergi ke suatu tempat. Aku akan berbelanja keperluan rumah."


"Hn." Liusa mengangguk dan menuju Shasha.


"Kau ingin pergi ke suatu tempat?"


"Iya."


Shasha menarik tangan Liusa dan mulai menjelajahi toko-toko. Dia berniat untuk mencari toko bahan ramuan obat. Tak lama kemudian mereka sampai di toko yang berbau ramuan obat. Segera Shasha masuk dan menuju ke penjualnya.


"Shasha kau yakin ingin masuk?"


"hmm."


"Ada yang bisa ku bantu nyonya dan tuan?" Penjual ramuan obat itu terlihat sopan jadi Shasha langsung meletakkan bungkusan jamur Lingzhi itu di depan penjual ramuan obat.


Meskipun ragu si penjual ramuan membuka bungkusan itu. Mantan Matanya langsung melebar melihat jamur Lingzhi itu.


"A-Aku menjualnya."


"Baik, sebentar akan aku panggilkan tuan ku. Dia seorang alkemis."


"Baik."


Pria berjanggut putih dan berambut putih datang dari dalam. Jubah putihnya membuat dirinya seperti mahkluk surgawi.


Dia meneliti jamur itu sebentar dan mengangguk.


"Berapa harga jamur yang ingin anda jual pada kami."


"Andaa tenntu tau hargaa yang layak."


"Baiklah."


Pria tua itu mengeluarkan beberapa kertas uang. Jika penjualan ikan Liuji dan LiuSa sebanyak sembilan puluh perak. Maka uang kertas yang diberikan oleh pria tua itu sebanyak lima ratus perak.


Liusa terkejut melihat uang sebanyak itu. Dia adalah tidak menyangka jika jamur itu harganya sangat mahal. Melihat uang yang disodorkan oleh pria itu, Shasha menerima uang dan tentu saja dia Ingin berterima kasih.


"Saya ingin bergu- hmmpt."


Liusa memucat mendengar kata yang ingin diucapkan oleh Shasha. Untung saja dia menutup bibir Shasha tepat waktu.


'Hampir saja.'


"Terima kasih paman, tuan. Kami permisi."


Liusa menyeret Shasha dari toko ramuan obat itu.


'Hampir saja. ' Isi hati Liusa berbicara


Tbc