
Hago As ditangkap tak lama setelah istana di kuasai. Para pejabat dan pangeran terpojok dan hanya bisa diam.
"Kakak, " panggil Hago As.
"Ck mengapa kau juga tertangkap. Padahal aku berharap kau bisa meminta bantuan dari Liu bersaudara. "
"Jangan khawatir, aku sudah mengirim pesan melalui burung elang milik Liuma, " jawab Hago As.
"Huh aku tidak menyangka jika akan mengharapkan kehadiran pria yang merebut calon permaisuriku," ucap Hago yu miris.
"Lalu bagaimana dengan pasukan bayangan khusus mu?kapan kau akan memanggil mereka. "
"Itu aku keluarkan di saat kritis. Saat ini kita hanya perlu mengikuti kondisi yang berkembang. "
"Aku juga berpikir demikian. "
Pangeran dari negeri Angin melihat sekelilingnya. Langkah pertama untuk menundukkan istana berjalan mulus. Namun prajuritnya yang mengepung istana sudah berkurang banyak saat ini. Jika mereka bertekad untuk membuat pengumuman pengambil alihan istana maka prajurit yang berada di kota kerajaan akan menyerang mati-matian. Dia tidak mungkin memaksakan tenaga prajuritnya untuk bertarung lagi.
"Seperti yang kalian duga, aku sudah menguasai istana. Jadi saat ini aku ingin kalian bersumpah setia padaku, " ucap pangeran Yang hiko.
Para pejabat dan pangeran terdiam. Mereka tidak mungkin menyerah begitu saja. Ini bukan hanya karena harga diri namun juga karena masa depan negeri Awan. Bukan rahasia umum jika kaisar negeri Angin sangat kejam terhadap rakyatnya.
*
*
*
Liuma menerima pesan yang tergantung di kaki Elangnya. Dia terkejut melihat tulisan pangeran Hago As yang mengatakan istana diserang dan para pejabat ditahan.
"Ini bencana! " ucap Liuma kesal." Belum lagi masalah perbatasan, sekarang istana sedang di kepung! "
"Liuchi, kau yang tercerdas diantara kami. Katakan apa yang harus aku lakukan?! " tanya Liuma.
"Kak, aku masih belum mendapatkan jalan keluar. "
Shasha yang tidak sengaja lewat mendengar percakapan mereka. Dia segera membuka pintu ruang kerja Liuma.
"Istriku, mengapa kau jalan-jalan. Kau harus memperhatikan tubuhmu, " ucap Liuma lembut. Meskipun dia sangat kasar dan berapi-api tapi sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat jika bertemu dengan Shasha.
"Kak Ma benar, kurasa kau belum pulih. Ada baiknya kau istirahat lagi, " ucap Liuchi mendukung nasehat Liuma.
Shasha menolak nasehat mereka. Dengan mata berapi-api dia melihat kedua suaminya ini.
"Bagaimana aku bisa istirahat jika ayah dan kakakku berada dalam kesulitan di kota kerajaan? " jawab Shasha.
"Istri, jangan marah. Kami hanya khawatir tentang kesehatanmu, " ucap Liuchi panik. Baru kali ini Shasha marah besar.
Liuma juga segera membujuk Shasha, " Adik Chi benar. Kami khawatir tentang kesehatanmu."
"Sudahlah, aku baik-baik saja. Sekarang kondisi negara sedang genting. Kita tidak bisa bersantai dan mementingkan diri kita. "
Shasha maju untuk melihat langsung peta perbatasan antara negeri Awan dan Angin. Dia mempelajari bukit dan jalan di perbatasan. Kemudian aliran sungai yang melintasi daerah itu.
"Liuchi, ikut aku. Sudah tidak ada waktu lagi untuk menawarkan perdamaian bagi negeri Angin. Kita harus menggunakan trik untuk membuat mereka menyerah. ''
Terutama karena ayah dan kakakku di kota kerajaan dalam bahaya. Aku tidak bisa membiarkan sesuatu terjadi pada mereka.
Liuchi mengangguk. Namun sebelum Shasha pergi, Liuma menuntut penjelasan dari Shasha.
"Istriku, tolong jelaskan apa yang akan kau lakukan. Bagaimanapun semua yang kau lakukan adalah tanggung jawabku?" perintah Liuma.
"Karena mereka berbuat curang terlebih dahulu maka kita juga membalas mereka. Aku akan menyebarkan bubuk diare ini pada sumber air yang mengalir sebagai sumber air. Aku tadi mempelajari jika sumber air ini mengkontaminasi seluruh mata air di wilayah perbatasan. "
Liuma terbelalak kaget, " Tapi ini juga akan meracuni sumur rakyat kita!? "
Shasha tersenyum. "Oleh karena itu aku sudah menyuruh prajurit kita menyebar penawar racun ke sumur penduduk kita. "
Ucapan Shasha membuat Liuma dan Liuchi menghela nafas lega. Tadinya mereka sangat khawatir tentang rencana Shasha. Rupanya Shasha sudah merencanakan semua dengan matang.
"Tunggu apa lagi, ayo kita berangkat, " ucap Shasha.
Liuchi mengangguk. Dia dan Shasha segera berkuda menuju puncak bukit desa.
Drap.
Drap.
Shasha mengingat tempat ini dengan jelas. Tempat ini merupakan tempat dimana Shasha menemukan daun teh. Ternyata di sana terdapat goa yang menghubungkan tempat tersembunyi itu dengan sebuah pohon besar yang akarnya mengalir air yang jernih.
"Istri, apa kau yakin ini berhasil?"
"Kita bisa melihat hasilnya besok. Setelah prajurit negeri Angin keracunan maka kita bisa menekan pemimipin yang mengepung istana untuk mundur. "
"Yah, semoga saja berhasil. "
Shasha mengangguk. Dia kemudian menabur bubuk putih yang sudah ia racik sebelumnya. Kemudian mereka pergi dari situ.
"Liuchi, ayo kita mengawasi prajurit yang menyebar penawar racun. Jangan sampai ada yang tertinggal. "
Liuchi mengangguk. Dia meraih kudanya dan membawa Shasha menuju pemukiman. Para warga yang mereka lewati menyapa dengan ramah. Oleh karena itu Shasha dan Liuchi memutuskan untuk berjalan kaki.
"Istri Liu, sudah lama sekali tidak bertemu, " sapa An koi.
"Kakak An, seharusnya anda datang mengunjungiku, " ucap Shasha.
"Aku takut mengganggu kalian yang sudah menjadi pejabat yang sibuk. "
"Kakak An tidak perlu sungkan. Aku tidak sesibuk itu. "
Bla bla bla.
Liuchi hanya diam dan menanyakan pekerjaan prajurit melalui kode. Satu demi satu prajurit yang ditugaskan Shasha mengangguk tanda pekerjaan mereka sudah selesai. Kini tinggal menunggu hasilnya.
Tbc