Wise Wife

Wise Wife
Gugup



Setelah sampai di rumah, Liu Ma memanggil Shasha dan ji untuk makan siang. Kali ini yang memasak adalah Liu Sa. Dengan resep yang pernah diajari Shasha Sebelumnya, Liu Sa berhasil memasak ayam pegar yang lezat. Ayamnya terlihat menggiurkan di atas daun teratai, juga ikan bakar madu yang dimasak oleh Liu Ma. Semenjak kedatangan Shasha standard hidup mereka menjadi lebih baik. Kini Liu Sa dan Liuji tidak hanya berjualan ikan di kota. Mereka juga berjualan teh racikan Shasha yang di tanam oleh Liuchi. Kadang kala, Shasha juga menjual tanaman obat yang ia ambil dari bukit. Hasil dari penjualannya, Shasha membelikan jubah untuk mereka semua. Juga beberapa alat dapur dan selimut.


Liu Ma sekali lagi memanggil mereka berdua yang memandang makanan di atas meja dengan senang. Lalu Liuji dan Shasha bergabung dengan Liu bersaudara di meja makan. Mereka mulai makan dengan tenang, sekali-sekali kelima saudara itu mengambilkan daging atau sayur ke mangkuk Shasha.


Biasanya Shasha akan membalas perhatian dari mereka berlima. Tapi kali ini kelima saudara itu hanya disuguhi ucapan terima kasih dan wajah menunduk Shasha.


Liu Ka menyadari jika sadari tadi Shasha mencuri pandang pada dirinya dan keempat saudaranya. Setelah menatap salah satu dari mereka, Liu Ka mendapati wajah merona Shasha yang nampak cantik.


'Apa yang terjadi pada Shasha?' Batin Liu Ka.


Diam-diam Liu Ka memberi isyarat kepada Liu Ma tentang perilaku Shasha yang berbeda dari biasanya. Bukannya yang lain tidak menyadari tentang perilaku Shasha yang tidak seperti biasanya, namun mereka tidak berani bertanya langsung dan hanya diam-diam menelan rasa penasarannya.


"Akuu ssselesai." Shasha berdiri dari tempat duduknya. Ia menuju ke arah dapur dan mencuci bekas mangkuk tempat makan tadi. Setelah itu dia menuju kamar tidur dan memikirkan status yang baru ia sadari.


Kelima Liu bersaudara hanya terdiam dan saling melemparkan pandangan bertanya kepada masing-masing dari mereka. Sayangnya tidak seorang pun tau penyebab perubahan sikap Shasha yang lebih pendiam.


"Aku akan bertanya pada istri Yu hiko, " ucap Liu ji.


"Memang perubahan sikap istri kita terjadi setelah pulang dari mencuci di sungai." Liu chi turut menanggapi pernyataan Liu ji.


"Aku jadi khawatir jika istri marah dan tidak menginginkan kita lagi, kak." Liu Sa berkata pada Liu Ma tentang ketakutan nya.


Liu Ma "...."


"Apa karena kita terlalu miskin?" Liu Ka menjadi lebih pesimis. Dan ucapannya tadi membuat seluruh saudaranya menekuk lehernya ke bawah. Kata-kata Liu Ka memang kebenaran yang sesungguhnya. Meskipun bukan hanya keluarga Liu yang miskin namun keluarga yang lain tidak semiskin mereka. Setidaknya keluarga yang lain bisa memberi jubah sutra walau hanya sepotong untuk istri mereka. Tidak seperti mereka yang justru dibelikan pakaian baru oleh Shasha dari hasil menjual tanaman obat dan teh.


Memikirkan hal ini perasaan mereka terasa pahit. Mereka sungguh takut kehilangan istri imut yang luar biasa.


Secercah ide terlintas di pikiran Liu chi. Ia mengambil gulungan kertas dan sikat tinta.


"Biasanya istri senang jika kita belajar sastra dan melukis. Sekarang kita pergi ke kamar istri untuk memintanya mengajari sastra."


Dalam sebulan ini Shasha mengajari kelima saudara Liu untuk menulis dan sastra. Yang agak sulit diajari adalah Liu Ma, Liu ji dan Liu Sa. Tentu saja karena Liu chi dan Liu Ka tidak merasa kesulitan karena mereka berdua sudah bisa menulis sebelumnya. Saat belajar bersama saat itulah Shasha sering tersenyum senang jika mereka berhasil menulis dengan baik. Jadi dalam pikiran mereka, Shasha akan kembali ceria jika mereka mengajak Shasha belajar.


Di dalam kamar, Shasha termenung karena memikirkan banyak hal.


'Bagaimana ini bisa terjadi di dalam hidupku.'


Bahkan dalam seribu tahun dia tidak mungkin akan memimpikan mempunyai suami sebanyak lima orang. Dan mereka semua pria berwajah cantik dengan ilmu seni bela diri yang tinggi.


'Bagaimana jika aku menjadi bahan tertawaan di ibu kota?' batun Shasha.


'Tunggu dulu, bukankah Shasha sang putri dari pejabat Sha sudah meninggal karena bunuh diri.'


'Jika gadis itu tau akan mempunyai lima suami yang cantik dan memiliki ilmu bela diri yang tinggi, dia pasti akan bunuh diri lagi karena kesal memilih bunuh diri sebelum melihat para suaminya...'


'Terlebih, mereka semua sangat memanjakan ku...'


'Jika di ibu kota kerajaan aku harus bersaing dengan putri pejabat yang lain untuk memenangkan hati pangeran Hago yu, sekarang justru aku memiliki lima pria cantik yang setara dengan Hago Yu...'


'Baiklah, sudah seharusnya aku membiasakan diri dengan mereka dan memandang mereka dengan cara pandang yang baru. Yaitu sebagai suami...'


'Oh, aku benar-benar beruntung memiliki lima pria di hidupku... Apalagi tubuh mereka semua sangat indah...'


Wajah Shasha langsung merona hebat karena membayangkan mereka berlima yang pernah membuka jubahnya hingga bertelanjang dada...


'Ini terlalu indah...'


Suara ketukan di pintu menyadarkan Shasha dari lamunannya. Perlahan ia membuka pintu kamarnya, dan saat pintu itu terbuka. Para suaminya telah berjajar di pintu sambil membawa gulungan dan sikat tinta. Mereka seperti anak kecil yang mencoba membuat ibunya senang karena telah melakukan kenakalan.


Mau tak mau Shasha merasa geli dengan ekspresi wajah mereka yang yang polos seperti anak kucing.


"Istri mari ke kita belajar..." Liu Ma berkata sambil malu-malu.


'Ya dewa, kenapa anda memberiku suami yang imut seperti ini.'


Akhirnya Shasha meraih tangan Liu Ma dan Liu Ka yang kebetulan dekat dengan Liu Ma ke ruang tengah. Kontan wajah kedua pria itu memerah sempurna. Namun hal itu membuat ketiga saudaranya yang lain cemberut.


"Baiklah, mari kita belajar suami..." teriak Shasha bersemangat.


.


.


.


Mereka berenam tidak menyadari bahaya yang mengintai di kegelapan. Para pemburu uang hadiah diam-diam mengawasi Shasha untuk ditukarkan dengan uang hadiah dari keluarga Sha.


Sosok Shasha sangat sesuai dengan permintaan nyonya besar keluarga pejabat itu.


"Besok ketika sedang sendirian, kita culik gadis itu."


"Baik!" Ketiga orang itu perlahan menghilang di antara pepohonan.


TBC.