
Di dalam kegelapan karena mata yang tertutup. Shasha berdoa agar suaminya segera menemukan dirinya. Ia mencoba bergerak namun tangan dan kakinya terikat.
Shasha diam dan mencoba memikirkan sesuatu, ' suara ini seharusnya aku sekarang berada di sebuah perkotaan.'
'Tapi kota yang mana, berapa lama aku pingsan?'
Suara ringikan kuda beserta guncangan yang ia rasakan di tempatnya berbaring membuat Shasha yakin jika tengah berada di sebuah kereta kuda. Sebuah pemikiran mengerikan menghantam hatinya.
'Apakah keberadaanku sudah diketahui?'
.
.
.
Jauh dari tempat Shasha berada, saat ini penduduk desa tengah melakukan pencarian semalaman. Obor yang seperti titik cahaya terlihat menyebar di seluruh desa. Bahkan sekarang titik-titik api tersebut berkumpul menuju bukit yang berada di dekat desa mereka.
"Liu bersaudara, aku harus minta maaf karena akan menghentikan pencarian ini. Kami sudah berkeliling semalam dan hari sudah menjelang pagi," kata Hi zen.
"Kalian harus menemui petugas di kota untuk melapor. Sudah saatnya warga di yang lain untuk bekerja," sambung Hi zen. Ucapan kepala desa itu mendapat anggukan dari pria yang lain.
Dengan nada sedih Liu Ma menangkupkan tinjunya untuk berterima kasih. Para pria yang ikut melakukan pencarian membubarkan diri satu persatu. Mereka terus memberikan semangat pada Liu bersaudara agar tidak putus asa lalu meninggalkan mereka. Setelah semua orang pergi meninggalkan Liu bersaudara, Liu Ma mengajak adik-adiknya untuk kembali.
"Apa kita akan menyerah?" Tanya Liu Sa.
"Jika kalian menyerah itu hak kalian tapi aku akan terus mencari istriku!" Lanjut Liu Sa yang tengah emosi. Ada setitik air mata di sudut matanya. Wajahnya juga memerah karena menahan marah dan sedih.
"Tenanglah Sasuke," bujuk Liu chi.
"Kakak benar, kita harus pulang ke rumah terlebih dahulu. Jika takdir mengijinkan kita akan bertemu istri kembali," ucap Liu ji.
Mereka berlima pun kembali pada ke rumah. Dalam perjalanan karena pulang tidak ada satupun yang mengucapkan sesuatu, pikiran mereka tenggelam ke dalam ingatannya tentang Shasha di benak mereka masing-masing. Tangan yang mengepal menandakan jika mereka tengah menahan emosi yang siap meledak.
Sesampai di rumah Liu Ma langsung berdiri di depan para saudaranya.
"Kumpulkan baju yang di beli istri untuk kita, bawa semua baju yang layak. Lalu ambil perak yang kita punya. Kita akan mencari istri walau harus membalik seluruh kota," perintah Liu Ma pada saudaranya.
"Apakah kita akan melapor ke petugas?" Tanya Liu Ka.
"Itu percuma karena kita orang miskin, mereka tidak akan menghiraukan laporan kita. Kita hanya bisa mengandalkan diri sendiri untuk mencari keberadaan istri," ucap Liu chi.
"Itu benar jadi persiapan persiapkan semuanya, kita akan mulai mencari istri hari ini juga ke kota kerajaan."
Keempat Liu itu langsung menuju kamarnya masing-masing. Tidak ada seorangpun dari mereka yang menyadari jika Liu Ma menggenggam sebuah simbol. Dari yang pernah ia ketahui simbol ini berasal dari kota kerajaan. Ini adalah simbol tutup minuman keras yang sering di bawa ayahnya pulang dahulu.
"Aku akan menemukan anda, istriku," janji Liu Ma.
Liu Ma melangkah menuju kamar Shasha. Ia mengambil perak yang selama ini dikumpulkan Shasha dari hasil keringat Liu bersaudara ditambah dengan hasil penjualan teh dan tumbuhan obat Shasha. Secara mengejutkan jumlah perak yang dikumpulkan istrinya ternyata sangat banyak. LiuKa,Liu ji dan LiuSa datang menyusul Ma ke kamar Shasha. Mereka juga terkejut melihat tumpukan perak yang berada di kotak berbentuk peti.
"Dengan jumlah perak sebanyak ini...ini.." Liu Ka tidak bisa berkata-kata saat melihat perak simpanan sang istri.
"Ini bearti sebenarnya kita sekaya keluarga Song," jawab Liu Ma. Liu Sa dan Liu ji saling berpandangan lalu tenggelam dalam pikirannya. Semenjak kedatangan Shasha, rumah ini menjadi layak disebut rumah. Mereka membayangkan tawa bahagia Shasha ketika membelikan mereka pakaian. Tatapan berbinar-binar dirinya ketika para Liu mencicipi masakan yang ia buat. Juga sorot mata marah ketika para Liu melarikan diri saat Shasha menyuruh mereka belajar. Kenangan itu semua membuat perasaan mereka sangat sakit hingga tak tertahankan.
Liuchi muncul untuk melihat keributan yang terdengar di dalam kamar Shasha. Tanpa ia duga para saudaranya mengelilingi tumpukan perak dikotak. Sudah ia duga jika istri kecil mereka pandai mengatur keuangan keluarga. Lihat saja keadaan rumah beserta pakaian mereka. Berkat Shasha semua yang ada di rumah ini dalam kondisi baik, bersih dan indah. Ditambah keadaan ekonomi mereka yang meningkat drastis. Istrinya benar-benar bintang keberuntungan bagi Liu bersaudara.
Merasa kerinduan yang menghantam hatinya, Liuchi mendesah," kakak, kita harus segera mencari istri kita."
"En," Liu Ma mengangguk.
"Ini petunjuk kita untuk menemukan Shasha." Liu Ma menunjukkan simbol tutup guci minuman yang ia temukan saat mencari keberadaan Shasha. Ia menemukan benda ini dekat sobekan jubah Shasha yang ia kenakan kemarin.
"Jadi Shasha diculik orang-orang dari kota kerajaan?" Liu Sa mencoba menyimpulkannya.
"En," jawab Liu Ma.
"Bearti kita harus mencari ke kota kerajaan," ucap Liu Ka.
"Tentu saja," jawab Liu chi.
.
Dengan semangat membara mereka melangkah meninggalkan rumah dan desa ini. Hanya ada satu tujuan saat ini yaitu mencari istri kecil mereka yang telah hilang. Berbekal baju dan perak simpanan sang istri mereka melangkah menyusuri bukit untuk sampai ke kota. Dari situ mereka harus melewati beberapa desa dan juga sungai untuk sampai ke kota.
.
.
.
Dalam kegelapan karena matanya tertutup, samar-samar Shasha mendengar suara percakapan seseorang. Ia yakin jika itu adalah suara orang yang menculiknya dan pemberi upah. Ia mencoba menggerakkan tubuhnya tapi ternyata kondisinya masih terikat tali yang kuat.
"Ini upahmu."
"Terima kasih tuan muda, senang bekerja sama dengan anda."
" Pergilah, pergilah."
Suara tawa dari seseorang yang menerima uang perlahan menghilang. Setelah keheningan sesaat Shasha mendesah lega namun begitu terdengar langka langkah kaki yang mendekat, tubuhnya menegang dan menjadi waspada. Jantungnya terasa melompat karena gugup bercampur dengan rasa takut. Tubuhnya bergetar seperti kucing ketakutan dan sesaat kemudahan dia merasakan tekanan pada tengkuknya hingga membuatnya kehilangan kesadaran sekali lagi.
.
.
.
Kelima Liu bersaudara itu berhasil sampai ke kota tempat Liu Sa dan Liu ji berjualan. Para gadis dan ibu-ibu yang melihat kedatangan Liuji dan LiuSa bertanya-tanya kenapa mereka tidak membawa ikan. Terlebih kali mereka berdua bersama dengan tiga orang pria yang sama tampannya dengan mereka berdua.
Perasaan merinding tiba-tiba menjalar di seluruh tubuh kelima Liu ini. Waktu mereka memperhatikan sekitar ternyata puluhan gadis telah mengelilinginya mereka berlima dengan sorot mata lapar.
"Kyaa mereka tampan sekali!" Teriak salah satu wanita yang mengelilingi mereka berlima.
Secara insting kelima bersaudara itu kelompok melompat dan berlari untuk menghindar dari sekumpulan ibu-ibu dan gadis yang beringas. Padahal awalnya mereka ingin bertanya pada pedagang beras yang biasanya menjadi langganannya untuk mendapatkan tumpangan kereta kuda yang mengangkut barang. Tapi akibat peristiwa tidak terduga ini akhirnya mereka berlari hingga perbatasan kota.
"Sudah kita jangan lari lagi, mereka tidak akan sanggup mengejar kita sampai ke sini," ucap Liu Ma.
"Di situ ada pengguna penginapan, mari kita bermalam di sana dan mengisi perut." Liu Ka menunjuk ke arah penginapan kecil di depan mereka berlima.
"En," jawab Liu Ma.
"Ngomong-ngomong para wanita di kota sangat bersemangat, aku jadi penasaran bagaimana cara mu berjualan di sana tanpa di lecehkan oleh mereka?" Liu Ka memandang LiuSa dan Liu ji yang berjarak berjalan didepan didepannya.
"Kami terbiasa dilecehkan," jawab Liuji.
LiuMa, Liuchi, LiuKa terdiam dan hanya bisa melihat dengan simpati kedua saudaranya yang berjuang demi mendapatkan perak.
LiuSa hanya diam karena merasa ngeri membayangkan dirinya dipegang-pegang oleh para wanita itu. Seandainya tangan yang memegangnya itu milik istri tentu lebih baik.
Tbc