
Liuji membawa keempat saudaranya dan Shasha ke tempat dimana terdengar suara jeritan. Secara mengejutkan Liuong juga masuk bersama warga desa yang lewat. Sebenarnya dia melakukan ini agar bisa memaksa lima bersaudara Liu untuk menikahi Liu yuyu. Jelas Liuong mengira jika rencana putrinya akan terwujud dengan lancar.
Dia mendobrak pintu kamar belakang dimana putrinya dan pelayan Liu bersaudara melakukan hal hina. Liuong tidak menyadari jika jumlah Liu bersaudara masih lengkap. Jadi dengan bersemangat Liuong menerobos masuk dan hanya disuguhi pemandangan putrinya yang menjerit ketakutan dibawah pria yang tidak ia kenal.
"Apa yang kau lakukan pada putriku! " teriak Liuong. Dia menarik pemuda itu dan memukulnya hingga terlempar jauh. Sementara itu, Liu yuyu menangis dan berusaha menutupi tubuhnya.
"Paman ong, apa yang kalian lakukan di markas kami? " tanya Liuji yang berpura-pura tidak tau apapun.
Liuchi merasa ada yang janggal dengan semua ini. Dia melirik Liuji dan tiba-tiba menyadari sesuatu. Akhirnya Liuchi ikut bermain peran bersama Liuji.
"Jika paman ingin menikahkan Liu yuyu dengan Suni, kami pasti sudah menyetujui dari kemarin. Jadi Liu yuyu tidak perlu berhubungan secara sembunyi-sembunyi dengan Suni. Bagaimanapun Suni sudah kami anggap keluarga kami sendiri. "
Para warga yang melihat peristiwa ini menunjuk jika Liuong membesarkan putri yang cukup berani. Mereka mengagumi tindakan Liu yuyu yang memperjuangkan cintanya dengan Suni. Jadi dalam hati, mereka menganggap jika Liu yuyu mencintai Suni tapi Liuong yang serakah tidak mengijinkan karena status Suni yang rendah. Padahal wajah Suni tidak buruk. Hanya saja dia sedikit gelap.
"I-itu... " jawab Liuong gugup. Dia tidak bisa menghindar dari omongan orang atau nama baik putrinya tercemar.
"Paman tidak perlu gugup. Kami akan menikahkan Suni dengan meriah dan memberikan hadiah pernikahan dengan membangun rumah makan untuk Suni. "
Mata Liuong berbinar, sangat berbeda dengan Liu yuyu yang menangis tersedu-sedu. Impiannya untuk menjadi istri sepupunya yang luar biasa hancur tak bersisa.
"Ayah~" rintih Liu yuyu.
"Nasi sudah dimasak, kita tidak bisa menghindar atau kau tidak bisa menikah seumur hidup. Lihat, orang-orang sedang mengawasi kita. "
Liu yuyu tidak berani membantah.
Selain Liuma dan Liuchi, ketiga Liu bersaudara masih tidak mengerti apa yang terjadi. Mereka hanya mengikuti ucapan Liuchi dan Liuji.
"Paman, sebaiknya anda membawa sepupu pulang dan mempersiapkan pernikahan. Kami akan menyiapkan mahar pertunangan untuk Suni, " ucap Liuma.
Para warga pun bubar setelah mendengar keputusan Liuma. Sebagai jenderal yang berjaga di perbatasan, mau tak mau mereka segan dengan sulung Liu tersebut.
Liuong dan Liu yuyu juga kembali ke rumah. Sementara itu, Suni masih pingsan karena pukulan Liu ong tadi di bawa ke kamar pelayan.
Liuji mengajak saudaranya ke ruang kerja. Shasha mengikuti mereka dan berjalan dengan lambat tangannya dipegang Liuma yang menggantikan Liuka.
"Istri, apa kau baik-baik saja. "
Tanpa Shasha ketahui, keempat Liu yang belum mendapatkan jatah memasang telinganya lebar-lebar. Dia tidak sabar untuk mendapatkan giliran. Tentu saja ini karena mereka tidak sabar mendapatkan giliran.
"Aku akan baik - baik saja saat jika beristirahat sejenak. "
"Istirahatlah dengan baik," ucap Liuma. Dia memberi isyarat pada bibi Mo untuk memapah Sha sha ke kamar.
Di ruang kerja, kelima Liu bersaudara membahas sesuatu yang penting.
"Kak, tadi malam prajurit yang aku bawa berhasil menangkap mata-mata negara Angin, " lapor Liuji.
"Apa informasi yang kau dapatkan dari mata-mata itu? " tanya Liuma.
"Dia tidak masih tidak mau bicara, " jawab Liuji.
"Bagaimana menurutmu Liuchi? " tanya Liuma pada adiknya yang jenius ini.
"Kita harus mewaspadai gerakan negeri Angin, persiapan prajurit kita untuk perang. Karena aku merasa aktivitas mereka meningkat beberapa hari terakhir. "
"Ada beberapa kegiatan yang dicurigai sebagai pasokan senjata. seberang sungai, kami melihat tenda prajurit yang cukup besar. "
"Aku takut jika perang segera pecah Kak. Oleh karena itu kita harus bersiap," ucap Liusa.
"Lalu bagaimana persiapan prajurit kita? " tanya Liuma pada Liusa.
"Mereka luar biasa siap. Bela diri mereka juga tidak rendah. "
"Itu bagus. "
Liuchi memberikan pendapat pada Liuma, "Kau harus segera melapor pada yang mulia. "
''Baiklah. "
"Kak.. kita harus menyuruh Liuka, perbanyak senjata pelempar batu. Liusa, latih prajurit lebih keras lagi, " ucap Liuchi.
Liuka mengangguk. "Aku setuju dengan Liuchi, Kak. "
"Baiklah. Laksanakan segera. "
Mereka berempat segera meninggalkan ruang kerja Liuma dan melakukan rencana tadi.
"Liuchi, kau juga urus pernikahan Liu yuyu. " perintah Liuma sebelum Liuchi keluar ruangan.
"Apa, mengapa aku? " tanya Liuchi.
"Karena kau satu-satunya yang bisa menghadapi keserakahan paman Ong. "
"Baiklah... "
Liuchi mendesah karena tugas menyebalkan ini.
Setelah mereka pergi, Liuma menulis surat dan mengikatnya pada kaki burung elang yang mereka berlima latih ke Hago as.
Lalu ia juga menyuruh prajuritnya menuju kota kerajaan untuk membawa surat kepada kaisar. Semua tidak boleh meleset atau pertahanan negeri Awan akan kandas.
Liuma melihat dingin Suni yang berlutut di lantai. Pria ini memohon agar dia diijinkan untuk bekerja disini.
"Kau berniat jahat pada kami Suni. Jadi tidak ada tempat untukmu di markas ini. "
"Maafkan budak ini tuan muda! " rintih Suni sambil menangis.
"Hei, kau akan menjadi suami Liu yuyu. Jadi kau tidak bisa menjadi pelayan kami. Jangan khawatir, kami akan memberikan rumah makan untukmu sebagai hadiah pernikahan. "
"Tuan muda..."
"Sudahlah. Pulanglah ke rumah dan kami akan mengurus pernikahanmu. "
Suni merasa tidak berdaya dengan keputusan Liuchi. Andai saja dia tidak serakah mungkin dia bisa bekerja di sini, tidak hanyamemiliki upah yang tinggi bekerja di markas ini juga membuat orang segan padanya. Sekarang dia harus mencari uang banyak untuk pengobatan ibunya. Dia tidak yakin bisa mendapatkan penghasilan sebesar gaji di markas ini.
tbc