
Jangan salahkan bunda mengandung ayahpun ikut urun. Itu mungkin istilah yang cocok untuk melihat reaksi kelima Liu yang sedang terbengong di depan istana hujan. Mulut menganga terbuka, badan membeku dan kepala terangkat ke atas karena mengagumi keindahan istana di depan mereka. Mata membesar dan terus menatap kagum istana hujan membuat ekspresi cantik mereka hancur total. Kini dengan ekspresi wajah seperti itu kelima Liu tak jauh berbeda dengan seperti orang idiot tanpa jiwa.
Bisa dimaklumi jika mereka terbengong dengan kemegahan istana, mereka tidak pernah melihat kemegahan semacam ini di desa terpencil. Seumur hidup hanya bangunan yang terbuat dari kayu saja yang ada di desa. Tidak ada bangunan berukir dengan karya seni yang tinggi dan mewah disana. Jikapun ada rumah yang besar itu hanya rumah yang terbuat dari kayu. Dan rumah kepala desa adalah bangunan yang paling besar dan memiliki ukiran bunga yang indah yang pernah mereka lihat tapi sekarang di depan mereka telah menjulang tinggi istana beserta kemewahannya. Ukiran halus beserta lukisan karya seni yang luar biasa menghias dinding istana. Lampion bergambar dan bertuliskan puisi berwarna merah, ditambah bangunan bertingkat seperti menara yang mereka sendiri tidak tau namanya membuat mereka tak bisa berkata-kata.
"Kakak, apakah kita berada di pintu surga?" Tanya Liuji.
"Entahlah aku tidak yakin," jawab Liu Ma dengan wajah yang masih terbengong.
Hago as sungguh merasa geli melihat tingkah kelima Liu yang terbengong mengagumi keindahan istananya. Pada saat mereka bertarung, aura mereka sepertinya seperti dewa Yama yang hendak mencari mencabut nyawa, tapi saat melihat istananya sikap mereka berubah seratus delapan puluh derajat menjadi anak kecil polos yang tidak pernah melihat bangunan mewah.
"Saudara dermawan, silahkan masuk ke dalam," ucapan sopan Hago as memulihkan kesadaran mereka kembali.
"Oh, eh baik. Terima kasih yang mulia," jawab Liu Ka.
Ia menggaruk kepalanya karena salah tingkah.
Selain Liu Ka, keempat saudaranya hanya memalingkan wajah karena merasa malu akan tindakan konyol mereka barusan.
"Silakan saudara,"
Dengan ajakan Hago as kesekian kalinya, mereka akhirnya mengikuti langkah Hago as menuju aula utama.
Di aula utama tempat menyambut kedatangan tamu, para selir dan pelayan cantik berdatangan menyajikan masakan. Gerakan halus semua wanita di istana ini bagaikan sebuah tarian indah karena keanggunan seluruh selir dan pelayan wanita.
Pada saat Hago as hadir, seluruh selir dan pelayan wanita menunduk untuk memberi hormat. Kekompakan dan kelembutan gerak gerik mereka membuat gerakan mereka seperti sebuah protokol yang harus di lakukan setiap hari.
Kelima Liu bersaudara bertambah kagum dengan segala hal yang berkaitan dengan istana. Segera mereka berlima menyesuaikan diri dengan bersikap sopan seperti Hago as. Tanpa Hago as sadari, diam-diam mereka meniru gerakannya yang tenang dan berkharisma.
Seorang selir kehormatan menuangkan teh di cangkir Hago as. Begitu pula pelayanan wanita yang berada di samping masing-masing Liu. Mereka turut menuangkan teh dan segera meninggalkan mereka berenam menuju luar ruangan.
Hago as mengangkat tangannya mengambil teh dan menikmati teh dengan cara anggun dan beretika. Liu bersaudara langsung melirik ke antara satu dengan lainnya. Seolah mereka mengerti apa yang di pikiran saudaranya, mereka mengikuti gerakan elegan Hago as.
"Silakan saudara menceritakan tentang seseorang yang anda cari di kota kerajaan ini?" Tanya Hago as.
Perkataan sang pangeran jika didengar dari oleh orang lain tentu akan terasa ketulusan batin hatinya, namun tidak untuk para Liu. Cerita sang ibu semasa hidup masih melekat erat di jiwa mereka.
"Tapi kami tidak ingin merepotkan anda, yang mulia pangeran," jawab Liu chi, walaupun dengan nada yang tidak rela.
"Pangeran ini ingin membalas budi, jadi tolong jangan sungkan," sela Hago as.
Dalam pikiran Hago as, dia ingin menahan kelima orang ini selama mungkin di istananya. Saat-saat genting menjelang pemilihan putra mahkota, dirinya benar-benar membutuhkan praktisi bela diri yang tinggi seperti mereka untuk melindungi dirinya. Sudah tak terhitung jumlah pembunuh bayaran yang menyerang dirinya baik di dalam maupun di luar istana.
Tentu saja Hago as tahu jika para pembunuh itu adalah orang-orang Hago yu. Hanya kakaknya itu yang menjadi saingan untuk mendapatkan posisi sebagai putra mahkota. Ambisinya terasa begitu menakutkan karena dia tega mengambilnya mengambil nyawa para saudaranya yang ia lain.
Kali ini tidak ada bukti mengenai kejahatannya, namun Hago as yakin suatu saat bau busuk bangkai yang disembunyikan Hago yu akan terungkap.
Liuchi dan Liu Ka berpandangan. Mereka berdua diam-diam menganalisis situasi saat ini. Mana mungkin seorang pangeran bersedia membantu jika tidak menginginkan sesuatu dari orang yang ia bantu. Omong kosong masalah balas budi sebab biasanya seorang pangeran akan memberikan hadiah besar bagi dermawannya.
Ditengah Liuchi dan Liu Ka sibuk memikirkan segala kemungkinan tentang rencana Hago as, LiuMa, LiuSa dan Liuji masih sibuk meminum teh yang disediakan oleh pelayan tadi.
"Teh ini bagus, sayangnya tidak seenak teh buatan istri," celetuk Liu Sa.
"Oh benarkah? " Hago as bersikap seolah tertarik karena ingin menumbuhkan persahabatan dengan mereka.
"Benar, istri selalu mengumpulkan air embun untuk menyeduh teh untuk kami," jawab Liu ji dengan bangga.
Hago as agak mengerutkan alisnya saat mencerna ucapan mereka berdua.
"Kalian seperti membicarakan satu orang, oh maaf tentu saja itu tidak mungkin, seorang istri memiliki lebih dari satu suami merupakan hal yang hina. Di kota kerajaan ini wanita seperti itu di anggap Vixen dan akan di tenggelamkan ke danau."
Mata mereka berlima membola saat sebuah kenyataan diungkapkan oleh Hago as. Mereka menunduk untuk menghindari wajah pucat mereka terlihat.
' Jadi di kota kerajaan ini para wanita dilarang mempunyai lebih dari satu istri,' batin mereka berlima.
Mereka hampir saja mengungkapkan hal yang dianggap tabu. Syukurlah pangeran di depan mereka ini memberi tahu informasi itu sebelum terlambat.
"Hahaha benar, istriku hahaha." Liu Ma tertawa senang karena merasa menang dari adik-adiknya. Apalagi mereka sendiri yang mengakui jika Shasha adalah istrinya, hal itu membuat Liu Ma gembira.
Kegembiraan Liu Ma membuat Liu chi kesal. Dia memikirkan sesuatu untuk melampiaskan rasa jengkelnya.
"Kakak pertama, sepertinya ilmu bela diri kakak tadi agak melemah. Bagaimana jika kita berlatih dahulu?" Tanya Liu chi.
"Benar juga," Liu Sa tersenyum mengerikan ke arah Liu Ma.
Ia bisa menebak pikiran Liu chi dengan mengajak kakak pertama nya berlatih.
"Aku sudah lama tidak mendapatkan bimbingan kakak pertama," kata Liu ji.
"Itu benar," sambung Liu Ka yang kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Haho as," yang mulia kami minta ijin menggunakan halaman anda untuk berlatih."
"Oh tentu saja. Silakan," jawab Hago as.
Wajah Liu Ma memucat melihat keempat adiknya ingin mengeroyok dirinya karena cemburu.
"Tu..tunggu dulu."
Terlambat, Liu Ma sudah dibawa terbang ke halaman oleh Liu Ka. Lalu Liu Sa dan Liuji langsung menyerang Liu Ma dengan senyum mengerikan di wajah mereka. Liu Ma harus mati-matian menghindari serangan keempat saudaranya yang sedang makan cuka.
.
.
Kondisi Shasha sudah membaik. Hari-hari yang ia lalui dihabiskan untuk menyendiri di bawah pohon bunga ceri. Sebuah buku berada di tangannya, meskipun demikian dia sama sekali tidak membaca buku itu. Pikiran Shasha menerawang memikirkan kelima suaminya yang entah bagaimana kabarnya.
Dalam lamunannya ia samar-samar mendengar suara percakapan para pelayan wanita yang tak jauh dari tempat duduknya.
"Benarkah ada pria setampan itu?"
"Benar mereka berjumlah lima orang, pelayan dari istana hujan tadi dengan semangat menceritakan ketampanan mereka dan ilmu bela diri mereka yang tinggi."
"Lalu bagaimana ciri-ciri mereka?"
"Ada yang berambut panjang, ada yang memiliki garis di pipi, juga ada yang memiliki rambut keperakan seperti orang tua."
Deg
'Kenapa ciri mereka sama seperti para suamiku?' batin Shasha.
Kemudian ia fokus mendengarkan suara perbincangan kedua wanita pelayan itu lagi.
"Menurut pelayan di istana hujan, mereka berlima seperti bukan orang kota kerajaan."
"Lalu..."
"Mereka sempat mencuri dengar dari percakapan majikannya jika kelima orang itu mencari keberadaan seseorang di kota kerajaan ini."
Wajah Shasha awalnya memucat kini mendapatkan kembali rona wajahnya. Tangan Shasha secara tak sadar memegang buku medis dengan erat hingga hampir merusak buku itu.
'Tidak salah lagi. Mereka adalah para suamiku.'
Kebahagiaan meluap dari diri Shasha karena terharu. Dirinya sungguh tak tidak menyangka jika para suaminya rela mencari istri yang hanya tinggal dengan mereka selama kurang dari tiga bulan.
Sayangnya di tengah euforia kebahagiaannya. Mama Shu datang dan menyampaikan berita kurang menyenangkan.
"Nona Shasha, Pangeran Hago yu telah menunggu anda di aula tamu beserta tuan dan nyonya besar."
TBC