Wise Wife

Wise Wife
Asal mula



Sebagai gadis yang tidak memiliki kemampuan di bidang seni bela diri, Shasha terpaksa hanya bisa pasrah ketika si penculik membopongnya dari tempat satu ke tempat yang lain. Terlebih kondisinya yang dalam keadaan terikat dan mata tertutup membuat dirinya tak berdaya. Ribuan doa ia panjatkan agar bisa melarikan diri dari penculik ini sehingga bisa berkumpul kembali dengan para suaminya.


Shasha hanya bisa mengandalkan pendengaran untuk mengetahui kondisi diluar dari kereta kira ini. Tadi malam saat suara langkah kaki terdengar mendekat tiba-tiba tubuhnya melayang dan ia dilempar ke arah tempat yang ia duga kereta kuda. Dan benar saja tidak lama setelah ia dilempar oleh ke dalam tempat ini, terdengar suara ringikan kuda disertai bergerak nya tempatnya berbaring.


'Kemana mereka akan membawaku?" Pikir Shasha.


"Liu Ma, Liu Ka, Liu chi, Liu Sa, Liu ji aku merindukan kalian...'


Dalam keadaan berbaring itu Shasha menggigil ketakutan, seluruh tubuhnya gemetar dan berkeringat. Ia menduga jika penculik ini adalah penjahat yang memperdagangkan wanita untuk budak dan pelayan nafsu di rumah bordil. Mau tak mau air matanya mengalir membasahi penutup mata yang ia kenakan. Ketenangan yang ia jaga telah sejak kemarin hancur total. Bagaimanapun ia hanya gadis yang berumur hampir tujuh belas tahun. Mana mungkin putri yang terbiasa dilindungi mampu bertahan untuk tidak menangis di saat bahaya ada di depan matanya.


.


.


.


Jauh di perbatasan kota kelima  Liu bersaudara merasakan siksaan yang tiada henti. Ketika mereka sampai di penginapan terjadi kekacauan di antara para pelayan wanita. Mereka berebut untuk melayani lima pria tampan yang tengah menginap dan di tempatnya bekerja. Alhasil terjadi pertengkaran yang cukup sengit diantara mereka hingga membuatnya membuat pemilik penginapan turun tangan. Tak hanya itu, wanita terhormat yang kebetulan  menginap telah kehilangan perilaku mereka. Diam-diam para wanita itu mengendap-endap menuju kamar tidur lima pemuda tampan berklan Liu tersebut.


Tidak heran jika banyak sekali kaum wanita yang mabuk kepayang melihat pria Liu. Memang jarang sekali ketampanan bak makhluk surgawi berada di sekitar mereka. Seandainya ada itu pasti seorang pejabat atau pangeran yang tidak mampu mereka singgung. Jadi kedatangan mereka berlima bagai air hujan di tengah gurun tandus. Sehingga mereka tidak ingin melewatkan kesempatan untuk melihat sepuasnya pria-pria muda yang cantik itu.


"Jangan dorong-dorong," seseorang menegur.


"Aku tidak kelihatan," satu wanita membela diri.


"Sstth jangan berisik, nanti ketahuan," ucap orang itu lagi.


Mereka tidak sadar jika kerumunan wanita yang mengintip semakin banyak. Pintu yang menahan mereka semua  akhirnya tidak kuat menahan beban mereka. Dan....


Brak.


Brug.


Pintu itu terbuka paksa dengan keras. Suaranya mengagetkan para Liu yang sedang tertidur karena lelah. Para suami yang tinggal di penginapan itu juga terkejut dengan suara keras di kamar sebelah, anehnya lagi mereka tidak mendapati sang istri di sisi mereka.


Saat mereka keluar kamar,  mereka melihat tumpukan wanita yang berada di kamar sebelah. Para wanita itu tumpang tindih dan kesulitan untuk bangun. Para pria mendekat untuk melihatnya siapa yang berada di dalam kamar hingga membuat para wanita ini kehilangan perilaku. Rupanya terdapat lima pemuda yang memiliki ketampanan yang luar biasa duduk di ranjang sambil menahan ngantuk. Ada raut terkejut di wajah letih mereka.


"Jadi, adakah yang bisa menjelaskan kenapa kalian berbaring di pintu kamar penginapan yang berisi laki-laki?" Salah satu pria dewasa dengan wajah marah melototi istrinya yang masih berbaring di lantai.


"Jangan-jangan kalian semua mengintip kamar laki-laki?" Seorang pria besar menarik istrinya yang berbaring.


"Memalukan, ini benar-benar memalukan!" Ucapan laki-laki paruh baya.


Para istri itu terdiam dan mendengarkan kemarahan para suami.


Tanpa di duga keadaan telah berbalik...


"Apa kalian buta, cepat bantu kami berdiri!" Seorang wanita yang agak berisi tiba-tiba menjerit.


"Itu benar cepat bantu aku berdiri laki-laki tidak berguna," kata mereka semua hampir bersamaan.


Kelima Liu terkejut melihat perubahan sikap yang terjadi. Kali ini bukannya para suami yang marah namun para istrilah yang sedang marah sembari mengomel.


"Sudah tau istrimu ini terjatuh anda hanya diam, inikah disebut suami berbakti!" seorang istri dengan baju mewah memarahi suaminya. Begitu pula istri-istri yang lain. Ternyata di desa ini penganut matrial jadi kedudukan wanita lebih tinggi dari pada pria. Di sini wanita memegang peranan penting dalam kondisi keuangan keluarga. Dan juga kaum istri yang mencari perak untuk keluarga.


"Salahkan diri kalian sendiri yang kurang baik."


Ma yang melihat keadaan aneh ini segera memberi isyarat kepada adik-adiknya untuk meninggalkan kerumunan istri yang memarahi suami. Ka segera terbang lewat jendela ketika melihat isyarat dari Ma. Hal itu diikuti oleh keempat saudaranya yang lain.


"Lihat mereka kabur!" Teriak seorang gadis.


"Ayo kejar aku ingin menjadikan mereka selir pria ku!"


"Aku juga."


Kejadian di kota akhirnya terulang kembali. Para pemuda Liu dengan cepat berlari agar tidak ditangkap wanita-wanita ganas di belakang mereka.


''Kakak, ternyata ada wanita yang mengerikan di dunia ini," ucap Liuji.


"Sungguh pengalaman yang mengerikan, kita hampir menjadi suami wanita ganas itu," gerutu Liu Ka.


"Tak disangka pengalaman mencari istri begitu mengesankan."


Sambil berlari mereka mengeluarkan uneg-uneg dalam hatinya. Sudah dari dulu mereka semua saling jujur dan bicara jika ada masalah yang mengganjal di hati mereka. Inilah yang membuat mereka tetap rukun antara satu sama lainnya.


Di tengah acara kejar-kejaran itu kelima Liu melihat rombongan kereta barang yang cukup besar. Karena mengantuk mereka berlima melompat ke atas kereta barang dan menumpang tidur di atas kereta yang membawa biji gandum itu. Segera mereka berlima tertidur karena kelelahan, bagaimana tidak lelah. Setelah dikejar-kejar perempuan di kota mereka juga dikejar perempuan di pinggiran desa.


.


.


Entah berapa lama Shasha tidak sadarkan diri. Ketika matanya terbuka dia berada di kamar yang sudah sangat ia kenal.  Shasha langsung bangun dari tempat tidur.


"Anda sudah sadar Shasha?" Suara merdu terdengar dari arah pintu ketika ia berdiri.


"Oh sayangku sayang, kami merindukan mu," lanjut orang itu.


Sesaat kemudian Shasha sudah berada dalam pelukan hangat wanita yang begitu ia rindukan.


"Ibu... Benarkah ini anda?" Shasha bertanya sembari menangis.


"Benar ini ibu, nak," jawab Sha mei.


"Oh anda sudah sadar, putriku?" Sha Ki yang mendengar suara tangis langsung menuju kamar Shasha. Begitu pula Sha hori.


Shasha yang berada dalam pelukan ibunya serasa bermimpi saat melihat keluarganya utuh dan sehat.


"Apakah aku bermimpi. Jika benar aku tidak ingin bangun dari mimpiku," Shasha berkali-kali mencubit pipinya.


Sha Ki menepuk kepala Shasha dengan lembut. Sha hori hanya tersenyum tipis melihat adiknya yang kembali ke tengah keluarga.


Shasha merasa bahagia hingga lupa jika ada lima pemuda yang merindukan dirinya.


TBC