Wise Wife

Wise Wife
Berjuanglah



Su..suamiku...


Butiran bening itu tidak lagi mampu di tahan. Itu mengalir deras meluncur dari pipi Shasha yang sedang berjalan perlahan. Wajahnya memerah dihiasi butiran air membuat wajahnya seperti buah persik yang tersiram air.


Liu Ma berdiri membuka tangan bersiap menyambut Shasha.  Tubuh tegap miliknya seperti gunung tak tergoyahkan adalah tempat teraman untuk berlindung saat ini. Shasha tidak ragu melangkah meninggalkan Hago yu dan Hago as yang sedang berhadapan. Sesuatu yang ia butuhkan ada di depan mata. Para suami yang memberinya kebahagiaan sejati yang belum pernah ia rasakan. Walaupun melawan dunia Shasha tidak ingin terpisah dari mereka semua.


Grep


"Suamiku hik suamiku..aku takut hik."


"Tenanglah, aku sudah di sini," jawab Liu Ma.


Pria ini nampak tegas dan tenang dipermukaan. Sosoknya sebagai si sulung menuntutnya untuk selalu tegar dan tenang dalam menghadapi apapun. Sayangnya fisiknya tidak bisa menyembunyikan perasaannya yang malu dan berdebar hebat. Telinganya memerah sebagai bentuk ungkapan perasaannya.


Hal yang wajar mengingat dia adalah pemuda perawan yang belum pernah menyentuh gadis manapun. Hanya gadis yang diperlukannya ini yang pernah jadi korban kejahilan dirinya dan saudaranya. Yah, mengabaikan balasan dari saudaranya yang lain nantinya karena telah memeluk istri mereka, yang penting saat ini Liu Ma ingin memanfaatkan kesempatan langka dipeluk oleh istri.


Liu yang lain tetap berdiri tak bergerak. Mereka tidak akan melupakan hukum di kota kerajaan yang melarang wanita bersuami lebih dari satu. Menahan rasa cemburu dan kebutuhan untuk memeluk sang istri karena rasa rindu. Mereka diam sambil menatap penuh rindu pada sang istri yang seolah meluapkan keluhannya pada sang kakak pertama.


Shasha menyadari jika dirinya hanya memeluk sang sulung, wajahnya terangkat dan melihat ke arah belakang. Seolah bisa menebak pertanyaan yang timbul dari hati Shasha. Mereka berempat hanya tersenyum dan memberikan tatapan menyakinkan.


'Pasti mereka telah mendengar hukum di masyarakat kota kerajaan,' batin Shasha.


Pantas saja sedari tadi mereka berempat hanya diam di tempatnya. Biasanya saat salah satu dari mereka bersedih, secara spontan Liu yang lain mengerumuni dan memberi semangat. Tak pernah sekalipun mereka saling menyalahkan antara satu dengan lainnya.


Dalam pelukan Liu ma, Shasha melemparkan tatapan bersyukur pada keempat suaminya. Mereka ternyata bukan pria polos yang bodoh. Mereka juga suami sejati yang melindungi reputasi sang istri.


"Jadi kamu adalah pemuda yang berani mengambil milik pangeran ini?"


Suara dingin dari arah belakang Shasha menghapus suasana haru melepas rindu istri dan suami. Keempat Liu yang berada di belakang Liuma memasang sikap waspada pada sosok dingin yang mengeluarkan aura mematikan. Shasha juga langsung bergidik ngeri ketika suara menyeramkan itu menghampiri telinganya.


Suasana tegang langsung tercipta di ruangan utama ini. Masing-masing pihak memasang wajah waspada antara satu dengan lainnya. Sayangnya, ada satu orang yang masih terlena oleh kehangatan sang istri. Liu Ma masih setia menutup mata dan membenamkan wajahnya pada ceruk leher Shasha.


"Kakak pertama, sekarang bukan saatnya melepas rindu. Ada masalah yang harus di selesaikan."


Liuchi menepuk bahu Liu Ma untuk menyadarkan sang kakak. Tingkah bodoh kakaknya saat ini membuat urat nadi di pelipis Liuchi berkedut. Walaupun dilihat dari mata telanjang Liuchi tidak menepuk bahu Liuma dengan keras. Nyatanya Liuma merasa tepukan sang adik terasa membakar dan panas. Liuma yakin jika bahunya terdapat cap tangan milik Liuchi.


Dengan tidak rela, Liuma melepas pelukan Shasha. Dia memutar mata pada pria agung yang nampak dingin.


"Petani ini menikah dengan gadis  yang tersesat di hutan. Mana mungkin seorang tunangan dari pangeran kerajaan berada di hutan kecuali telah dibuang oleh seseorang," Liuma menjawab tuduhan Hago yu.


Rasanya tangannya sangat gatal ingin meninju wajah sok dingin pada pria di depannya ini.


"Kakak Hago yu, aku telah mendengar anda memutuskan pertunangan dengan nona Shasha di saat keluarga Sha terkena musibah, apakah setelah bencana itu terlewati anda ingin kembali dengan kata-kata anda?" Hago as berkata dengan tersenyum sinis. Membuat Hago yu ingin merobek adiknya menjadi seribu keping.


"Hal itu diucapkan dengan impulsif, pangeran ini bahkan tidak menulis pembatalan pertunangan dengan Shasha," sanggah Hago yu, "karenanya pangeran ini ingin memberikan kompensasi dengan segera memberikan posisi permaisuri pangeran padanya."


"Tapi sekarang Shasha sudah menjadi istriku, itu tidak bisa dibatalkan oleh hubungan masa lalu."


Sebagai orang tua Shasha, Shame dan Sha ki turut memohon pada Hago yu. Melihat ketulusan sang putri yang sangat mencintai suaminya, membuat Sha me terharu. Dia juga memiliki perasaan yang sama dengan Shasha. Lebih baik dia mati daripada hidup tanpa Sha ki . Entah iblis apa kau yang merasukinya saat bersikeras menentang pernikahan Shasha dengan petani itu.


"Semua sudah seperti ini yang mulia, jika anda bersedia melepaskan putriku maka pejabat ini akan selalu di pihak anda di pengadilan istana," tawar Sha ki.


Melihat situasi yang tidak berkembang sesuai keinginannya maka Hago as turut menawarkan kesetiaannya. Berdirinya Sha ki di sisi Hago yu merupakan hal yang luar biasa bagi Hago yu. Bukan Sha ki yang perlu diperhitungkan tapi Sha hori yang saat ini tengah mengatur pasukan kerajaan merupakan pion terpenting.


Jika dia berdiri di sisi Hago yu, setidaknya ia akan menjalani hidup damai tanpa ancaman dari kakaknya ini.


"Adikmu ini juga menawarkan kesetiaannya kepada mu kakak," sahut Hago as.


Hago yu terpana dengan tawaran dua kekuatan yang luar biasa di depannya. Hanya orang bodoh yang melepas kekuatan hanya untuk mendapatkan istri seorang petani. Meskipun terlihat enggan akhirnya Indra menyetujui tawaran Hago as dan Sha ki.


"Kuharap kalian tidak mengingkari janji yang kalian buat," ucap Hago yu. Kemudian pria itu meninggalkan kediaman Sha dengan wajah penuh kemenangan.


Satu masalah besar telah usai. Shasha bisa tersenyum dan menatap penuh syukur pada Hago as dan Sha ki.


"Yang mulia, ayah..."


Sha me memeluk erat Shasha. "Gadis bodoh jangan menangis lagi. Berbahagialah dengan suamimu," nasehat Shame.


"Pangeran As, dengan ikrar anda untuk pangeran Hago yu maka kesempatan untuk menjadi putra mahkota jadi..." Sha ki agak ragu melanjutkan ucapannya.


"Justru dengan begini aku bisa bersantai dan menikmati hidup dari pada bertarung di pengadilan. Aku lega bisa terlepas dari ancaman pembunuhan."


Selagi mereka semua bercakap-cakap. Keempat Liu merasa bosan karena tidak mendapatkan tontonan yang seru. Awalnya mereka mengira bisa bertarung dengan pengawasan pangeran Hago yy. Tanpa di duga justru semua berakhir dengan damai.


"Kita perlu mendiskusikan tentang malam pertama dengan istri," bisik Liuka.


"Benar aku juga tak tidak mau kalah," jawab Liusa.


"Jangan bicarakan sekarang, masih ada mertua," bisik Liuchi.


"Aku tidak ingin kakak pertama menyerobot tanpa ijin kita," keluh Liuji.


"Nanti malam kita ikat kakak pertama agar tidak macam-macam," ide Liuka.


"Setuju," jawab mereka berempat.


Tiba-tiba Liuma merasakan bulu rambutnya berdiri, dia menduga jika adik-adik tengah merencanakan sesuatu padanya.


"Apalagi yang akan mereka lakukan, oh tidak."


TBC