
Sha me membuat keributan pagi-pagi sekali. Dia membawa sejumlah pelayan masuk ke kamar Sha sha. Tanpa tahu apa yang terjadi, dia begitu bersemangat untuk melihat putrinya berubah menjadi seorang wanita.
Sampai di kamar Shasha ia melihat putrinya sedang tidur sendiri tanpa sang suami. Tentu saja Sha me bertanya-tanya di mana sang menantu. Kenapa putrinya tidur sendirian.
Mendekat ke ranjang Shasha, Sha me membangunkan putrinya itu.
.
.
.
Di atap halaman Shasha, kelima Liu bersaudara tengah berbaring sambil menatap langit. Mereka menengadah menatap langit gelap yang perlahan dihiasi warna merah kekuningan. Sejak semalam mereka hanya diam mencoba menenangkan sesuatu yang ingin mengamuk tapi tidak mungkin dituruti. Sehingga dengan menekan rasa frustrasi kelima Liu itu hanya bisa memandang langit.
CIT CIT CIT
Meong meong meong
Guk guk guk
Alam seolah mengejek ketidakberuntungan para Liu. Entah memang peristiwa alam atau sebuah kebetulan semua hewan yang melintas di dekat mereka semuanya berpasangan. Mereka seolah memamerkan kemesraan pasangannya pada para Liu yang sedang frustasi.
Burung-burung berkicau berpasangan, terkadang si burung jantan menggesekkan paruhnya pada burung betina, tak lama burung itu menaiki sang betina.
Melihat hal tersebut wajah para Liu tenggelam. Mereka teringat kembali hal yang berusaha mereka lupakan sedari tadi.
'Burung sialan, kenapa mengingatkanku pada keinginan yang tidak terpenuhi?' Batin Liusa.
'Awas saja, akan ku potong dan kujadikan burung panggang, menyebalkan,' Batin Liusa lagi.
Setelah burung itu terbang menjauh pemandangan lebih menyebalkan datang kembali,kali ini kucing tengah bercinta dengan suara keras, begitu pula dengan anjing ini yang lewat.
"Apa sekarang musim hewan kawin?" Tanya Liuji.
Tuk tuk tuk
Tiba-tiba para kucing dan anjing itu pingsan di tengah percintaannya. Di dekat hewan itu terdapat batu kerikil kecil yang memukul mereka hingga pingsan.
"Kenapa kau membuat hewan itu pingsan, kakak pertama?" Tanya Liuka.
"Agar mereka merasakan penderitaan kita," jawab Liuma acuh tak acuh.
'Bilang saja jika anda iri," batin Liuchi.
.
.
.
"Ini akan baik-baik saja, menantu hanya harus bersabar selama tujuh hari," hibur Liu me.
Shasha menghela nafas panjang, ia teringat kembali ekspresi merah, hijau putih wajah suaminya ketika tiba-tiba tamu bulanan datang.
"Aku yakin mereka sangat kesal," guman Shasha.
.
.
.
Pada siang hari, Sha hori membawa Madara datang ke ruang khusus Kaisar. Pria merah itu hendak mempromosikan Liuma untuk memimpin pasukan di perbatasan. Kebetulan jika desa terpencil asal Liuma adalah wilayah dekat perbatasan yang sulit dijangkau.
"Ilmu bela diri adik ipar pejabat ini sangat tinggi, maka sangat cocok untuk menjaga perbatasan di wilayah selatan." Sha hori berusaha meyakinkan kaisar Hago long.
Kaisar mengelus jenggotnya dan memindai Liuma dari ujung kaki hingga ujung rambut. Jelas terlihat jika pria gagah didepannya ini memiliki energi qi yang kuat. Tapi kuat saja tidak cukup untuk menjabat sebuah jabatan.
"Aku rasa kuat saja tidak cukup hanya untuk memikul tanggung jawab menjaga perbatasan, jenderal Sha hori."
"Yang mulia bisa menguji kemampuan empat seni dasar pada adik ipar hamba. Jadi yang mulia tidak akan ragu sehingga melepaskan sebuah giok berharga."
Setelah berpikir sejenak, Kaisar menganggukkan kepala. Dia memerintahkan Kasim untuk menyiapkan kuas dan kertas gulungan. Liuma sebenarnya sudah tidak ingin mengikuti ucapan Sha hori. Jika bukan karena ancaman Sha hori yang tidak mengijinkan mereka membawa Shasha pulang, Liuma pasti sudah kabur sejauh-jauhnya.
Setelah menulis kaligrafi di kertas gulungan, Sha hori bermain catur untuk melihat kemampuan Liuma mengatur strategi. Tanpa diduga Liuma berhasil mengalahkan perdana menteri pertahanan. Kaisar puas dengan hasil tes Liuma. Dengan demikian ia memerintahkan Kasim menulis Dekrit kerajaan untuk mengangkat Liuma menjadi pejabat tingkat tujuh yang menjaga perbatasan di daerah selatan. Jika prestasinya membanggakan maka Kaisar akan mengangkatnya menjadi panglima perbatasan.
.
.
Sesampai di rumah, Shasha dan orang tuanya menyambut kabar baik tersebut. Selain bisa kembali lagi ke desa mereka, akhirnya Liuma tidak perlu berburu untuk menghasilkan uang. Liuji dan Liusa tidak perlu menjual ikan kembali ke pasar. Juga Liychi dan Liuka, mereka berdua tidak perlu lagi berkeliling menawarkan bantuan menulis surat.
Ada tanggung jawab besar menjaga keamanan di perbatasan. Sehingga mereka berlima harus mengatur pasukan dan strategi untuk menjaga wilayah dari musuh.
Tentu saja dalam bidang strategi, Liuchi dan Liuka memiliki kemampuan karena kecerdasan mereka. Liusa dan Liuji bertugas mengatur peralatan perang dan jebakan bagi musuh yang mencoba menyelinap ke wilayah mereka. Sedangkan Liuma melatih para pasukan yang dibentuk dari pemuda desa terpencil yang ingin menjadi prajurit. Tentu saja dengan pengawasan yang ketat dan tidak asal menerima pemuda itu. Standar untuk menjadi prajurit tetap diberlakukan.
Semingguan sudah Shasha dan suaminya kembali ke desa. Rumah mereka sekarang berubah menjadi lebih besar layaknya rumah pejabat. Mereka juga membangun sebuah pertahanan di wilayah selatan yang tidak jauh dari bukit dekat rumah mereka. Para prajurit dari pemuda di sekitar desa juga sudah terbentuk. Kini segala sesuatu sesuai dengan rencana awal mereka.
Kaisar sangat senang dengan keberadaan benteng pertahanan yang dibangun Liu bersaudara. Banyak sekali prestasi yang mereka buat berhubungan dengan pengusiran prajurit tetangga yang berusaha mengambil kota di wilayah selatan. Para Liu dan prajuritnya berjasa mengusir mereka hingga terus menerus mendapatkan hadiah dari kaisar.
Hanya satu hadiah yang ditolak mereka berlima yaitu para pelayan wanita dari kerajaan. Liyma selalu memberikan pelayan dari Kaisar pada prajurit yang berprestasi untuk menjadi istri. Untungnya adik-adiknya juga tidak ingin menerima pelayan wanita cantik yang dikirim oleh kerabat kerajaan. Mereka takut jika istri mereka cemburu dan pergi meninggalkan mereka berlima. Tentu saja itu menjadi hal yang paling tidak diinginkan oleh kelima Liu.
Ada banyak cobaan yang menghadang mereka. Tentu saja ini berkaitan dengan keserakahan para wanita yang ingin menjadi salah satu selir Liu bersaudara. Mereka bahkan lupa jika sering meremehkan Liu bersaudara ketika mereka miskin.
tbc.