
Ternyata tidak memerlukan waktu banyak untuk melihat hasil bubuk racun dari Shasha bekerja. Tepat tengah hari, Liuka datang dan melaporkan informasi pada Liuma. Wajanya menunjukan rasa bingung, senang dan heran.
"Ada apa Liuka? " tanya Liuma.
"Kak, tiba-tiba prajurit musuh mengeluh sakit perut. Mereka terlihat mondar mandir untuk panggilan alam."
"Itu bagus, aku dan Liuchi akan segera menuju istana. Musuh sudah mengepung istana."
"Apa!? " Liuka terkejut dengan informasi dari Liuma. Dia tidak menyangka jika kondisi sudah segenting ini.
"Jadi aku percayakan markas padamu, beritahu hal ini pada Liuji dan Liusa. Aku harus secepatnya tiba di sana. "
Hanya keberuntungan yang bisa diandalkan oleh Liuma dan Liuchi. Mereka tidak mungkin membawa prajurit di sini karena akan melemahkan pertahanan di perbatasan. Oleh karena itu Liuma akan mengambil alih prajurit Sha hori yang berada di markas kota kerajaan. Mungkin saja mereka tidak sadar jika pemimpin mereka sedang di tahan pihak musuh.
"Liuchi dan Shasha sudah mempersiapkan untuk perjalanan ke kota kerajaan. Mereka segera menyambut Liuma yang datang. "
"Ayo kita berangkat! " perintah Liuma.
"Baik, " jawab Liuma dan Shasha.
Shasha menaiki kuda yang sama dengan Liuchi. Dia memeluk erat pinggang Liuchi yang melajukan kudanya dengan cepat. Tidak ada waktu untuk mengeluh. Urusan negara jauh lebih penting dari pada pantatnya yang sakit.
Drap.
Drap.
<<>>
Di istana, para pejabat dan pangeran sudah ditahan. Pangeran Yang hiko merencanakan membuat pangeran Hago yu dan pangeran Hago As bersumpah setia pada kerajaan negeri Angin. Dia akan mempertontonkan kedua pangeran itu di alun-alun kerajaan. Ini cara terbaik baginya untuk menguasai negeri Awan tanpa pertumpahan darah.
"Apa kalian sudah mengambil keputusan? " tanya Yang hiko.
Para pejabat itu kembali terdiam. Mereka jelas enggan takluk pada negeri Angin yang tidak terlalu kuat. Jadi mereka memilih mati dari pada tunduk pada mereka. Namun pangeran Hago As dan Hago Yu menenangkan mereka. Kedua pangeran itu berjanji jika bantuan akan segera datang.
<<>>
Liuma berhasil tiba di kota kerajaan setelah menempuh perjalanan dua hari dengan berkuda tanpa henti. Liuchi dan Shasha tidak protes dengan tindakan Liuma mengingat gentingnya situasi sekarang.
"Ayo segera ke markas kak Sha hori, " ajak Shasha. Dia menunjuk ke sebuah benteng di mana di bawahnya terdapat bangunan luas tempat para prajurit di bawah komando Sha hori berada.
"Ya. "
Liuma dan Liuchi memacu kuda mereka menuju gerbang markas.
Akan tetapi mereka disambut tatapan curiga oleh para prajurit karena belum pernah melihat sosok Jenderal Liuma sebelumnya.
Shasha menyadari hal ini, Dia segera membuka tudung kepalanya agar mereka melihatnya. Dulu Shasha sering datang ke markas inu jadi banyak yang sudah mengenalnya.
"Ah, nona Shasha, " ucap mereka setelah melihat jika gadis yang berada di kuda itu adalah adik Jenderal mereka.
"Buka pintunya, " perintah Shasha.
Liuma segera turun dari kuda, sedangkan Liuchi membantu Shasha turun dari kuda.
"Long li, Cau yu. Ini adalah suamiku, Jenderal Liuma. Saat ini istana dalam keadaan darurat."
Long li dan Caunyu terkejut dengan kabar dari Shasha sehingga mereka lupa memberikan salam pada Liuma.
"Apa yang terjadi nona?" tanya mereka panik.
"Istana dikepung, para pejabat sekarang di tawan di istana. Kita harus menyelamatkan mereka. "
Liuma kemudian maju dan memerintahkan para prajurit untuk berkumpul. Dia kemudian menjelaskan rencana dari Liuchi untuk menguasai kembali istana.
"Apa kalian mengerti!? " tanya Liuma sambil berteriak.
"Ya! "
Mereka pun mengikuti Liuma dan Liuchi menuju istana.
Warga yang berada di luar rumah segera masuk karena melihat para prajurit dalam kondisi siap perang. Warung dan penginapan segera menutup usaha mereka. Itu memudahkan Liuma sehingga dia tidak perlu khawatir ada korban dari warga sipil jika perang di kota kerajaan meletus.
Dengan satu isyarat, prajurit di bawah kendali Liuma menyebar dan mengepung istana. Mereka kemudian membentuk blokade agar tidak ada yang bisa keluar dari istana. Pasukan pemanah juga bersiap jika ada burung pengantar pesan yang lewat.
Di dalam istana, Pangeran Yang hiko mendapatkan kabar jika istana dikepung oleh prajurit negeri Awan. Dia bergegas keluar dan
melihat jika di luar istana, prajurit negeri Awan sudah siap berperang.
Dengan langkah sombong ia berjalan menuju atas tembok istana. "Jika kalian ingin tawanan kami hidup maka menyerahlah! teriak Yang hiko.
Sayangnya seorang gadis berjalan menuju pasukan bersama dengan Liuma.
"Jika kau memiliki para pejabat dan pangeran maka nyawa seratus lima puluh ribu prajurit negeri Angin ada di tangan kami. "
Yang hiko tertawa. " Bagaimana nyawa seratus lima puluh ribu prajuritku ada di tangan kalian?!" tanya Yang hiko dengan nada mengejek. "Kalian bermimpi di siang bolong. "
"Mereka terkena racunku, " jawab Shasha.
Yang hiko terdiam. Dia tidak percaya pada pendengarannya.
"Ka-kau berbohong! " teriak Yang hiko.
"Tanya saja pada Komandan di perbatasan. Jika mereka tidak mendapatkan penawar dariku maka mereka akan mati kehabisan cairan tubuh. "
Yang hiko tidak bisa mengabaikan peringatan gadis itu. Dia segera mengirim elang untuk bertanya pada Komandan yang bersiap menyerang perbatasan negeri Awan.
Liuma memberi isyarat agar membiarkan elang itu lewat.
Untuk menunggu kabar elang tersebut, para prajurit membuat tenda di sekeliling istana. Jika memang tidak ada harapan berdamai maka terpaksa mereka akan berperang. Liuma dan Liuchi mengatur strategi untuk menyelamatkan tawanan lebih dahulu jika perang pecah.
tbc