
Guguran cantik dari bunga pohon ceri nampak dramatis dalam melatar belakangi Shasha yang tengah di rundung emosi. Wajah cantik yang biasanya segar dan menyenangkan perlahan berubah menjadi dingin. Ingin rasanya Shasha tertawa dengan kedatangan pangeran Hago yu yang mendadak. Bagaimana mungkin dia masih punya wajah untuk menemuinya ketika pria itu pernah memberi dirinya tangan terlipat saat meminta tolong.
"Sampaikan pada ayah, aku akan menemuinya setelah berganti jubah yang pantas dengan statusku."
Shasha segera meninggalkan mama pelayan yang dikirim oleh ibunya. Dia tidak ingin pelayan wanita itu langsung membujuknnya ke aula di saat dirinya tidak berdandan layaknya wanita yang sudah menikah.
Sang mama pelayan berkeringat dingin karena putri sang majikan langsung kabur. Dengan pasrah ia melaporkan kejadian tersebut pada Sha me. Meskipun nanti dirinya akan dihukum oleh Sha me, sang mama hanya bisa mengertakan gigi menerima hukuman. Dengan langkah gontai sang mama pelayan kembali ke aula utama untuk melapor.
Di aula utama, Sha me dan Sha ki nampak tegang dengan kedatangan pangeran Hago yu. Sedangkan sang tamu hanya duduk tenang sambil meminum teh yang disuguhkan. Kedatangan sang mama pelayan tanpa ada Shasha di sampingnya menimbulkan firasat buruk. Dan ternyata benar dugaannya.
Laporan sang mama membuat Sha me memucat. Walaupun mereka tidak lagi menyukai pangeran Hago yu namun mereka tetap tidak bisa menyinggung pangeran kerajaan ini. Status pangeran Hago yu masihlah jauh di atas mereka.
.
.
.
"Kakak pertama, kasur ini sangat empuk," Liu ka membenamkan wajahnya pada bantal berlapis sutera.
Kamar yang disediakan oleh Hago as begitu besar, ruangan ini bahkan lebih besar dari rumah mereka di desa. Ada beberapa ranjang yang khusus di letakkan di kamar ini atas permintaan mereka berlima. Ukiran halus dan nampak hidup di ranjang membuat kelima Liu itu kagum sekaligus nyaman.
"Ini benar-benar kemewahan," timpal Liuji.
Melihat kedua adiknya senang, Liuma hanya bisa tersenyum. Matanya masih menerawang jauh ke pemandangan luar jendela.
"Aku harap kita segera menemukan istri," lirih Liuma.
"Kakak benar, kemewahan ini hanyalah fasat luar yang menyembunyikan hal mengerikan Liusa, Liuji. Ku harap kalian tidak sampai terlena," nasehat Liuchi.
Mereka berdua duduk di kursi kayu di tengah ruangan.
"Kita tidak boleh terlibat dalam skema berdarah istana, kadang kala aku merasa heran bagaimana ibu bisa tahu tentang hal-hal di istana secara mendetail," ujar Liuka.
Ucapan Liuka membuat Liuma terdiam, seandainya dia tidak pernah secara tidak sengaja mendengar pembicaraan ayah dan ibunya semasa hidup, ia pasti tidak pernah tau jika ibunya adalah pelayan istana permaisuri terdahulu.
Pertemuan pertama ayah dan ibumu memang hal yang tidak disengaja. Ibunya dilempar dari kereta tahanan oleh prajurit yang hendak membawa permaisuri yang divonis bersalah oleh Kaisar terdahulu.
Ibundanya juga terlibat dalam kejahatan permaisuri sehingga dia juga ikut dihukum sebagai budak di perbatasan.
Saat itu ayahnya secara tidak sengaja melihat Mi yi yang dibuang oleh prajurit dalam perjalanan menuju perbatasan. Karena merasa iba Liu fu menolong sang ibu. Tanpa di duga Mi yi memiliki kecantikan yang semurni air, Liu fu langsung menaruh hati pada Mi yi. Rupanya kondisi Mi yi saat itu tengah sakit sehingga ia di geletakkan begitu saja. Dari situlah Liu fu mengambil Mi yi sebagai istrinya.
Setelah bertahun-tahun Mi yi masih mengingat kejadian itu, ia merasa bersalah karena tidak bisa melindungi permaisuri sehingga tewas di perjalanan. Sering kali Mi yi menangisi takdir sang permaisuri. Kadang orang kala ibunya bermimpi buruk tentang sang permaisuri, dari situ Liu fu dengan sabar menghibur Mi yi. Sehingga tanpa sengaja Liuma mendengar kisah ibunya.
Identitas ibunya hingga kini menjadi rahasia yang disimpan sendiri oleh Liu Ma. Bahkan ibunya sendiri tidak tahu jika dirinya mengetahui indentitas sang ibu. Maka tidak heran jika sang ibu sangatlah cerdas. Setiap tindakannya pasti memiliki makna yang penting.
Pernah suatu ketika ibunya tergesa-gesa memasak makanan enak untuk seorang pria tua yang nampak kusam tapi bersih. Liu Ma kecil sangat heran karena ibunya sangat menghormati pria tua itu. Ternyata pria tua itu adalah ketua sekte perguruan tinggi yang tengah berkelana.
Sebagai rasa terima kasih karena telah menjamu dirinya, pria tua itu mengajarkan jurus ilmu bela diri kepada sang ibu. Tentu saja ibunya menolak sebagai gantinya pria tua itu akhirnya mengajarkan ilmu bela diri pada dirinya dan adik-adiknya.
"Kakak pertama, kakak pertama..." Liu Ka meninggikan suaranya karena melihat Liu Ma tengah melamun.
"En?" Liu Ma mengerjapkan oniks nya karena terkejut.
"Pangeran Hago as sudah sedari tadi duduk di sini, kenapa engkau terus melamun?" Gerutu Liuji.
Liu Ma menoleh ke arah kursi yang berada di tengah ruangan kamar, di situ Hago yu dengan santai meminum teh hijau yang tersaji.
Buru-buru Liuma memberikan busur dan meminta maaf pada Hago as.
Sang pangeran hanya tersenyum ramah pada Liuma. Sesaat kemudian ekspresi wajahnya agak serius dan menatap dalam mereka berlima.
"Berdasarkan ciri-ciri yang anda sebut, pangeran ini menduga jika istri kalian adalah Shasha. Putri dari pejabat Sha" kata Hago as.
"...!"
Mereka berlima menegang setelah mendengar informasi dari Hago as. Mereka sungguh tidak menyangka jika istrinya mempunyai identitas yang tidak biasa.
"Dan hal yang kurang menguntungkan adalah nona Shasha dulu merupakan tunangan kakakku Hago yu."
"Beberapa bulan yang lalu, keluarga Sha masuk dalam skema berdarah seseorang. Hampir saja mereka semua di hukum mati di aula. Nona Shasha menghilang saat akan dimasukkan ke dalam penjara. Suatu keberuntungan bagi mereka bahwa skema itu terungkap. Dan menurut informasi beberapa hari yang lalu gadis itu sudah kembali ke kediaman."
Jika begini mereka tidak mampu memaksa Shasha kembali ke sisi mereka walaupun berstatus istri Liu.
"Pangeran ini berharap anda tidak menyerah. Lebih baik temui istrimu dan menanyakan keinginannya."
"Bi.. bisakah kami merepotkan anda untuk meminjamkan kereta dan kusir untuk mengunjungi istri," tanya Liuma.
Walaupun tidak yakin dengan keputusan keputusannya, Liuma harus memastikan keinginan Shasha. Seandainya memang istrinya tidak menginginkan berada di sisi mereka, dengan ikhlas Liuma akan menulis surat cerai pada istri kecilnya itu.
"Tentu saja, pangeran ini akan menemani kalian."
.
.
.
Sebagai seorang ibu Sha me tidak ingin melepaskan Shasha pada petani miskin. Lebih baik Shasha menjadi permaisuri pangeran Hago yu dari pada menjadi istri petani miskin yang kasar. Sebelum Shasha muncul dengan dandanan seorang gadis yang sudah menikah, ia buru-buru bangkit dan menuju halaman Shasha. Sayangnya Sha me sedikit terlambat. Shasha sudah muncul di aula tamu dengan dandanan gadis yang telah menikah.
Tubuh Sha me hampir limbung melihat putrinya berdandan seperti itu.
"Salam yang mulia pangeran Hago yu. Semoga pangeran hidup panjang umur.," Shasha sedikit membungkuk saat mengucapkan salam.
Hago yu hanya terdiam melihat tunangannya yang berdandan seperti wanita telah menikah.
"Mengapa anda menyanggul rambut anda seperti itu, pangeran ini belum mengirimkan tandu pengantin ke kediaman ini?" Tanya Hago yu.
Shasha tidak lagi menunduk malu-malu seperti dahulu. Dengan sinar mata tegas ia menatap mantan tunangannya itu.
"Identitas ini bukanlah untuk anda, putri pejabat ini telah menikah beberapa bulan lalu dengan seorang pria saat pelarian," Jawab Shasha.
Aura dingin Hago yu langsung menguar membekukan seluruh ruangan. Shame dan Sha shi tidak berdaya untuk mencegah konflik ini. Mereka juga bergetar ketakutan karena hawa membunuh Hago yu. Shasha sedikit melangkah mundur karena atmosfer mengancam dari Hago yu. Bagaimanapun ia hanya seorang gadis lemah. Tapi tekadnya membuat dirinya tetap berdiri dengan tenang di dalam ruangan ini.
"Anda berani mengkhianati pangeran ini?" tanya Hago yu.
"Bagaimana anda bisa menikah disaat masih berstatus tunangan pangeran ini," sambung Hago yu.
"Putri pejabat ini ingin mengingatkan jika anda telah berkata tidak memiliki hubungan apapun denganku. Maka di dalam pelarian aku tidak akan menolak perlindungan dari pria menerimaku apa adanya."
Hago yu sedikit terpengkur dengan ucapan Shasha. Sesaat ia lupa jika telah memutuskan pertunangan dengan Shasha.
Perlahan Hago yu berdiri dari tempat duduk. Shasha terkejut dengan reaksi Hago yu yang tiba-tiba berdiri dan melangkah ke arahnya. Terutama dengan tekanan yang menguar dari tubuh Hago yu, Shasha merasa jika nyawanya diujung tanduk.
"Apapun yang pangeran ini pernah miliki maka orang lain tidak akan bisa bermimpi memilikinya. Jika tidak pangeran ini lebih suka menghancurkan milikku itu," ancam Hago yu.
Shasha semakin bergetar. Ingin rasanya ia lari dari pria yang perlahan menuju ke arahnya ini.
Situasi yang mengancam ini membuat Sha me melompat ke arah pangeran Hago yu. Suaranya bergetar tapi masih bisa untuk membujuk Hago yu agar tidak menyakiti Shasha.
"Yang mulia pangeran, tolong tenangkan diri anda. Putriku masih terjaga kepolosannya, jadi tidak masalah dengan statusnya sekarang. Kita bisa memaksa suaminya menulis surat cerai," Sha me buru-buru mengucapkan kalimat itu agar Hago yu tenang.
Rupanya Kalimat dari Shame cukup ampuh. Hago yu tidak lagi mengeluarkan hawa dingin. Tapi pandangan tajamnya masih menatap Shasha.
Tanpa di duga suara tawa terdengar dari arah halaman luar. Diikuti kemunculan pangeran yang memiliki senyum ramah di wajahnya.
"Kakak, bukankah tidak sopan memandang seorang gadis dengan galak seperti itu?" Hago as tiba-tiba muncul ke aula tamu.
Hago yu memutar mata ke arah adiknya yang berkali-kali lolos dari pembunuh bayaran yang ia kirim. Dia curiga dengan kedatangan adiknya yang tiba-tiba ini.
Dari belakang tubuh Hago as, Shasha melihat wajah-wajah yang selalu membayang di matanya. Tangannya bergetar hebat karena kerinduan yang mendalam. Matanya berkaca-kaca seolah penuh dengan keluhan.
Kelima pria itu berdiri berjajar di belakang Hago as. Ketampanan mereka nyaris membuat para pelayan wanita menjerit kagum. Tapi pandangan kelima pria itu tertuju pada sosok rapuh yang bergetar karena hendak menangis.
Mereka berlima menatap rindu gadis cantik berjubah ungu di depan mereka.
"Su..suamiku!"
Tbc