
Shasha merasa jika niatnya untuk mempelajari bahasa mereka mendapatkan sambutan baik dari Liu bersaudara. Sarapan ini kelima suami itu mencoba memanjakan istri kecilnya itu.
Awalnya si sulung--LiuMa menyuapi daging ikan ke Shasha langsung dari sumpitnya. Sebenarnya Shasha malu dan ingin menolak, tapi melihat mata Liuma yang berbinar Shasha tidak tega mengecewakan Liuma. Dia pun mengambil suapan Liuma, sontan hal tersebut membuat wajah jantan Liuma memerah hingga telinga. Untuk membalas kebaikan Liuma, Shasha juga menyuapi Liuma daging ikan ke arah Liuma. Dan itu disambut tangisan terharu dari Liuma.
Alhasil, Liu bersaudara yang lain tidak mau kalah. Mereka mengikuti Liuma dengan menyuapi Shasha daging ikan. Karena tidak enak untuk menolak Shasha pun membuka bibirnya dan menerima suapan mereka. Melihat bibir merah Shasha yang terbuka membuat kelima bersaudara itu secara tidak sadar juga membuka mulutnya. Shasha mengerjap polos dan mengambil daging lalu menyuapi mereka satu-satu. Dia mengira jika mereka membuka mulut karena minta balasan kebaikan meremang mereka.Kini Shasha terlihat seperti burung yang menyuapi anaknya.
Setelah itu, Shasha harus menerima suapan mereka berlima. Hasilnya jelas, perut sekecil itu dan menerima suapan lima orang dalam satu putaran. 'Perutku tidak muat. '
Sarapan pun selesai. Shasha berinisiatif mengambil mangkuk dan piring yang kotor dan mencucinya.
"Istri, biar aku saja aku yang mencuci itu." Liuchi berkata sambil memperagakan ucapannya. Biasanya dia memang kebagian mencuci piring karena tidak biasa bekerja kasar.
"Men..mencuco piling." Shasha mengikutinya mengikuti ucapan Liuchi.
Liuchi mendekat ke arah Shasha dan mengambil mangkuk dan piring.
"Men-cu-ci pi-ring." Liuchi mengeja persuku kata untuk mempermudah Shasha mengikuti ucapannya.
"Men.cu.ci pi.ring. mencuci piring."
"Bagus sekali. Istri pandai belajar, " puji Liuchi sambil tersenyum.
Shasha tertegun melihat wajah tampan Liuchi yang tersenyum. Harus ia akui jika mereka berlima luar biasa tampan. Wajah mereka hampir serupa. Bahkan mereka berlima tidak kalah tampan dengan para sarjana dan pangeran di kekaisaran. Oleh karena itu saat mereka tersenyum mau tidak mau Shasha pasti merona karena terpesona.
"Anda istirahat lah, aku akan memasak tupai dan ayam hutan ini. Jika tidak dimasak sekarang takutnya nanti membusuk." Liuchi menyuruh Shasha dengan sopan.
Pikiran gadis yang dia ajak bicara justru menangkap maksud lain. Ia mengira jika Liuchi menyuruhnya masak ayam dan tupai. Dengan semangat Shasha mengambil ayam dan tupai yang sudah bersih itu. Ia pun beraksi di dapur. Liuchi awalnya ingin mencegah, tapi melihat semangat Shasha ia jadi membiarkan istri kecilnya memasak.
"Wah, anda masak apa Liuchi. Kenapa baunya begitu harum?" Liuka muncul dari balik pintu.
"Istri yang memasak."
Liuji dan Liusa juga ikut mengintip istrinya di dapur.
Pemandangan Shasha memasak membuat mereka menahan nafas. Keringat yang membasahi kening Shasha membuatnya nampak lebih cantik. Apalagi pipi merona yang sehalus telur yang baru dikupas itu menambah kecantikan istrinya.
Mereka pun terbengong di tempat. Wajah mereka merona karena membayangkan mencubit pipi putih merona itu.
"Kalian berempat ayo ke rumah kepala desa. Dia meminta kita membantu membangun rumah baru. Kita bisa mendapatkan perak jika bekerja di sana. " Liuma berteriak dari depan.
"Baik."
Karena mempunyai istri kecil yang cantik, mereka semua menjadi lebih bersemangat dalam bekerja. Mereka berjanji tidak akan membiarkan istrinya menderita.
Shasha yang ada dapur masih asik dengan masakannya. Saat mencuci pakaian tadi ia menemukan beberapa bumbu dapur tumbuh di pekarangan rumah. Shasha berpikir mungkin saja kelima saudara itu tidak tahu fungsi dari tumbuhan bumbu, jadi tidak heran jika mereka tidak mengambilnya.
'Barang kali tumbuhan ini ditanam seseorang dulu, ' pikir Shasha.. Jadi ia mengambil bumbu itu untuk menyedapkan masakannya.
Liuchi hanya duduk diam sambil mengawasi istrinya ini yang berlalu lalang mengambil bahan untuk masakan. Dia mengernyit karena Shasha mencabut tumbuhan yang ia ketahui bernama bawang. Maklum saja, sebelum ibunya meninggal karena marah,mereka berlima tidak pernah berada di dapur. Jadi selama ini mereka hanya menggunakan garam dan gula. Sekali-sekali mereka menggunakan kecap asin dan kecap manis. Itupun bisa dihitung dengan jari. Sebab membeli bahan itu mereka harus menuruni bukit untuk sampai ke kota besar. Jadi sebisa mungkin mereka mengirit bahan itu.
'Jika istri menyukai bumbu itu, aku akan membelikan nya,' batin Liuchi.
"Tidak hanya cantik, dia pandai memasak, " guman Liuchi. 'Kami benar-benar beruntung. '
Setelah masakan siap, Liuchi mengambil panci berisi ayam dan tupai itu. Entah bumbu apa namanya namun kuahnya terlihat mengiurkan. Karena waktu makan masih lama, Liuchi menaruh panci itu di lemari bersama dengan mangkuk dan piring.
Shasha tersenyum puas dan berniat menuju perkarangan kembali. Liuchi masih penasaran dengan apa yang akan dilakukan Shasha. Dia mendekati Shasha yang ternyata mencabuti rumput liar. Tapi ada beberapa tumbuhan yang tidak ia cabut. Liuchi pun membantu istrinya mencabut rumput. Sekali-sekali Shasha menghentikan tangannya jika Liuchi akan mencabut tanaman bumbu. Hanya saja, tangan kecil Shasha secara tidak sengaja selalu menyentuh kulit tangan Liuchi. Rasa tersengat aliran yang aneh selalu Liuchi rasakan ketika bersentuhan. Pikiran liciknya pun berbicara, ia dengan sengaja pura-pura mencabut tumbuhan yang dibiarkan Shasha agar bisa dipegang Shasha.
"Shasha..."
"Hm."
"Ini rum-put. Rumput." Liuchi mulai mengajari Shasha lagi.
"Rrrum..pput. rumput."
Shasha kemudian bertanya nama tumbuhan sayur dan bumbu yang ada di perkarangan. Liuchi sering mendengus sebal karena tidak tau nama tanaman bumbu itu. Dia hanya tahu jahe dan kunyit ( emang di sana ada ngak ya?).
Selesai membersihkan perkarangan. Liuchi mengajak Shasha jalan-jalan. Dia berniat mengajak Shasha ke bukit yang tidak terlalu tinggi. Shasha hanya pasrah saat ditarik oleh Liuchi. Ternyata pemuda itu mengajaknya keliling desa dan ke bukit. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan Mei yang mendapat jubah baru dari suaminya. Dengan berteriak Mei memuji suaminya yang murah hati. Tentu saja ia berteriak karena ingin pamer ke warga desa.
Shasha dan Liuchi berhenti sebentar karena teriakan Mei. Teriakan itu begitu keras hingga membuat tetangganya keluar rumah, hingga pada saat Mei berkata vulgar, Liuchi menarik tangan Shasha untuk menjauh.
"Kyaa, aku ingin berguling-guling dengan akar anda(Bercinta ), sekarang, " Ucap Mei. Dia mengabaikan tatapan tetangganya yang memandang jijik dan mencela.
Shasha yang menyaksikan ada seorang pria setengah baya yang memberi jubah baru pada wanita mengira jika teriakan wanita itu adalah cara seseorang mengucapkan terima kasih. Diam-diam dalam hatinya, Shasha mempelajari ucapan Mei tadi.
TBC