
Liuchi masih mengandeng tangan Shasha agar Shasha tidak tersesat. Walaupun tanpa digandeng Shasha juga tidak mungkin tersesat tapi Liuchi bersikeras ingin untuk menggandeng Shasha.. Bagaimana mungkin dia bisa tersesat jika tidak ada seorang pun di bukit ini selain mereka. Bisa dilihat dengan jelas jika sebenarnya Liuchi ingin memegang tangan seindah giok putih itu. Dan diam-diam mengagumi dalam hati keindahan tangan istri kecilnya. Dia bahkan tidak sadar wajahnya yang sudah sangat merah.
"Kita sudah sampai." Liuchi memperlihatkan pemandangan di atas bukit yang indah pada Shasha. Dia berharap istri kecilnya senang dengan ajakannya untuk melihat pemandangan. Tidak ada yang tahu tempat ini selain Liuchi, ini merujuk rahasia kecil dan yang ia simpan sendiri. Biasanya tak dia akan pergi lagi ke tempat ini jika sedang sedih. Letaknya yang berada di balik air terjun tidak akan diketahui oleh siapapun cuma yang lewat. Dan sesuai dugaannya, Shasha tersenyum lebar melihat pemandangan ini.
''...."
Tunggu dulu, sspertinya Shasha tidak tersenyum ke arah pemandangan di bawah. Tapi mata almond indahnya tersenyum melihat tumbuhan yang berada di depan sana. Dengan bersemangat Shasha maju kemudian mengambil dedaunan yang Liuchi tidak tau apa namanya.
"Bla bla bla bla..." ( Hebat ini kan daun teh. Ada begitu banyak di sini.)
Mata Shasha berbinar melihat daun teh itu. Dengan riang ia mengumpulkan daun teh yang ia petik.
Ternyata daun yang selama ini di kira Liuchi tanaman liar adalah teh yang bagus. Ia sama sekali tidak sadar jika Shasha tidak menyuruhnya mengendus bau daun itu. Diapun turut membantu Shasha memetik daun teh itu. Tak lupa tangannya berpura-pura memetik daun yang sama agar bersentuhan dengan tangan Shasha.
"Ini akan menjadi teh yang bagus. (bla bla bla) "
Liuchi mengangguk meski tidak mengerti ucapannya, dia sangat menikmati wajah merona Shasha saat bersentuhan dengan tangannya. Saat masih asyik mengagumi keindahan wajah istri kecilnya, Liuchi dikejutkan dengan pekikan senang Shasha. Karena terlalu senang, Shasha membebankan semua daun teh yang ia petik ke dalam pakaian Liuchi.
Awalnya Chi bingung dengan sikap Shasha yang berjalan mengendap-endap menuju sebuah kayu tua yang tergeletak tak jauh dari tempat mereka. Karena khawatir dan penasaran, Chi mengikuti istri kecilnya yang berjongkok seakan bersembunyi dari sesuatu. Tangan mungil Shasha meraih batu yang agak besar. Lalu ia melempar batu itu ke arah onggokan kayu yang baru mereka temukanlah temukan.
Tak.
Tak.
Tak.
Tanpa disangka muncul kawanan lebah madu dari balik kayu itu. Sakura melemparkan batu lagi dan kembali bersembunyi.
Tak.
Suara dengungan lebah yang marah membuat Chi memucat. Ia tidak pernah mengira jika istrinya sangat nakal.
Ia sungguh tidak percaya dengan apa yang dilakukan istrinya itu.
Setelah suara dengungan lebah madu itu pergi. Dengan cekatan Shasha mengambil kayu itu. Namun karena agak berat ia merasa kesulitan untuk mengangkatnya. Chi berinisiatif mengangkat kayu itu, ia menyerahkan daun teh dan mulai membawa kayu yang baginya tidak terlalu berat.
"Ayo kita segera dia pergi sebelum lebah itu kembali." Liuchi menyuruh Shasha mengikutinya.
Liuchi menuntun Shasha kembali ke rumah. Shasha yang senang bersenandung sepanjang perjalanan. Rupanya tidak sia-sia ia keluar rumah dan berjalan jauh.
Sesampai di rumah, Shasha merebus dauh teh itu. Namun ia mencuci daun-daun itu sebelumnya. Sementara itu Liuchi mengambil pisau dan wadah untuk membelah kayu yang mereka temukan.
Ternyata sarang lebah itu sudah penuh dengan cairan madu. Liuchi bersemangat dalam untuk memeras agar dijadikan minuman yang nikmat. Sudah lama sekali ia tidak merasakan manisnya madu. Apalagi dari arah dapur tercium aroma teh yang menyegarkan. Ia tidak sabar memberikan kejutan pada saudaranya yang lain.
"Kami pulang."
Keempatnya Keempat saudara itu datang dengan raut wajah letih. Shasha tersenyum manis dan meletakkan masing-masing cangkir berisi rebusan daun teh. Mereka agak tertegun melihat minuman yang tidak pernah lagi mereka minum sejak orang tuanya meninggal.
"Mi..minum tteh."
Liuchi yang melihat keempatnya saudaranya penuh tanda tanya masih ingin mempermainkan mereka. Ia mengeluarkan botol kecil berisi madu.
"Lihat ini madu untuk kalian. Campur dengan teh agar lelah kalian berkurang."
"Dari mana kalian mendapatkan madu dan teh?" Ma àkhirnya angkat bicara.
"Ini barang yang mahal, hasil dari upahmu tidak cukup baik untuk membeli teh apalagi madu adik Chi." Liu Ka membenarkan ucapan Liu Ma.
"Hahaha aku juga terkejut dengan keberuntungan ku. Ini kami temukan di atas bukit. Ternyata istri memiliki banyak pengetahuan, " ucap Liuchi
"Hn dia bintang keberuntungan kita." LiuSa menatap lembut Shasha.
"Takdir baik benar-benar mengarah pada kita." Liuji juga ikut menatap Shasha.
Karena ditatap oleh kelima orang itu, Shasha malu dan kembali memerah. Dengan segera ia menyiapkan nasi dan lauk yang telah dipanaskan terlebih dahulu. Jantungnya benar-benar merasa berdebar di tatap mereka berlima.
"Wah ini terlihat lezat."
Mereka sangat senang melihat hidangan lezat itu. Wajar saja, selama ini mereka hanya memasak menggunakan garam dan sedikit kecap manis.
"M-mmmakan, " ucap Shasha singkat. Liu Ma terharu dan bersyukur karena memiliki istri yang cakap. Dengan begini, kemarahan pada ayahnya sudah agak memudar.
"Nah, istri paha ayam ini untukmu." Liuji secara mengejutkan memulai untuk memanjakan istrinya.
Shasha jadi teringat dengan peristiwa wanita yang di beri sesuatu oleh suaminya. Dia berpikir harus mengucapkan kata itu untuk berterima kasih.
"Aaaku ingin berguling-guling dengan akar anda."
Deg
siiiiing
Hening.
Sumpit terjatuh dari tangan mereka berlima, mulut mereka berhenti mengunyah dan melongo. Perlahan warna merah menjalar dari wajah hingga ke telinga.
'Kenapa reaksi mereka seperti itu?' Batin Shasha bingung.
"Liuchi!!!" Teriak mereka berempat. Mengapa istri polosnya bisa mengatakan hal seperti itu. Mereka curiga jika Liuchi yang mengajarinya.
"Aku tak tidak tahu apa-apa!" jawab Liuchi nelangsa.
"Sebagai hukuman kau makan di dapur!"
"Aku benar-benar tidak tau apa pun."😭😭
Tbc