
Rumah bertingkat dengan struktur bangunan dari kayu berkualitas berdiri di tengah markas yang menjadi basic pertahanan wilayah perbatasan. Liuma saat ini diangkat menjadi panglima namun tetap saja wajahnya memerah jika didepan Shasha.
"Istriku... "
Malam ini giliran Liuma yang tidur bersama dengan Shasha. Dengan malu-malu dia menyapa Shasha.
"Hem? "
"Ki-kita... bisakah ki-kita membuat ke-keturunan? "
Shasha mengangkat alisnya heran. Lalu dia tertawa dengan sikap Liuma yang gugup saat mengajukan pertanyaan itu. Maklum saja, mereka berlima sama sekali tidak mencapai kata sepakat saat membahas masalah siapa yang lebih dahulu tidur dengannya. Entah berapa keributan yang terjadi ketika mereka bertanding untuk menjadi suami yang pertama kali tidur bersama Shasha. Dan akhirnya Shasha mengambil lidi dan memotongnya sama panjang dan menyisakan satu yang pendek. Shasha kemudian menyuruh kelima suaminya untuk mengambil lidi itu dan barang siapa yang mengambil lidi terpendek maka dialah yang pertama kali menghabiskan waktu bersama Shasha.
Ternyata Liu ma yang mendapatkan kehormatan itu. Karena yang mencetuskan ide itu adalah Shasha maka tidak ada yang tidak puas.
"Itu sudah tugasku, suamiku."
Liu ma ingin sekali menari senang. Dia melepas jubah luarnya dan menggendong tubuh Shasha menuju ranjang yang berhias seperti ranjang pengantin. Ranjang itu sudah lama menanti pasangan rumah ini menghasilkan malamnya.
Akan tetapi.
Tok.
Tok.
Tok.
Suara ketukan dari pintu kembali menunda hal baik. Dengan kesal Liuma berdiri dan membuka pintu.
"Ada apa? " wajah Liuma nampak menyeramkan karena kesal.
"Tu-tuan. Ada tamu dari pihak paman anda? " pelayan itu bergetar ketakutan melihat Liuma yang berwajah gelap. Tentu saja, siapa yang tidak berwajah kesal jika juniornya dalam posisi semangat siap bertempur namun diintrupsi.
"Istri tetaplah di sini. "
Shasha mengangguk, mata almondnya berkedip pelan nampak sangat menggemaskan. Dia membuat Liuma semakin membenci pamannya yang berkunjung tidak kenal waktu.
Setelah menutup pintu perlahan, Liuma melangkah ke ruang tamu. Dia tidak pernah lupa jika pamannya adalah salah satu orang yang menyebabkan keluarganya hancur. Adik ayahnya itu itu yang mengenalkan ayahnya berjudi. Dia juga membuat ayahnya menangguh hutang judi yang ia miliki juga. Selain itu Pamannya--Liuong juga merupakan orang yang kikir. Dia tinggal di desa lain bersama warisan neneknya yang sudah tiada.
Di ruang tamu, Liu bersaudara menatap kesal pada Liuong yang datang bersama seorang gadis. Mereka nampak sangat senang dan menikmati jamuan dari para pelayan.
"Ada urusan apa paman ke sini? "tanya Liuma begitu sampai ke ruang tamu. Pria ini biasanya tidak pernah tidak sopan pada orang lain. Tetapi, perasaan bencinya pada Liuong membuatnya tidak perduli.
"Keponakanku. Ini adalah sepupu mu Liu Yuyu. Aku datang kesini untuk menawarkan lamaran pernikahan untukmu. " Wajah Liuong tersenyum lebar.
Seorang gadis cantik maju ke depan. Gerakannya lues dan nampak anggun. Dia memang terbiasa dididik untuk menjadi istri pejabat. Dia hendak mengenalkan diri sebelum di hentikan Liuma.
"Aku sudah punya istri. " Liuong tersentak dengan jawaban langsung dari Liuma, dia tidak menyangka jika Liuma tidak memberi dia wajah.
"Hei, meskipun bukan untukmu tetapi adik-adikmu bisa menikah dengan Liu yuyu. "
"Apa kalian menginginkan Liu yuyu? " tanya Liuma pada keempat saudaranya.
"Aku tidak ingin menikah dengan putri seekor ular. " Liuchi yang pertama menjawab.
"Dia tidak secantik istri. " Liuka menjawab acuh tak acuh.
"Tidak, " jawab Liusa.
"Aku tidak mau, " jawab Liuji.
"Kalian~" wajah Liu yuyu berkaca-kaca. Padahal dia yakin jika sepupunya akan nerima dirinya. Dia adalah gadis nomor satu di desanya. Mengapa keempat sepupunya ini menolaknya tanpa perasaan.
Buru-buru Liuong maju dan membujuk Liuma.
"Aih, Kalian tidak harus menjadikan yu er sebagai istri pertama. Dia bisa menjadi selir kalian. "
Wajah kelima saudara itu semakin gelap. Dia tau jika pamannya ke sini karena jabatan mereka. Jika tidak pamannya ini bahkan dulu mengusir mereka ketika meminta bantuan.
"Jika yang ingin paman katakan hanya itu saja maka aku mempersilakan paman pergi. Kami tidak mengantar. "
Liuong tampak terkejut.
"Kau... Baik. Karena kalian sudah menjadi pejabat sekarang kalian tidak memberi wajah padaku. Sungguh menyedihkan menjadi pemuda yang tidak berbakti pada tetua keluarga kalian. "
"Paman yang memutuskan hubungan dengan kami ketika ayah dan ibu meninggal. Jadi jangan berlagak menjadi tetua kami. "
Wajah Liuong menjadi merah, hijau dan biru. Dia memang pernah mengatakan hal tersebut.
"Tapi bagaimanapun kami tetap sedarah. Darah kita tetap memiliki kesamaan. "
Liuma maju ke arah Liuong. Tubuhnya menguar aura membunuh yang mengerikan.
"Jika paman meributkan hal itu maka aku tidak keberatan membuat keturunan Liu hanya tinggal kami berlima. "
Liuong sungguh terkejut dengan ucapan Liuma. Itu tandanya Liuma mampu menghabisi seluruh keluarganya.
"Ka-kami akan kembali. "
Liu yuyu sangat enggan untuk pulang. Dia sudah jatuh cinta dengan pemandangan rumah dan benteng megah ini. Apalagi mereka berlima sangat tampan dan memiliki jabatan tinggi. Bagaimana dia bisa tahan meninggalkan mereka.
"Ayah, kita pergi saja. Kakak sepupu, ayahku memang membuat kesalahan oleh karena itu, Yuyu meminta maaf atas namanya. "
Yuyu menberikan busur penghormatan lalu pergi. Diam-diam di otaknya hendak merencanakan untuk menjebak salah satu sepupunya agar menikahinya.
tbc