
David memarkirkan motor ninja-nya yang berwarna merah diparkiran. Detik berikutnya dia melepas helm full face-nya yang masih berada dikepalanya. Sekarang dia sudah sampai di salah satu kedai café yang ada di Jakarta. Sebenarnya dia ingin mengunjungi salah satu café yang sekarang sedang lagi hits dikalangan remaja sepertinya, yaitu café D'A.
Pandangan David kini tertuju pada sebuah café D'A. Café tersebut berukuran tidak besar—juga tidak bisa dibilang kecil, terlihat sederhana tetapi desainnya sangat bagus. Sudah tidak heran lagi jika café D'A sangat disukai para remaja untuk dijadikan tempat tongkrongan. Konon katanya, café D'A mempunyai baristi yang berparas cantik. David yang memang mempunyai jiwa playboy menjadi penasaran dengan cewek itu.
Tidak hanya itu saja, café D'A katanya mempunyai kombinasi berbagai minuman kopi dan non kopi. Tentunya juga ada banyak menu makanan ringan, misalnya saja kue. David tersenyum tipis, telapak tanggannya dia masukan ke dalam saku hoodie berwarna hitam yang sekarang tengah dia kenakan—membuat kesan cool tersendiri.
David mulai melangkahkan ke dua kakinya lebar untuk masuk ke dalam café D'A. Sepanjang perjalanan, banyak sekali kaum hawa yang menyapa David. Namun, tentu saja David membalasnya, sangat berbeda dengan saudara kembarnya. Hanya saja David membalas dengan senyumnya yang mempesona saja tanpa berniat membalas sapaan dari mereka.
Kini, David sudah sampai diambang pintu café. Sesaat dia menyapu pandang ke seluruh penjuru café. Ramai. Satu kata itulah yang tiba-tiba terlintas di benak David. Café itu terlihat unik di mata David, karena ada sedikit hiasan yang tidak ada di café manapun. Kursinya pun bermacam-macam, ada sofa, ada bean bag, dan lain-lain. Lantainya pun terlihat bersih meski banyak pengunjung.
Lampu café terlihat remang-remang dan David menyukainya karena dia tidak suka dengan lampu yang menyilaukan matanya. Terlihat jelas bahwa pengunjung kebanyakan berpasangan-pasangan. Ada yang tengah bermanja-manja ria bersama pasangannya. Ada juga yang tengah menikmati kopi sendirian. Rata-rata yang mengunjungi café D'A adalah para remaja—hanya segelintir orang paruh baya saja yang mengunjungi café D'A.
Tiba-tiba sepasang mata David terpaku pada seorang cewek berparas cantik yang kini tengah mencuri perhatiannya. Dia mengenakan pakaian seragam berwarna putih dengan di padukan warna coklat. Sudah dipastikan bahwa dia itu adalah baristi. Sekarang David mengakui bahwa baristi café D'A sungguh sangat cantik.
Baristi cantik itu kini tengah asyik meracik kopi pesanan dari pelanggan.
Dan baristi cantik itu terlihat... sudah tidak asing lagi baginya.
Eh, tunggu-tunggu, gue kayak pernah lihat tapi di mana ya? David bertanya dalam hati.
David kembali melangkahkan kakinya lebar untuk menuju salah satu kursi kosong yang terletak di ujung café tepatnya didekat jendela besar dan panjang, hal itu membuatnya bisa melihat langit malam yang gelap, namun terlihat indah sekaligus. David sudah duduk di kursi. Tak lama kemudian waitress wanita paruh baya yang masih terlihat cantik datang seraya membawa buku menu plus bolpoinnya.
"Selamat datang di café D'A," waitress wanita wanita itu menyapa dengan ramah seraya menyodorkan buku menu yang sedari tadi dia pegang. "Mau pesan apa mas?" tanyanya dengan lembut.
Tangan kanan David terulur untuk menerima buku menu. Sudah satu menit dia membolak-balik buku menu, namun tampaknya dia masih menimang-nimang menu yang akan dia pesan. Kini, David berdeham pelan sebelum menjawab pertanyaan dari waitress wanita tadi. "Saya pesan mochaccino satu sama banana cake satu," David menukas dengan cepat.
Waitress wanita itu tersenyum lalu mengangguk paham lalu dia segera mencatat pesanan David di buku note kecil. "Oke, tunggu sebentar ya mas," pintanya.
David hanya menganggukan kepalanya tanpa mau menjawab dengan sepatah kata pun. David kembali menolehkan pandangannya kearah baristi cantik yang sedari tadi mencuri perhatiannya. David kembali berfikir keras, namun sayang dia tak kunjung ingat dengan baristi cantik itu. David lagi-lagi menyentakkan kepalanya. Sungguh, dia sangat kesal dengan dirinya sendiri.
...^^^*^^^...
Pagi hari ini begitu cerah. Matahari sudah bersinar dibalik awan. Langit terlihat berwarna biru di kelilingi awan putih tipis. Burung-burung bercicit ria. Udara masih segar karna belum terkena banyak polusi. Begitupun orang-orang yang sedang berlalu-lalang pun masih terlihat sedikit. Secara umum hari ini seperti hari-hari yang kemaren.
Seorang cewek berperawakan tinggi berlari-lari kecil melewati gerbang sekolah. Rambutnya yang dikuncir kuda pun ikut bergerak kesana kemari—seolah sekarang tengah bergoyang. Dia menyelinap kesana-sini untuk menyusul sahabatnya yang kini tengah berjalan tak jauh di depannya.
"Keysa!" Cewek cantik berkuncir kuda itu memekik, memanggil nama sahabatnya dengan ceria.
Keysa tidak kunjung menyahut panggilan cewek berkuncir kuda, hal tersebut tentu berhasil membuat cewek berkuncir kuda itu terlihat mengernyitkan dahinya bingung. Detik berikutnya cewek itu kembali berlari untuk mengejar Keysa lagi. Sedangkan Keysa, dia masih tetap mengayunkan kakinya santai seraya bersenandung kecil. Sesekali Keysa memejamkan ke dua matanya, menghirup udara yang masih segar.
Gadis cantik berkuncir kuda itu menepuk bahu kiri Keysa dengan pelan. Nafasnya terdengar ngos-ngosan. Jujur, dia lelah sudah mengejar sahabatnya. Hal itu sontak langsung membuat sang empunya terperanjat karna kaget. Keysa melepas sepasang earphone yang terpasang cantik kedua dikuping-nya. "Nindhi... lo bikin kaget gue aja deh,"
Ya, gadis cantik berkuncir kuda itu namanya Nindhi, nama lengkapnya Anindhira Keenan. Nindhi hobby-nya bernyanyi dan bela diri. Tentu saja dia sekelas dengan Keysa dan juga Sherly. Dia juga tak kalah terkenal dari Keysa. Tentunya Nindhi terkenal karna kecantikannya dan juga kekayaannya, tetapi sayang dia sedikit bodoh dalam hal pelajaran.
Nindhi mencebikkan bibirnya dengan lucu. "Pantesan aja nggak denger, orang lo lagi pake earphone. Dari tadi gue manggil-manggil lo tau nggak? Eh... lo malah kagak nyaut-nyaut," Nindhi menggerutu panjang lebar.
Keysa terkekeh pelan saat mendengar perkataan Nindhi barusan. "Maafin gue ya?" pinta Keysa sambil menyengir kuda.
Nindhi lantas tersenyum manis. Detik berikutnya dia kembali mensejajarkan langkah kakinya dengan langkah kaki Keysa. "Iya nggak apa apa kok," Nindhi menyahut dengan cepat.
"Ya udah, kita sekarang ke kelas aja yuk?" sambungnya.
"Ayuk!" Keysa menyahut dengan antusias.
Mereka berdua-pun sekarang melanjutkan langkahnya menuju kelas. Keduanya mengobrol sepanjang jalan, sesekali tertawa atau tersenyum saat bertukar gosip lucu, atau berbisik-bisik karna menceritakan gosip yang mereka bahas adalah topik yang pribadi. Sungguh, keduanya sangat menikmati hal itu.
Nindhi merogoh saku roknya untuk mengambil ponsel kesayangannya. "Eh, Lo tau nggak Key?" Nindhi bertanya antusias saat mereka saat tengah menyusuri koridor kelas mereka.
Keysa memutar bola matanya dengan malas. Bagaimana dia bisa tahu orang Nindhi aja belum bicara. "Ya nggak tau lah, orang lo belum bicara juga," kesalnya. Keysa mengangkat tangannya untuk menyelipkan anak rambutnya kebelakang telinga yang terjuntai menutupi sebagian wajah karena dia tadi sempat menunduk, memperhatikan ponselnya yang kini sejajar dengan dagu.
Nindhi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia merutuki dirinya sendiri. Kenapa dia terlihat bodoh sekali?
"Eh, iya juga ya... Nanti katanya ada murid pindahan dari Amerika Serikat loh," Nindhi berkata dengan antusias. Namun, pandangannya tak lepas dari layar ponsel yang terlihat menyala.
Sesaat kemudian, Keysa mengangguk-anggukan kepalanya, tanda dia mengerti. Sejujurnya Keysa tidak begitu penasaran, tetapi apa salahnya dia bertanya. "Bay the way... muridnya cowok apa cewek, Nin?" Keysa bertanya seraya melirik Nindhi sekilas.
Nindhi mengetuk-ngetuk pipinya dengan jari telunjuknya. "Eum... kalo soal itu gue belum tau sih Key. Gue sih pengennya cowok, biar stok cogan di sekolah kita bertambah gitu," Nindhi menyahut seraya menyengir lebar.
Keysa menepuk jidatnya sendiri sebelum menjawab perkataan Nindhi barusan. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Kenapa semua kaum hawa menyukai cogan? Ah, Keysa tidak habis pikir dengan mereka. "Lo mah pikirannya cogan mulu, giliran pelajaran aja lo nggak pernah mikir." Keysa mengomel seraya mencubit pelan lengan Nindhi.
Kontan Nindhi langsung tertawa terbahak bahak karena mendengar perkataan Keysa barusan. "Biarin... wlee—" sahutnya seraya menjulurkan lidahnya, meledek.