
"Eh, tunggu-tunggu, jangan-jangan lo tadi pagi terlambat ya?" Nindhi bertanya penasaran.
Keysa mengangguk mengiyakan. "Bohong jika gue mengatakan bukan,"
"Gila! Lo kenapa bisa terlambat dan dihukum, Key?" Nindhi bertanya dengan heboh. Tentu kehebohan Nindhi berhasil menarik banyak pasang mata untuk menoleh kearah keduanya. Detik berikutnya wajah Nindhi bersemu—sadar akan kesalahannya yang baru saja dia perbuat.
Untuk sesaat, Keysa memijit pelan kepalanya yang terasa berdenyut-denyut dengan kedua telapak tangannya. Sungguh, dia kini merasa pusing saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan secara bertubi-tubi oleh sahabatnya itu untuknya. "Ceritanya panjang deh pokoknya," Keysa menyahut dengan nada yang terdengar kesal.
"Ceritain dong," Nindhi meminta seraya memasang puppy eyes andalannya.
Keysa menghela nafasnya panjang sebelum akhirnya berdeham pelan lalu mengangguk dengan malas. Dia tidak bisa menolak jika Nindhi sudah memasang puppy eyes yang sangatlah bisa membuatnya luluh begitu saja.
...*...
Bel tandanya pulang telah berbunyi, beberapa kelas terdengar riuh sesaat. Tidak terkecuali dengan kelas 11 IPA3. Tidak lama kemudian bunyi decitan kursi, meja, dan pintu terdengar saling bersahutan satu persatu. Lorong koridor yang tadinya sepi sekarang menjadi tampak ramai. Para murid ada yang hendak pulang kerumah, bermain kerumah teman, pergi ke Mall atau kerja kelompok bersama teman-temannya.
Keysa sendiri langsung kembali bersemangat setelah mendengar bel pulang berbunyi barusan. Keysa sekarang sudah terbebas dari rasa bosan. Dia mulai memasukan beberapa buku dan alat tulis kedalam tas ransel miliknya. Setelah selesai membereskan semua barangnya, dia beranjak duduknya dan mengayunkan kakinya untuk menghampiri bangku Nindhi, terlihat Nindhi tengah sibuk membereskan semua barangnya.
Setelah memastikan jika tak ada barang yang tertinggal—Nindhi segera memakai tas ranselnya yang berwarna merah maroon miliknya. Nindhi tersenyum, dia lantas merangkul Keysa dengan erat, lalu mereka berdua berjalan beriringan untuk pulang kerumah masing-masing.
Siang hari ini cuacanya begitu mendukung. Matahari bersinar cerah, sinar matahari yang berhasil menyengat dan membuat tubuh menjadi banjir karena berkeringat, langit yang berwarna biru muda di kelilingi awan putih tipis yang sangat enak dipandang. Walau sinarnya berhasil membuat kulit memanas.
"Kenapa tadi pagi lo bisa berangkat, Key?" Nindhi bertanya saat mereka tengah menyusuri koridor kelas mereka.
"Ayo cerita sekarang dong," lanjutnya dengan bersemangat. Pasalnya tadi Keysa belum sempat bercerita karena bel masuk sudah berbunyi.
Keysa menghela nafas dengan panjang sebelum menjawab pertanyaan dari Nindhi barusan. "Eum, tapi perkataan gue jangan lo potong loh ya?" Keysa bertanya dengan sedikit was-was. Sebab saat dia bercerita pada Nindhi, pasti Nindhi akan memotong ucapannya terus menerus, kontan hal tersebut membuat Keysa malas sendiri untuk bercerita pada Nindhi lagi.
Nindhi mengangguk setuju. "Iya sahabatku tersayang," Nindhi menyahut dengan suara yang terdengar sangat antusias. Namun, senyumnya dari tadi tidak pudar sama sekali.
Sebelum mulai bercerita, Keysa terlebih dahulu menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan. "Jadi gini... tadi pagi kan gue kan nunggu bis di halte? Tapi bis yang gue tunggu nggak kunjung datang, eh selang beberapa menit tiba-tiba dia da—"
Mata Nindhi seketika melotot. "Dia siapa, Key? Apa jangan-jangan dia yang lo maksud itu hantu ya?" Nindhi bertanya dengan ngelantur.
Sebelum Keysa menyelesaikan perkataannya, Nindhi terlebih dahulu memotongnya. Keysa kontan menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal, dia mencubit pelan lengan mulus milik Nindhi. "Gue nggak mau lagi lanjutin ceritanya," kesalnya seraya bersedekap dada dan memalingkan wajahnya kesamping kiri, merajuk.
Hal tersebut langsung membuat Nindhi mengerutkan bibirnya dengan lucu. "Ih, kok gitu si?" Nindhi berprotes seraya mengelus-elus pelan lengan mulus milik Keysa. Dirinya kelabakan sendiri dibuatnya.
Keysa menolehkan wajahnya lagi kearah Nindhi. "Lo sih motong ucapan gue, kan jadinya gue males buat cerita lagi," Keysa menyahut dengan nada yang terdengar kesal. Sudah Keysa duga, pasti Nindhi memotong perkataannya lagi.
Kenapa tadi gue jadi motong perkataan Keysa, ya? Nindhi bertanya dalam hati.
Wajar saja, Nindhi memang orangnya sedikit pelupa.
Keysa hanya memutar bola matanya jengah. Sebenarnya dia malas bercerita—mengingat bahwa setiap kali dia berbicara, Nindhi pasti selalu memotong perkataannya. Namun dia berusaha untuk memakluminya. "Nah, pasti lo baru ingat kesalahan lo kan, Nin?" Keysa bertanya benar seraya berdecak kesal.
Nindhi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia lalu mengangguk mengiyakan seraya tersenyum menahan malu kearah Keysa. "Ceritanya dilanjut ya, Key? Nggak enak tau kalau digantung, sakit hati gue," Nindhi berkata sedramatis mungkin—hal tersebut kontan membuat Keysa lagi-lagi mendengus kesal.
Detik berikutnya Keysa berdeham pelan sebelum menjawab ucapan Nindhi barusan. "Tapi lo harus janji dulu, jangan motong ucapan gue ya?" Keysa bertanya seraya menyodorkan jari kelingkingnya kearah Nindhi.
Sementara Nindhi? Dia langsung tersenyum tipis, wajahnya pun tampak langsung berbinar, seketika dia mengangguk mengiyakan. Nindhi menautkan jari kelingkingnya dengan jari milik Keysa seraya tersenyum manis. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tak akan lagi memotong perkataan Keysa—jika iya maka sudah dipastikan bahwa Keysa tak akan mau bercerita kepadanya lagi.
"Eum, tadi gue ceritanya sampai mana ya?" Keysa kembali bertanya. Sekarang wajahnya nampak bingung bingung. Dia mendongakkan kepalanya keatas seraya mengetuk-ngetuk pipinya dengan kuku jari telunjuknya yang amat lentik.
"Sampai tiba-tiba dia datang, maybe?" Nindhi menebak dengan benar.
Sedetik kemudian Keysa tersenyum lebar lalu mengangguk mengiyakan. Jawaban Nindhi tidak salah, kenyataannya memanglah benar. "Tiba-tiba dia datang—" Keysa sengaja menjeda perkataannya, dia lantas melirik ke arah Nindhi yang tengah memasang wajah amat penasaran.
"Dia yang gue maksud adalah Darel Arsenio," Keysa menjelaskan dengan suara yang terdengar lirih saat menyebut nama panjang Darel. Pasalnya sekolah merah belum sepenuhnya sepi—mengingat bahwa masih ada beberapa murid yang berkeliaran didalam sekolahan. Tentu Keysa tak menginginkan jika ada murid yang mendengar obrolannya dengan Nindhi.
Lantas Nindhi langsung melotot tak percaya kearah Keysa lalu menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Sejujurnya dia sangatlah bingung, pasalnya selama ini Darel tak sembarang memperbolehkan seorang cewek naik motornya—Darel pun melakukannya terpaksa jika harus memperbolehkan Sherly naik motornya. Sungguh, Darel tak suka jika barangnya disentuh oleh orang lain, tidak terkecuali keluarganya.
"Gue otomatis terkejut dong? Terus gue langsung nanya pada Darel, kenapa bisa ada disini, dengan santainya dia menjawab kalau dia tidak sengaja melihat gue yang sedang duduk dihalte lalu dia samperin gue deh," lanjutnya berbisik.
Keysa melirik sekilas wajah Nindhi yang terlihat cengo, Keysa terkekeh pelan. Lucu sekali. "Dia masa ngajakin gue berangkat bareng, awalnya gue sih nolak ya tapi akhirnya gue mau berangkat bareng dia. Lo perlu tau, bis yang gue tunggu itu nggak lewat-lewat, jadi gue terpaksa nebeng Darel,"
Keysa menghela nafas panjang sebelum mulai berkata lagi. Kali ini Keysa berdecak kesal. "Parahnya lagi tadi pagi itu jalanan macetnya minta ampun, alhasil gue dan Darel jadi telat dong?"
Nindhi hanya mengangguk tanda dia paham dengan cerita Keysa yang barusan yang telah diceritakan. "Dan akhirnya kita berdua kepergok sama burik, Nin... burik loh ini," Keysa berkata dengan sedikit heboh. Beruntunglah karena tidak ada yang mendengar cerita Keysa barusan. Pasalnya dikoridor yang mereka lewati lumayan nampak sepi. Jika guru killer mendengar perkataan Keysa barusan—tamatlah sudah riwayat Keysa.
Nindhi bergidik ngeri saat mendengar nama burik. Apalagi saat melihat kayu rotan milik burik? Hell no!
"Dan akhirnya kita berdua dihukum deh, keliling lapangan lima belas kali, tapi kita berdua cuma keliling tiga belas kali doang, habisnya bel istirahat tadi udah bunyi, males banget gue kalau lari dilihatin banyak murid" lanjut Keysa yang diakhiri dengan kekehan pelan.
Nindhi tidak terkejut lagi saat mendengar kata berlari, baginya berlari adalah makanan setiap harinya. Jika dia diberi pilihan—maka dia akan senang jika harus menggantikan Keysa untuk berlari lapangan. Nindhi mengangguk-anggukan kepalanya, tanda dia sudah mengerti semuanya. "Oh, jadi gitu ya ceritanya?"
Keysa mengendikan bahunya acuh tak acuh. "Iya jadi gitu deh, Nin,"