
"Anu, den... den David tadi dipukulin cowok,"
Darel terdiam setelahnya, dia tidak bergeming sama sekali. Dia masih berusaha mencerna apa yang barusan dikatakan oleh pak satpam.
Dipukulin cowok? Bagaimana bisa David dipukulin cowok? Bukannya David baru tinggal disini sebentar?
Darel kembali menatap pak satpam dengan raut wajah yang bertanya-tanya. "Kok bisa sih, pak?"
"Tidak tahu den, bapak kira cowok itu adalah temennya aden... Eh, ternyata bukan," jawab pak satpam jujur.
"Sekarang David dimana, pak?"
"Dibawah, den... di ruang tamu." jawabnya seraya menunjuk lantai bawah dengan jari telunjuknya.
Darel tersenyum tipis kearah pak satpam lalu Darel mengangguk tanda dia mengerti. Darel berjalan menuruni anak tangga dengan santai, kedua telapak tangannya dia masukan kedalam kantong celana kolor berwarna hitam pekat miliknya.
Kedua mata Darel seketika menyipit, matanya tertuju pada cowok tampan yang tengah memakai kaos oblong berwarna putih—dia tengah melepaskan masker hitam yang berhasil menutupi sebagian wajahnya.
'Aneh.' Adalah satu kata yang tiba-tiba muncul dibenak Darel. Dia sangat heran. Kenapa kembarannya harus pakai masker segala? padahal dia tidak akan pergi kemana-mana. Darel menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, dia tidak habis pikir lagi dengan kembarannya.
Darel mempercepat langkahnya kakinya kearah David yang sedang duduk di sofa berwarna dark grey seraya memegang pipinya yang berwarna biru karena lebam dan juga berdarah. Darel segera duduk disamping David, mata Darel tidak lepas dari wajah David.
David yang telah sadar bahwa dari tadi dilihatin oleh Darel—sontak dia langsung menolehkan wajahnya kesamping, dahinya berkerut. "Kenapa lo lihatin gue terus, huh?"
Darel memutar bola matanya dengan malas, dia memalingkan mukanya kesamping—dia sungguh sangat malas meladeni David.
Sedetik kemudian David menyengir kuda. "Oh, gue tau, pasti lo khawatir sama gue kan? Kan?" David bertanya seraya menaik-turunkan kedua alisnya.
Darel tidak suka dengan tingkah laku David yang mempunyai kepercayaan diri yang sangat tinggi. Menurut Darel—kepercayaan diri David sudah tingkat dewa. Tangan Darel seketika mengepal, lalu dia melayangkan pukulannya pelan tepat di pipi David yang sudah lebam dan terlihat sangat mengenaskan.
Sontak David langsung meringis kesakitan. "Aw— njing!" umpatnya, kesal. David merutuki pipinya sendiri yang sedang tidak bisa diajak kompromi. David menatap Darel tajam, lalu dia membalas perbuatan Darel dengan memukul pipi Darel menggunakan tenaga lebih.
Darel tidak marah sama sekali, dia malah tertawa terbahak-bahak saat melihat kembarannya yang tengah marah kepadanya, karena ulahnya itu. Ya, Darel sangat puas. "Makanya, jadi orang itu nggak usah percaya diri banget!"
David tidak bergeming sama sekali. Dia mengabaikan perkataannya Darel barusan. David meringis kesakitan lagi, jari jemarinya terangkat untuk menyentuh kembali pipinya yang terasa sangat sakit dan perih. Sesekali dia memejamkan matanya karena rasa sakit dan perih itu.
Tawa Darel seketika berhenti, dia kembali menoleh kearah kembarannya. Entah kenapa, tiba-tiba Darel juga merasakan rasa sakit. Entah karena ikatan persaudaraan, maybe?
Darel beranjak dari duduknya, tanpa mengucapkan sepatah katapun, dia segera berjalan ke kamarnya untuk mengambil sesuatu.
David menatap sendu kearah Darel—kembarannya itu yang kian menghilang. "Dasar kembaran laknat! Udah tahu gue lagi sakit begini, malah ditinggalin sendiri," David menggerutu kesal.
Tiga menit kemudian, Darel berjalan kearah kembarannya seraya memegang kotak P3K, Darel mengangkat kedua sudut bibirnya saat melihat David sedang tidur telungkup diatas meja, kedua tangannya ditumpuk—digunakan untuk menopang kepalanya.
Walaupun dia terlihat seperti tidak perduli kepada kembarannya namun hal tersebut tidaklah nyata dan tentunya salah besar. Aslinya dia sayang kepada kembarannya lebih dari apapun, hanya saja dia gengsi mengatakannya. Darel adalah tipikal cowok yang lebih suka menunjukkan rasa sayangnya dengan aksi dari pada menunjukkannya dengan ucapan semata.
Darel menaruh kotak P3K di meja yang berada tepat didepan David, lalu dia menepuk bahu David pelan dan berhasil membuat David terkejut. David mengerjapkan matanya beberapa kali, bukankah tadi Darel sudah pergi meninggalkannya disini sendiri? Tetapi kenapa dia kembali lagi ke sini, huh?
David menatap Darel dengan ekspresi wajah yang terlihat tidak percaya. "Eh, lo kenapa balik lagi?"
Darel memutar bola matanya jengah, dia tidak mengabaikan perkataan David. Lalu Darel melirik sekilas P3K, kontan David langsung melihat apa yang dilirik kembarannya. Lantas David langsung tersenyum, seketika hatinya menghangat. Dia kira Darel tidak peduli padanya, pahadal faktanya tidak seperti apa yang dia pikirkan.
"Kirain lo nggak peduli sama gue," ucapnya lalu diiringi tawa kecil.
"Nggak usah ge-er terus bisa nggak?"
David terkekeh geli, lalu dia menyenggol pelan lengan kekar Darel. "Dari pada lo... yang digedein malah gengsinya,"
Darel tidak mau mengakui kalau dia sebenarnya khawatir dengan David—mengingat David adalah kembarannya dan satu-satunya saudara yang dia punya.
"Nah, kan, ucapan gue bener kan?" David bertanya seraya menepuk-nepuk dadanya dengan bangga.
Darel mengetuk-ngetuk pipinya dengan jari telunjuknya, seolah dia tengah berpikir keras. "Salah!"
David menoleh kearah Darel, lalu dia mengernyitkan dahinya, bingung. "Apanya yang salah, huh?" David bertanya penasaran.
Setelahnya Darel menjadi gugup karena pertanyaan yang barusan dilontarkan oleh David.
Yang salah apa ya? Gue aja nggak tahu. Batinnya.
David memalingkan mukanya kesamping. "Nggak bisa jawab juga, dasar keras kepala, kek batu besi tau nggak!"
Darel terdiam sebentar ketika telapak tangan kanannya mengambil masker berwarna hitam milik David yang ada di meja tepatnya disamping kotak P3K. Darel menoleh kearah David seraya mengernyitkan dahinya. "Lo kenapa pakai masker segala, huh?" tanyanya untuk mengalihkan topik.
"Siapa tau tadi yang datang fans lo, entar jadinya pada ngefans ke gue juga deh," David menyahut seraya mengendikan bahunya acuh.
Darel seketika menjadi cengo lalu dia membuang nafasnya dengan kasar.
Pedenya kumat lagi ni anak.
"Gue serius, Dav!"
"Gue juga serius, Rel!"
Darel tidak membalas perkataan David. Dia terdiam sebentar sebelum kembali melontarkan perkataan untuk kembarannya. Darel mengangkat jari jemarinya untuk menyentuh pipi milik David yang lebam dan berdarah. "Lah terus ini kenapa, huh? Kok bisa berdarah dan lebam kayak gini?" Darel kembali melontarkan pertanyaan seraya menaikan sebelah alisnya.
David menepis kasar tangan kanan Darel, lalu dia menoleh kearah Darel. "Gue mau cerita, tapi dengerin baik-baik ya?"
Darel berdeham sebentar lalu dia mengangguk setuju.
"Jadi gini, tadi kan ada seseorang yang mencet bel rumah kita ya? terus gue bukain dong? Gue kira seseorang itu adalah cewek yang nyariin lo—" David sengaja mengantungkan perkataannya, supaya rasa penasaran Darel semakin bertambah.
Darel menghela nafasnya lagi, kenapa kembarannya itu rese sekali? Apa dia tidak pernah tahu kalau digantung itu rasanya tidak enak?
"Terus?" Darel menurunkan gengsinya untuk bertanya terlebih dahulu seraya menolehkan wajahnya kearah David.
David terkekeh geli saat melihat wajah Darel yang sangat penasaran. "Emang ya? Lo itu keponya sejak lahir,"
Darel memalingkan mukanya kesamping, dia tersenyum tipis, saking tipisnya hampir tidak terlihat. Kenapa kembaran masih ingat kata-kata itu? Bahkan Darel saja sudah lupa.
"Idih, senyum aja pakai sembunyi-sembunyi segala. Dasar cowok gengsian!"
"Dari pada lo, cowok yang ke pedeannya tingkat dewa dan satu lagi lo juga cowok playboy cap alien,"
David mengerucutkan bibirnya, lucu. Kenapa semua orang menyebutnya dengan cowok playboy cap alien? Apakah tidak ada kata lain lagi selain alien? Kalau boleh jujur, David sangat benci alien.
"Harusnya kata alien itu harus diganti dengan nama artis Korea yang sedang naik daun itu siapa namanya? Ah, iya namanya Taehyung BTS... jadinya kan bagus jadi playboy cap Taehyung BTS," ralatnya, sedetik kemudian dia tertawa lebar.
Darel memutar bola matanya jengah, lalu dia memukul pelan lengan kekar milik David. "Nggak lucu, anjir! Cepet lanjutin ceritanya!"
David kembali menoleh kearah Darel yang sedang menatapnya dengan datar. David mengangkat telapak tangan kanannya, lalu dia membentuk peace seraya tersenyum lebar. "Selow, bro, selow,"