
Keysa berdeham pelan untuk mengurangi rasa canggungnya, dia mengambil alih tote bag yang masih berada ditelapak tangan Darel dengan sedikit rasa canggung. "Eum, makasih, Rel,"
Darel hanya mengangguk pelan seraya tersenyum sebagai responnya, dia memasukkan telapak tangan kanannya kedalam saku celana jeansnya.
Nikmat apa yang engkau dustakan? Kenapa Darel tampan sekali? Oh my god, rasanya Keysa ingin pingsan saja disini.
Kok tote bag-nya berat sih? Tanyanya dalam hati.
"Kita berangkat sekarang?" Darel bertanya—berhasil memecah keheningan yang tercipta.
Alletta beranjak dari duduknya lalu dia berjalan mendekat kearah dua insan yang masih berdiri. "Eum, gue boleh ikut nggak, kak?"
Darel dan Keysa tidak bergeming seperkian detik, keduanya saling menukar pandangan. Helo? Kenapa Alletta tidak pernah capek untuk menganggu gue, huh? Kalau Alletta ikut, dia mau duduk dimana? Keysa menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat Alletta anak yang menurutnya kelewat nakal.
Keysa tersenyum lalu mengangguk setuju. "Boleh kok, tapi lo duduk di ban belakang aja, ya?"
Perkataan Keysa barusan berhasil membuat Darel tertawa didalam hati.
Kenapa jawaban Keysa menurut gue lucu banget ya?
Apakah cewek galak bisa ngelawak juga, huh? Menurut Darel jawaban sih iya. Kenyataannya Keysa yang menurutnya cewek galak bisa ngelawak.
Alletta bergidik ngeri saat membayangkan dirinya sendiri duduk di ban belakang milik Darel. Emang dia semut kecil apa—yang bisa duduk di ban motor?
Alletta menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu dia menyengir lucu. "Eum, nggak jadi deh kak,"
Keysa menyugingkan senyumnya lalu dia berjalan mendekat kearah Alletta. "Pakaian gue yang tadi berantakan diatas kasur gue beresin ya Letta sayang. Kalau gue udah pulang—tapi lo belum beresin, lo bakal tahu akibatnya," bisiknya samar, membuat Darel tidak bisa mendengarnya.
Seketika muka Aletta menjadi pucat pasi. Helo? Enggak salah nih? Kenapa gue jadi seperti seorang pembantu kek gini? Kenapa kak Keysa sekarang jadi nyebelin dan sering nyuruh-nyuruh gue seenak jidatnya sendiri, huh? Arghh, apakah ini yang di namakan karma?
"Kak, lo lagi bercanda, kan?" tanyanya pelan.
"Lihat muka gue, emang gue kelihatan bercanda, ya?"
Alletta lantas menatap manik mata Keysa, Alletta rasa Keysa sedang tidak bercanda. Lalu da menggelengkan kepalanya pelan.
Keysa tidak bergeming, dia hanya tersenyum manis kearah Alletta.
Alletta menepuk pelan jidatnya sendiri. Tamatlah riwayat kau Alletta. Batinnya.
*
Varo saat ini sedang tidur terlentang diatas kasur king size-nya. Dia tengah mengenakan kaos oblong berwarna abu tua dan dipadukan dengan celana kolor selutut berwarna hitam. Beberapa detik kemudian—Varo membuka kedua kelopak matanya yang tadi terpenjam. Matanya mengerjap beberapa kali untuk beradaptasi pada cahaya lampu kamarnya yang menyilaukan mata. Tiba-tiba saja dia terbangun. Dia terdiam sejenak, berusaha untuk mengumpulkan nyawanya kembali.
Varo bangkit dari tidurnya, dia menurunkan kakinya ke lantai. Dia kembali mengucek kedua kelopak matanya sesaat lalu melirik sekilas jam dinding yang terpajang indah di dinding yang bernuansa abu-abu. Waktu menunjukan pukul tiga pagi.
"Hoam,"
Varo menguap lebar, telapak tangan kanannya dia gunakan untuk menutup mulutnya. Varo melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, dia berjalan menuju wastafel yang letaknya berada di kamar mandinya. Dia memutar kran air dan langsung membasuh wajahnya dengan kasar, dia menatap tubuhnya didepan cermin, dia menghela nafas lagi. Wajah Varo masih seperti biasanya—wajahnya masih tetap tampan.
Varo berdecak. "Arghh, Kenapa gue harus bangun sekarang, huh? Padahal kan gue tadi belum puas mimpi kencan sama Keysa,"
"Kira-kira adek gue lagi apa ya?" Varo bertanya samar, saking samarnya sampai hampir tidak terdengar.
Varo melangkahkan kakinya menuju kamar Sherly yang berada diatas.
Sepi.
Satu kata yang tiba-tiba terlintas di benak Varo. Ya, rumah elit yang ditempati Varo dan Sherly terasa sepi.
Jovanka—daddy Varo dan Sherly, belum pulang dari kemarin, karena Jovanka bekerja di luar negeri—tepatnya di negeri paman Sam. Sekarang Varo dan Sherly hanya berdua di rumah elit ini. Pembantu yang berada di rumahnya hanya bekerja pagi sampai petang saja.
Varo berjalan menaiki anak tangga, sesekali dia menyisir rambutnya dengan jari jemarinya. Saat sudah berada didepan pintu kamar Sherly, Varo terlebih dulu mengetuknya seraya memanggil Sherly beberapa kali—tetapi tidak ada sahutan dari Sherly. Varo menunduk—melihat knop pintu. Perlahan tapi pasti, dia mendorongnya pelan.
Ketika terdengar decitan pintu yang dibuka, Sherly masih tidak bergeming ditempatnya. Dia tidak memperhatikan Varo yang masuk ke dalam kamarnya. Sherly tahu jika Varo yang datang, namun dia sama sekali tidak berniat menyapa, menoleh saja pun dia enggan melakukannya. Tentu saja karena Sherly marah kepada Varo.
Varo mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kamar Sherly. Tiba-tiba dia menjadi diam dan terpaku saat melihat Sherly yang sedang duduk diatas ranjang seraya menangis sesegukan. Terlihat ratusan tisu berserakan di lantai milik Sherly. Jangan bilang kalau Sherly tidak tidur tadi malam. Varo menggeleng-gelengkan kepalanya pelan—seketika kepalanya ingin pecah.
Varo kembali berjalan untuk mendekat kearah Sherly. Dia duduk di tepi kasur queen size milik adiknya.
"Tadi sore abang udah ngehajar dia, jadi kamu sekarang nggak usah nangis lagi, abang udah ngasih balasan yang seimbang buat dia," Varo menjelaskan seraya mengusap pelan rambut Sherly yang berantakan dengan perasaan tulus.
Sherly kembali menangis histeris. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, dia masih tetap tidak terima kalau Darel sudah dipukuli oleh Varo. Kenapa Varo sama sekali tidak mengerti perasaannya sekarang?
Sherly membuang lembaran tisu yang baru saja dia gunakan untuk menyeka air matanya yang jatuh dari pelupuk matanya dan ingusnya yang kembali keluar dari hidung merahnya, lalu Sherly kembali mengambil tisu lagi. "Arghh, abang jahat!" Sherly memekik diiringi dengan tangisan histeris.
Varo hanya tersenyum tipis. Ternyata Sherly masih marah kepadanya. Apakah gue salah kalau udah mukulin Darel? Bukannya Darel wajib dikasih pelajaran? Gue hanya ingin melihat adik gue tertawa bukannya menangis seperti ini, apa lagi nangisin cowok brengsek. Batinnya.
"Abang cuma ngasih pelajaran, Sher! Gue nggak terima lo nangis karena ulah dia," Varo menyahut dengan lembut. Varo masih enggan menyebut Darel dengan nama.
Sherly kembali menyeka air matanya yang turun membasahi pipi. "Tapi caranya nggak gini juga, bang!"
Varo mengernyitkan dahinya saat mendengar perkataan Sherly barusan. "Terus caranya gimana, huh?"
"Tau ah, Sherly sebel sama abang!" Sherly menyahut dengan suara yang terdengar bergetar.
Varo sedih melihat penampilan Sherly yang bisa disebut kacau. Ah, ralat—maksudnya sangat kacau. Rambut acak-acakan, muka kusut, kedua matanya bengkak, hidungnya memerah, dan terakhir piyama yang Sherly gunakan sudah lusuh dan sedikit basah karena air matanya sendiri.
Varo kembali mengepalkan kedua telapak tangannya. Rasanya dia ingin menonjok lagi wajah Darel yang sudah membuat Sherly menangis. Kuping Varo berdenging, rasanya gendang telinganya ingin pecah karena terus mendengar suara tangisan Sherly yang kelewat kencang. Varo menatap ke dua bola mata Sherly dengan tajam. "Berhenti menangis, Sher!" perintah Varo dengan meninggikan suaranya.
Sedetik kemudian, Sherly terlonjak kaget. Tubuhnya bergetar ketakutan saat mendengar perintah dari Varo barusan. Bukannya berhenti menangis, tetapi Sherly kembali menangis histeris. Sherly menunduk, dia tidak berani menatap kedua mata Varo yang tajam seperti elang. Dia terisak. "Hiks... Semua orang jahat! Hiks..."
Varo diam saat mendengar perkataan Sherly barusan, beberapa detik yang lalu dia tetap diam dan tidak bergeming sama sekali. Varo mencerna perkataan Sherly tadi, dia sadar akan kesalahannya, kenapa tadi dia sudah membentak Sherly? Tidak seharusnya Varo tadi membentak Sherly yang sedang kacau seperti ini.
Sedetik kemudian Varo memeluk tubuh Sherly yang bergetar. Varo berharap supaya adiknya itu berhenti menangis—bukannya malah menangis histeris lagi.
Sherly memukul-mukul dada bidang Varo, saat ini dia tidak ingin dipeluk Varo. Tapi lama kelamaan kedua tangan Sherly berhenti memukuli dada bidang Varo karena mengingat usaha yang dilakukan begitu sia-sia. Sherly memejamkan matanya, dagunya dia letakan diatas bahu Varo. Tubuh Sherly menghangat karena pelukan Varo. Sherly sudah tidak menangis histeris seperti tadi—melainkan dia hanya terisak saja.
"Jangan nangis, abang nggak suka kamu nangis gini gara-gara cowok brengsek itu," tegur Varo seraya membelai rambut Sherly dengan sayang.