
...Darel: Gue setia, Key. Beda sm kembaran gue....
Keysa: nggak percaya gue.
Mata Darel seketika menyipit saat membaca chat Keysa barusan. Kenapa Keysa begitu tidak mempercayainya? Apakah dia harus membuktikannya terlebih dahulu—supaya Keysa bisa percaya dengannya?
^^^Darel: Key, besok minggu lo sibuk nggak?^^^
Keysa: Nggak sih, emangnya kenapa?
^^^Darel: Gue ajak jalan mau?^^^
Keysa: Ogah, ah. Gue kagak mau jalan sm cowok yg udah punya pacar.
Darel memicingkan matanya. Apa Keysa barusan tengah memberinya kode. Ah, Darel tidak ingin ge-er dulu.
Darel: Lo masih inget saat kita pertama kali ketemu? Gue mau maafin lo. Tp ada syaratnya. Gue ngajak lo jalan besok karena gue mau ngasih tau apa syaratnya, Key.
Tiga puluh detik kemudian ponsel Darel kembali bergetar.
Keysa: Emangnya bilang dichat aja ga bisa, ya?
^^^Darel: Ga bisa.^^^
Keysa: Ya udah deh, gue mau.
Kedua sudut bibir Darel terangkat, dia tersenyum. Tentu saja dia sangat bahagia saat membaca chat dari Keysa itu.
^^^^^^Darel: Nah gitu dong. Gue besok jemput lo ya? Lo tinggal sharelook aja. See you Key.^^^^^^
Read.
Darel tertawa lebar saat chatingan dengan Keysa yang menurutnya lucu, atau bahkan sangat lucu?
Hati Darel seketika kembali menghangat, chatingan dengan Keysa sudah mampu membuat mood-nya yang tadinya rusak karena insiden tadi. Alhasil sekarang mood Darel menjadi bagus kembali, walaupun Keysa merespon chat-nya dengan sedikit marah? ngegas? atau bahkan sedikit dingin? Tetapi Keysa bisa mampu membuat Darel tertawa lebar.
*
Varo menggeram marah, dia mengertakan giginya, kedua telapak tangannya mengepal, tanda dia sudah siap melayangkan pukulan bertubi-tubi diwajah Darel. Varo melirik sekilas jam tangan berwarna hitam pekat yang membingkai indah pergelangan tangan kanannya. Varo sudah menunggu lebih dari tiga menit yang lalu. Tetapi pintunya tidak kunjung terbuka. Jujur saja, tangan kanan Varo sudah gatal, dia ingin melampiaskan amarahnya kepada Darel.
David yang sedang duduk diatas kasur king size-nya seraya asyik bermain ponselnya pun seketika menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Siapa lagi yang datang kerumah gue sore-sore begini, huh?" tanyanya kesal.
David membuang ponselnya diatas kasur king size-nya itu. Dia menurunkan kedua kakinya dilantai, sebelum dia bergegas menuju pintu depan—dia terlebih dulu mengedepankan poninya untuk menutupi dahinya, diambilnya masker berwarna hitam yang terletak diatas nakas miliknya. Dia memakai masker hanya untuk berjaga-jaga saja, siapa tau yang datang adalah fans ceweknya maupun fansnya Darel.
Capek gue, perasaan gue mulu yang bukain pintu. Batinnya.
David melangkahkan kakinya menuju pintu depan seraya menggunakan masker hitam. Dia membuka pinta depan. Betapa terkejutnya saat melihat cowok tampan yang tidak kalah tampan dengannya sedang berdiri tepat didepan pintu rumahnya. David mengernyitkan dahinya, pasalnya dia tidak kenal dengan cowok yang diketahui bernama Varo.
Varo menyeringai tajam saat melihat David yang Varo kira itu Darel yang kini sudah berdiri didepan matanya. Tanpa pikir panjang, Varo langsung membogem wajah David yang tertutupi masker hitam dengan pukulan yang begitu keras.
Bug!
David langsung tumbang, jatuh diatas lantai. Tulang pipi yang terpahat indah bak model itu jadi sasaran empuk bogeman dari tangan Varo. Dia mengangkat telapak tangan kanannya untuk memegang pipi yang barusan kena bogem mentah dari Varo.
"Lo udah puas, huh? Lo yang udah bikin adek gue tadi nangis, kan?" Varo bertanya dengan berapi-api.
David menggelengkan kepalanya pelan, dia benar-benar tidak tahu apa-apa. Ini semua maksudnya apa, huh? David bangkit dan langsung berdiri tepat dihadapan Varo. Seketika wajah David jadi cengo—Bikin adeknya nangis? Hell no. Memang David adalah seorang playboy, namun dia belum pernah sekalipun menyakiti cewek di Jakarta, dia hanya sudah pernah menyakiti cewek di Amerika Serikat.
Kedua mata Varo menyorot tajam kearah David. "Kenapa lo diam aja? Ga bisa jawab, huh?"
"Woy, jangan nuduh sembarangan, dong!" David menyahut tidak terima.
Varo terkekeh pelan. Apa dia bilang? Jangan nuduh sembarangan? Jelas-jelas dia yang sudah bikin Sherly nangis, bangsat emang! Batinnya dalam hati.
Tangan kanan Varo sudah mengepal, siap memukul kembali wajah tampan David yang tertutupi masker. "Bacot lo!" umpatnya, lalu dia kembali melayangkan bogeman yang kedua kalinya kewajah David dengan tenaga ekstra membuat David lagi-lagi jatuh tersungkur.
David meringis kesakitan akibat bogeman mentah dari Varo yang begitu keras. Tulang pipi David terasa sangat sakit. Maybe, tulang pipinya sudah patah? Semoga saja hal yang tidak diinginkan tidak terjadi.
David sama sekali tidak melawan dan tidak bergeming sama sekali. Dia saat ini seperti orang cengo yang tidak tahu apa-apa, ya memang benar bawha dia tidak tahu apa-apa. Wajah David sudah dipasikan lebam biru dan berdarah dibalik masker hitamnya.
Padahal kalau harus berduel, sudah dipastikan mereka sama-sama seimbang dan sama-sama kuat. Tetapi David hanya ingin mengalah saja karena dia benar-benar tidak tahu apa-apa. Biar saja Varo memukulinya sampai puas, dia rela dijadikan samsak tinju oleh cowok yang tidak dia kenal, bahkan namanya saja David tidak tahu.
Pak satpam yang berotot besar dan gagah hanya berdiri didepan posnya, sejak dari tadi dia hanya terdiam dan tertengun saat melihat betapa murkanya Varo yang dia kira dia adalah temannya si kembar. Kepanikan semakin melanda pak satpam kala dirinya melihat salah satu anak majikannya dipukul lagi ketiga kalinya.
David sudah terkapar lemah dan tidak berdaya dilantai. Kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi pada Darel dan David pasti pak satpam juga yang kena imbasnya dan pak satpam pasti tidak akan memaafkan dirinya sendiri. Berikutnya pak satpam segera berlari kencang menghampiri kedua cowok tampan yang sejak tadi mencuri perhatiannya.
Pak satpam menatap tajam kearah Varo dan mendorong keras tubuh Varo-hingga membuat sang empunya hampir terjatuh. "Pergi kamu dari sini!" usir pak satpam seraya menunjuk kearah gerbang.
Varo tersenyum penuh arti, dia cukup puas. seenggaknya dia sudah berhasil memukul wajah David yang dia kira Darel-tiga kali. Sebelum Varo pergi dia terlebih dahulu melirik David yang terlihat mengenaskan atau bahkan sangat mengenaskan?
"PERGI!" pak satpam memberi perintah sekali lagi dengan meninggikan suaranya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Varo langsung mengembalikan tubuhnya, dia lantas melangkahkan kakinya menuju motor ninja birunya yang terparkir indah didepan rumah yang bernuansa putih. Dengan segera dia menaiki motornya dan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
Setelahnya pak satpam langsung membantu David berdiri dan langsung memapahnya masuk kedalam rumah.
*
Darel yang mengenakan kaos oblong berwarna army saat ini sedang menutup gorden jendela kamarnya. Sesekali bibirnya bersenandung mengikuti lirik lagu BTS yang berjudul fake love. Tiba-tiba dia menjadi merasa terganggu akibat suara ketukan berulang kali dari pintu diluar kamarnya.
Tok tok tok.
"Den Darel?" pak satpam memanggil anak majikannya berulang kali tetapi tidak ada sahutan dari anak majikannya.
"Iya sebentar, pak!" Darel menyahut dengan mengeraskan suaranya didalam kamarnya. Dia sudah paham betul dengan pemilik suara yang tadi memanggilnya, suara itu adalah milik pak satpam.
Tiba-tiba Darel mengernyitkan dahinya. "Tumben pak satpam datang ke kamar gue?" dia bergumam pelan. Wajar saja dia heran-karena tidak biasanya pak satpam menghampirinya sampai kedepan kamarnya, dia curiga pasti ada masalah yang sedang menimpa salah satu keluarganya dan dia belum mengetahui hal itu.
Darel berjalan menuju nakas, lalu dia merogoh ponselnya yang berada dikantung celananya, dia langsung menyimpan ponselnya diatas nakas, lalu dia kembali berjalan menuju pintu kamarnya. Dia membuka kunci pintu dan langsung segera membuka pintu kamarnya.
Darel menatap wajah pak satpam dengan tatapan datarnya. "Ada apa pak? Kok tadi bapak panggil-panggil saya terus?" Darel bertanya serius.
Pak satpam seketika menjadi gugup, lidahnya terasa kelu untuk menjawab pertanyaan Darel-anak majikannya. Dia berdeham pelan sebelum menjawab pertanyaan dilontarkan Darel barusan. "Anu, den... den David tadi dipukulin cowok,"