
Keysa mendongak, menatap cowok jangkung yang tengah berdiri tepat didepannya, wajah tampan itu... tidak asing lagi baginya. Sebenarnya Keysa sudah tahu cowok itu, dia adalah kakak kelasnya. Sebelumnya dia belum pernah berkenalan langsung dengannya. Keysa terlalu enggan—mengingat bahwa dia adalah salah satu cowok most wanted yang berada disekolahnya. Dan tentunya ketampanannya juga berada diatas rata-rata.
Cowok itu berjalan mendekat kearah Keysa, lalu dia duduk disamping Keysa tanpa ada rasa canggung sedikitpun. Dia belum juga membuka suaranya. Keysa menggigit bibir bawahnya, untuk mengurangi rasa canggung saat berada di dekat cowok yang kini tengah duduk disampingnya.
Siapa sih yang tidak canggung saat berada didekat kakak kelas berparas tampan yang mendapat gelar most wanted coba? Pasti tidak ada bukan? Keysa kini terlihat tengah menunduk melihat roknya seraya *******-***** kasar rok sekolah yang dia gunakan saat ini.
Cowok itu terkekeh pelan saat melihat kelakuan Keysa yang terlihat sangat lucu di matanya. "Santai aja sama gue, gue orangnya baik kok nggak jahat," Dia berujar pelan sambil mengunyah permen karet yang baru dia buka kemasannya dan dia masukan ke dalam mulutnya.
Keysa tersenyum canggung seraya melirik ke arah cowok tampan yang baru saja berbicara. "Eum.. iya kak," Keysa menyahut pelan. Sejujurnya, dia sangat canggung. Sejujurnya Keysa tengah bingung karena kakak kelasnya itu menghampirinya di halte bus.
Cowok itu menolehkan wajahnya ke arah Keysa seraya mengulurkan telapak tangan besarnya kanannya ke arah Keysa. "Kenalin, nama gue Varo... Nama lengkap gue Azka Alvaro Jovanka, gue kelas 12 IPA1," Varo kembali berbicara untuk memecah keheningan seraya mengedipkan sebelah matanya menggoda. Sebelumnya dia tak pernah mendekati seorang cewek duluan, entah kenapa kali berbeda. Dia sangat tertarik saat melihat Keysa untuk yang pertama kalinya saat berada di lapangan basket tadi.
Detik berikutnya Keysa menolehkan wajahnya kearah cowok tampan itu yang bernama Varo. Keysa tersenyum lalu menerima jabat tangan dari Varo. "Gue Keysa Deolinda, kelas 11 IPA3, kak," Keysa menyahut pelan, dan kemudian mereka saling berjabat tangan.
Varo diam sejenak, tampaknya dia sedang berfikir keras, pikirannya kembali berkelana. "Berarti Lo sekelas sama adek gue dong?" Varo bertanya memastikan. Pasalnya adik kandung Varo juga kelas 11 IPA3, berarti Keysa adalah teman adiknya, mungkin?
Keysa mengerutkan keningnya, tanda dia sedang bingung. Keysa baru tahu jika Varo mempunyai adik kandung. Awalnya dia tak menyangka. Maklum, selama ini dia tidak kenal dengan Varo, yang nota bene-nya adalah kakak kelasnya yang tentunya sangat terkenal dikalangan murid sekolah Merah. "Adik kakak namanya siapa?" Keysa bertanya dengan penasaran.
Varo menyengir kuda seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Oh iya, gue kan belum ngasih tahu nama adek gue. Namanya Sherly, Key. Nama lengkapnya Sherly Zenaide Jovanka." Varo menjelaskan seraya tersenyum tipis.
Detik berikutnya Keysa menganga tak percaya. Bagaimana bisa Varo yang terlihat baik hati bisa mempunyai adik yang begitu jahat? Benar-benar fakta yang sulit dipercaya, sungguh. Keysa ber-oh ria saja seraya mengangguk-angguk kepalanya, tanda dia mengerti. Dia juga baru menyadari jika marga keduanya sama. "Iya kak gue sekelas sama Sherly," Keysa menyahut dengan antusias.
Varo tersenyum tipis. "Bay the way... kenapa lo belum pulang? Bukannya kelas 11 udah pulang dari tadi, ya?" Varo kembali bertanya dengan suara beratnya.
Keysa menggigit pipi bagian dalamnya. "Eum... Gue tadi bantuin Pustakawan menata buku di perpustakaan jadi ketinggalan bis deh," Keysa menjawab seraya tertawa kecil.
Varo mengangguk kepalanya pelan seraya tersenyum sebagai responnya.
Idaman banget nih cewek, udah cantik baik lagi. Batin Varo dalam hati.
"Gue anterin Lo pulang, ya?" Varo bertanya lembut seraya beranjak dari duduknya. Dia kembali menyeka keringatnya yang membasahi pelipisnya. Terlihat kaus olah raganya sudah terlihat lusuh dan basah—karena keringat. Maklum saja, bukankah dia habis bermain basket tadi? Namun, tentunya dia masih tetap wangi. Bukannya membuat para cewek ilfeel, namun agaknya malah membuat para cewek semakin klepek-klepek kepadanya.
Keysa menggeleng pelan. Dia merasa tidak enak. Mengingat bahwasanya dia adalah kakak kandung Sherly. Nampaknya dia masih ingin menunggu bus langganannya datang. Keysa berharap supaya bus itu cepat datang. Yang datang bus yang bukan langganannya pun tidak masalah, asalkan Keysa pulang naik bus saja. Keysa berdeham pelan sebelum menjawab pertanyaan Varo tadi.
"Sebelumnya, gue berterima kasih banyak kak... Tapi gue naik bus aja, kak," Keysa menolak dengan halus seraya menyengir kuda.
Varo menghela nafasnya panjang. Sejujurnya dia khawatir dengan Keysa. Siapa tahu nanti ada preman yang mengganggunya, mengingat bahwa Keysa mempunyai wajah yang kelewat cantik. "Lo masih mau nunggu bus lewat sampai kapan? Jam lima sore udah nggak ada bus lewat, Key."
Varo tersenyum tipis ketika Keysa menerima ajakannya. Langsung saja Varo memasangkan helm cewek itu di kepala Keysa. Sedetik kemudian pandangan mereka berdua bertemu. Ya, mereka berdua saling berpandangan untuk beberapa detik.
Kenapa wajah Keysa sangat mirip dengan dia ya? Varo bertanya dalam hati.
"Kak!" Keysa memanggil Varo dengan sedikit meninggikan suaranya dan berhasil membuat lamunan Varo buyar begitu saja. Ah, kenapa Varo jadi salah tingkah seperti ini? Degup jantungnya pun menjada tak beraturan seperti ini. Jujur saja, didekat Keysa tidak baik untuk kesehatan jantungnya.
Tanpa mereka sadari ada yang memfoto mereka berdua. Dia seorang cewek yang mengenakan almamater merah seperti Keysa. Sedari tadi dia tengah bersembunyi di balik pohon besar yang letaknya tidak jauh dari halte bus itu. Dia tersenyum sinis saat melihat hasil fotonya yang terlihat sangat jelas. Tentunya dia akan mengirimkan kepada sahabat baiknya.
"Ayo naik, Key!" Varo memerintahkan Keysa dengan suara yang terdengar lembut. Sekarang dia sudah menaiki motornya, dia sudah duduk nyaman diatas motornya. Varo sudah siap untuk melajukan motornya, senyumnya juga masih terpatri di wajah tampannya, tak ada tanda-tanda senyumnya akan pudar. Begitupun helm full facenya sudah terpasang indah di kepalanya.
"Key?" Varo memanggil Keysa, karena perkataannya tadi tidak mendapatkan respon.
Sementara Keysa? Dia masih diam mematung disamping motor ninja berwarna biru milik Varo. Berikutnya, Keysa berdehem pelan seraya mengangguk kikuk, lalu dia menaiki motor ninja yang berwarna biru tua tersebut. Sejujurnya Keysa sangat canggung saat berada di dekat Varo, Keysa kembali menggigit bibir bawahnya karena gugup, sementara jari jemarinya saling bertautan.
Varo tertawa kecil saat merasakan kedua telapak tangan Keysa yang tengah memegang kedua bahunya. Kenapa Keysa pegangannya dibahu bukan dipinggangnya saja, huh? Kenapa Keysa begitu kaku seperti itu? Varo mengangguk-anggukan kepalanya pelan—tanda dia paham. Mungkin Keysa masih malu? grogi? Atau canggung?
Keysa mengernyitkan dahinya bingung kala mendengar tawa kecil dari Varo. Memangnya apa yang membuat Varo terkekeh seperti itu, huh? Apakah ada yang lucu? Keysa rasa tidak ada. Kenyataannya Keysa tak menemukan hal lucu yang membuat Varo menjadi tertawa kecil seperti barusan. Keysa berdeham pelan sebelum bertanya.
"Emang ada yang lucu, kak? Kok kak Varo ketawa seperti barusan sih?"
Detik berikutnya Varo tersenyum tipis dibuatnya. "Pegangan jangan dibahu gue Key, dipinggang gue aja!" Varo menyahut dengan suara baritonnya yang terdengar berat serta lembut dikedua telinga Keysa. Keysa tersenyum malu saat mendengar perkataan Varo barusan, lalu kedua telapak tangannya beralih memegang pinggang Varo. Dia merutuki dirinya sendiri karena melakukan hal bodoh.
Kenapa tadi gue bisa-bisanya pegangan di bahu kakak kelas gue, huh?
Di balik helm full face-nya, Varo kembali tersenyum saat merasakan kedua telapak tangan Keysa yang sudah berpegangan dikedua pinggangnya. Ah, lucu sekali. Perlahan tapi pasti, Varo melajukan motornya dengan kecepatan sedang, membelah jalan raya yang sangat padat oleh alat transportasi—walau hari sudah petang.
"Ke café D'A ya kak!"
Varo mengangguk pelan. "Siap, Key."
Selama diperjalan mereka berdua tidak ada yang berbicara, yang satunya sibuk menunggangi motornya dan yang satu sibuk menikmati angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah cantiknya. "Kalau lo pengen sandaran dipunggung gue, sandaran aja, Key, jangan malu-malu," Varo kembali berbicara dengan sedikit meninggikan suaranya dan berhasil memecah keheningan diantara mereka berdua.
Keysa tersenyum tipis. "Iya kak," sahutnya seraya meletakan kepalanya dipunggung Varo. Keysa juga mengeratkan pegangannya dikedua pinggang Varo. Ya, Keysa menuruti apa yang Varo katakan tadi. Sesekali kedua matanya terpejam, kenapa dia jadi mengantuk seperti ini, huh?