
Telapak tangan kanannya lantas terangkat untuk menyeka keringat yang membanjiri wajah tampan milik Darel. Dia tidak melirik ke arah Keysa sama sekali—seolah Sherly tengah menganggap Keysa sebagai angin lalu saja. Tak lama kemudian, Darel menepis pelan tangan Sherly setelah itu dia langsung mendongak menatap wajah Sherly dengan raut muka yang terlihat datar. Entah kenapa tiba-tiba senyumnya menjadi pudar karena kehadiran pacarnya yang tidak dia harapkan sebelumnya.
"Gue tadi habis dihukum sama Burik,"
Sherly tampak terkejut seketika, pasalnya selama ini pacarnya belum pernah terlambat datang ke sekolahnya—karena dia tahu betul bahwa pacarnya sebelumnya tidak pernah datang terlambat sekalipun. Dia tidak terima melihat Darel yang dihukum seperti ini, kalau dia disuruh memilih pasti dia memilih untuk dirinya saja yang dihukum, Darel? jangan!
Dia sangat tidak rela melihat pacarnya keringetan seperti saat ini hanya gara-gara dihukum! Apa lagi pacarnya dihukum dengan cewek yang sangat dia benci, siapa lagi kalau bukan Keysa Deolinda? Rasanya Sherly sangat ingin menjambak rambut atau mencakar wajah cantik Keysa dengan kuku panjangnya saat ini juga—namun tentunya dia mengurungkan hal tersebut.
"Babe aku tebak, pasti kamu saat ini merasa haus, kan?" Sherly bertanya dengan antusias seraya tersenyum manis. "Diminum ya, babe," Sherly berujar pelan seraya menyodorkan sebotol air mineral dingin yang tadi dia beli di kantin. Awalnya dia beli karena berniat untuk meminumnya tetapi karena melihat Darel keringetan seperti ini dia berinisiatif untuk memberi pacarnya minum. Pasti pacarnya sedang haus banget, bukan? Bukannya mau cari perhatian—hanya saja dirinya melakukan hal tersebut karena tulus. Dia tak ingin pacarnya kehausan, hanya itu saja tak lebih.
Sedetik kemudian Darel tersenyum kearah Sherly, lalu dia mengangguk menyetujuinya. Tangan kanannya terulur untuk mengambil alih sebotol air mineral dingin yang dipegang oleh Sherly. "Thank, Sher,"
Kebetulan banget. Keysa pasti sangat haus karena hukuman dari Burik. Batinnya.
Kontan Sherly sangat senang saat melihat pemberiannya diterima oleh sang pujaan hatinya, terlebih lagi saat ini Darel tengah tersenyum kearahnya. Dia membalas senyuman Darel dengan senyuman yang tidak kalah manisnya. "Iya, sama-sama babe," Sherly menjawab dengan nada manja yang terdengar sangat menjijikan di telinga Darel.
Darel tak menghiraukan Sherly lagi. Darel sekarang tengah sibuk membuka tutup botol air mineral itu untuk dia berikan pada Keysa yang masih duduk disampingnya. Darel menoleh kearah Keysa yang sedang sibuk menyeka keringat. Sebenarnya Keysa melakukan hal tersebut karena berusaha menghindari tatapan Sherly yang terlihat mengintimidasi dirinya. Keysa juga mengetahui bahwa Sherly sekarang tengah menyumpah nyerapahi dirinya didalam hati. Namun sayangnya Keysa tak peduli dengan semua itu.
"Key?" Darel memanggil dengan merendahkan suaranya.
Keysa yang merasa dipanggil pun langsung menoleh kearah Darel seraya menaikan kedua alisnya, tanda dia sedang bingung. "Hah?" Keysa menyahut dengan wajahnya yang terlihat polos. Hal tersebut sontak membuat Darel menjadi gemas sendiri.
Darel tersenyum tipis. Tangan kanannya terulur untuk menyodorkan sebotol air mineral dingin yang baru saja dia buka tutup botolnya itu kepada Keysa.
"Itu buat gue?" Keysa bertanya untuk memastikan.
Darel terkekeh geli sebelum menyahut. "Iya lah, kalau bukan buat lo, buat siapa lagi coba?"
Keysa menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal sama sekali. "Eum, makasih, Rel," Keysa menyahut kikuk seraya menerima sebotol air mineral dingin tersebut. Dia menggigit bibir bawahnya. Apakah Darel tak mengetahui bahwa sekarang pacarnya tengah menyorot Keysa tajam?
Darel hanya mengangguk sekali, tanpa berniat mengeluarkan suaranya lagi.
Sherly menatap Keysa dengan tajam, entah kenapa dia tidak suka kepada Keysa, apa karena dia sangat dekat dengan Darel? Maybe. Bukan hanya tidak suka, dia juga sangat membenci Keysa. Karena Keysa—dirinya menjadi punya saingan. Andai saja Keysa tidak ada—pasti hampir semua cowok yang ada di sekolahnya tergila-gila kepadanya. Sherly merengek manja seraya menghentak-hentakan kedua kakinya dengan kesal.
"Babe, kok minumnya malah dikasih Keysa sih? Itu kan buat kamu, bukan buat dia," Sherly memprotes seraya menunjuk wajah cantik milik Keysa dengan kesal.
Lantas Darel segera beranjak dari duduknya, berdiri tepat didepan Sherly. Berikutnya dia menempelkan jari telunjuknya tepat didepan bibir milik Sherly. "Sssttt... kita kekantin aja gimana?" Darel bertanya seperti itu karena sengaja mengalihkan pembicaraan. Perlu diketahui bahwa dirinya tak mau jika Sherly bertengkar dengan Keysa—hanya karena dirinya seorang. Dia tak menginginkan hal tersebut terjadi, sungguh.
Sebenarnya gue males banget ngajak Sherly kekantin, tapi apa boleh buat? Batinnya dalam hati.
Sesekali Darel mengumpat kesal dalam hati.
Keysa mendekatkan botol minum itu pada bibirnya bibirnya, dia segera meminum air mineral yang diberikan Darel tadi dengan cepat seraya memejamkan matanya. Jujur saja Keysa sangat haus, tenggorokanya terasa kering, bahkan sangat kering sehabis lari tadi, dan tentunya dia juga sangat lapar karna lari tiga belas kali itu capeknya bukan main, lari tiga belas kali sangat berhasil menguras tenaganya. Alhasil tubuh Keysa sekarang terasa lemas sekali. Keysa tersenyum tipis ketika tenggorokannya sekarang terasa sejuk akibat air mineral dingin—kontan rasa hausnya langsung hilang begitu saja.
Dor!
Keysa langsung tersentak ketika mendengar suara yang jelas berhasil membuatnya terkejut. Lantas dirinya menyemburkan minumnya begitu saja. Sesaat Keysa mengelus-elus dadanya untuk menstabilkan detak jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Keysa telah menduga jika hal tadi adalah ulah sahabat dekatnya.
"Ngagetin aja sih lo, Nin!" Keysa menggerutu seraya mengerucutkan bibirnya dengan lucu. Tangannya terangkat untuk mengusap bibirnya yang basah.
Nindhi yang tadinya berada dibelakang Keysa—sekarang sudah berdiri tepat didepan sahabatnya yang tengah menyorotnya tajam. Seolah tidak peduli akan hal itu, Nindhi segera mengayunkan kakinya kembali untuk menuju kursi panjang, dia duduk tepat disamping Keysa yang mungkin masih terkejut karena ulahnya tadi. Apakah salah jika dia membuat sahabatnya sendiri terkejut? Nindhi rasa tidak salah.
Tak lama kemudian, Nindhi menoleh kearah wajah Keysa seraya terkekeh pelan. "Maafin gue ya? Kalo udah bikin lo kaget,"
Keysa hanya memutar bola matanya dengan malas. Dia mengeluarkan sumpah serapah buat sahabatnya itu karena barusan sudah mengagetkannya dengan seenak jidatnya sendiri didalam hati. Beruntung karena dirinya tidak tersedak begitu saja—jika iya pasti sekarang dirinya akan terbatuk-batuk. Sebenarnya Keysa harus ekstra sabar jika menghadapi sahabatnya yang jahilnya minta ampun.
"Gue kira tadi lo hari ini enggak berangkat loh, Key," Nindhi berkata dengan wajah yang tampak serius.
Keysa mengubah rautnya menjadi terlihat kesal. Dia lantas menyenggol pelan lengan Nindhi. Keysa menghela nafasnya lagi. "Lo seneng ya kalau gue nggak berangkat?" Keysa bertanya seraya tersenyum—senyum yang bisa membuat para cowok terpesona tentunya.
Seketika Nindhi langsung menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Dia menyengir kuda sebelum mulai menjawab pertanyaan Keysa barusan. "Gue nggak bilang gitu kok, lo sendiri yang bilang loh," Nindhi menyela seraya cemberut.
"Gue malah sedih karena duduk sendiri dan nggak ada yang nyontekin gue," lanjutnya seraya tertawa kecil.
"Lo mah pikirannya nyontek mulu," Keysa berprotes seraya menoyor pelan kening Nindhi.
Sementara Nindhi dia hanya bisa berdecak kesal.
"Selagi kita masih bisa nyontek, kenapa enggak?" Nindhi bertanya seraya menaik turunkan alisnya menggoda.
"Bodoamat, Nin, Bodomat!" Keysa menyahut kesal dengan sedikit meninggikan suaranya. Keysa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik milik Nindhi.
Sekarang, Keysa menatap lurus kedepan lagi seraya menikmati angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahnya dengan halus, rambutnya tak henti-hentinya berterbangan kesana kemari karena angin tersebut. Entah kenapa dirinya menjadi tidak bersemangat lagi karena kejadian tadi.