We Are Together

We Are Together
Dua puluh enam



"Lepasin! Jangan pegang-pegang gue!" Sherly memekik dengan sedikit meninggikan suaranya. Sherly beberapa kali sudah meronta-ronta. Dia sudah berusaha untuk melapaskan tangannya dari cekalan David. Tetapi usahanya berakhir dengan sia-sia, tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan David yang mempunyai tenaga yang cukup besar. Hal itupun langsung membuat beberapa pelanggan yang berada didalam café itu menoleh kearah mereka berlima. Tidak sedikit juga orang yang ikut memekik karena kaget mendengar pekikan Sherly barusan.


Lantas David mendongak untuk menatap wajah cantik milik Sherly, kedua sudur bibirnya tertarik keatas, dia tersenyum. Sementara telapak tangannya dia gunakan untuk membungkam mulut Sherly. "Lo mau kemana?" David bertanya dengan dengan suara baritonnya yang terdengar beratnya seraya menaikan salah satu alisnya.


Sherly berusaha melepaskan telapak tangan David yang masih membungkam mulutnya seraya menatap David tajam. Tidak lama kemudian dia menginjak salah satu punggung kaki David—hal tersebut lantas berhasil membuat David mengaduh dan melepaskan bungkaman tangannya.


"Ya mau nyamperin Nindhi buat ngajak ba—"


"Ngajak gue baku hantam, iya?" Nindhi memotong perkataan Sherly dengan benar. Sejujurnya dia sengaja memotong perkataan Sherly, sedetik kemudian dia tertawa kecil—menertawai kelakuan Sherly yang baginya terlihat sangatlah kekanak-kanakan?


Sherly memalingkan mukanya kesamping, mengabaikan pertanyaan Nindhi yang sangat menyebalkan. Rosa kini tengah menangkup kedua pipinya dengan kedua telapak tangannya, sedangkan kedua sikunya digunakan untuk menumpu kedua lengannya, dari tadi dia hanya diam tanpa mau ikut menimpali. Jujur saja, Rosa sangat muak dengan drama yang sedang dia saksikan saat ini. Kalau dia bisa memilih, dia lebih baik menonton drama Korea saja dirumah dari pada menjadi patung seperti saat ini.


Sedangkan Keysa? Ya seperti Rosa. Dari tadi dia hanya diam dan menyimak, jujur saja, dia sangatlah malas meladeni hal yang menurutnya itu sangat unfaedah, yang ada hanya membuang waktunya yang begitu berharga itu menjadi sia-sia. Tak ingin menunggu lama, lantas Keysa menggebrak meja yang berada tepat didepannya itu dengan sedikit keras. Hal itu berhasil membuat empat orang itu mengerjap karena kaget.


"Lo semua bisa diam nggak sih?" Keysa bertanya kesal, pasalnya dia sudah sangat kesal karena ulah mereka bertiga, dia mengajak keempat temannya untuk berkumpul itu karena tujuannya adalah mengajak mereka itu untuk bekerja kelompok, bukan untuk adu mulut seperti tadi.


"Gue ngajak kumpul lo semua bukan untuk adu mulut ataupun baku hantam, tapi tujuan gue itu kerja kelompok, guys! Please, jangan ribut mulu dong!" Keysa mengomel seraya menatap secara bergantian kearah ke-empat temannya itu dengan sorot mata yang memelas. Berharap bahwa keempat temannya itu bisa diajak kompromi sebentar saja. Bukankah tujuan awalnya bekerja kelompok bukan saling bertengkar?


Seketika empat orang itu menjadi diam membisu, mereka sontak mencerna apa yang dikatakan Keysa. Pasalnya perkataan yang diucapkan oleh Keysa itu benar dan bahkan sangat benar. Sedetik kemudian Sherly duduk dibangkunya kembali seperti semula—tidak jadi menghampiri Nindhi untuk memberi pelajaran kepada cewek yang dia anggap sebagai musuh keduanya setelah Keysa.


Di lorong sana, Linda tidak henti-hentinya tersenyum saat melihat Keysa dan teman-temannya yang terlihat akur? Hell no. Tiba-tiba dia mengayunkan kakinya—menuju kearah Keysa dan keempat teman anaknya itu, kedua telapak tanggannya digunakan untuk membawa sebuah nampan yang berwarna hitam polos yang ukurannya lumayan besar, diatas nampan itu berisi empat coffee cappuccino dan dua piring yang diatasnya berisi bermacam-macam jenis kue basah.


Setelah sampai didekat meja, Linda segera meletakan satu-persatu coffee itu diatas meja, dan yang terakhir dia meletakan piring yang berisi kue tersebut.


Wajah Keysa seketika berbinar saat melihat kedatangan mommy-nya yang sudah dia tunggu-tunggu dari tadi. Dia sudah tidak sabar ingin mengenalkan teman kelompoknya kepada mommynya. "Kenalin mom, mereka berempat adalah teman sekelasnya Keysa,"


Linda mengangguk kepalanya tanda bahwa dia paham. Lantas dia menatap keempat teman Keysa secara bergantian. Namun matanya terpaku pada salah seorang gadis cantik yang sedikit mirip dengan anak perempuan bungsunya. Entah kenapa Linda menjadi sangat penasaran dengan gadis berparas cantik yang duduk disebelah David—yang dimaksud Linda adalah Sherly.


"Halo semua, kenalin nama tante adalah Linda, tante ini mommy-nya Keysa," Linda menyapa ramah dan jangan lupakan bahwa dia juga tersenyum.


Entah kenapa saat mendengar nama Linda, Sherly tiba-tiba dia jadi sedih. Dia tiba-tiba merindukan mommy-nya yang sudah pergi meninggalkan dirinya sejak masih bayi. Parahnya lagi Sherly belum pernah melihat mommynya walaupun hanya satu kali, yang dia ketahui dari mommy-nya sendiri adalah namanya—mommy-nya bernama Linda, hanya itu saja. nasibnya sangat miris bukan?


Nindhi langsung beranjak dari duduknya, dia tersenyum seraya menghampiri Linda, dia meraih telapak tangan Linda, lalu dikecupnya sebentar. "Nama saya Nindhi tante," Nindhi memperkenalkan diri sambil terkekeh geli, pasalnya dia sudah mengenal Linda sudah hampir satu tahun, lalu buat apa Nindhi memperkenalkan dirinya lagi?


Linda tertawa kecil. "Kalau kamu sih tante udah kenal, Nin,"


"Gapapa dong tan, kenalan lagi biar tambah akrab, ya nggak tan?" Nindhi bertanya seraya menaik turunkan alisnya menggoda. Dia senang bercanda dengan mommynya Keysa yang menurutnya sangatlah asik orangnya, tentunya tidak berbeda jauh jika dibandingkan dengan Keysa.


Linda tersenyum lalu dia mengangguk setuju. "Iya deh Nin, terserah kamu aja yang penting kamu seneng,"


Lalu disusul dengan David, Rosa, dan terakhir Sherly.


Sherly tersenyum manis kearah Linda, dia meraih telapak tangan Linda dengan sopan, lalu dikecupnya dengan tulus. "Kenalin tante nama saya Sherly Zenaide Jovanka, Tante," Sherly memperkenalkan diri dengan suara yang terdengar lembut—kali ini berbeda, tidak seperti saat berbicara dengan teman-temannya.


Deg.


Refleks jantung Linda kini mendadak berdetak dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Jovanka? bukannya itu nama mantan suaminya? Tubuh Linda seketika langsung menegang begitu saja. Dia masih tidak menyangka, setelah sekian lama akhirnya dia bisa melihat anaknya lagi yang dia tinggalkan kala itu waktu Sherly masih bayi, terakhir dia bisa melihat anaknya itu saat masih bayi.


Linda menggigit bibir bawahnya, dia berusaha menahan air matanya yang sudah terkumpul dipelupuk matanya agar tidak tumpah, antara senang dan sedih yang dia rasakan saat ini. Dia senang karena dipertemukan dengan anak perempuannya kembali dan sedih karena anak perempuannya itu memanggilnya dengan sebutan tante. Siapa ibu yang tidak sedih coba, saat anaknya memanggilnya dengan sebutan tante?


Dia masih tidak menyangka jika sekarang anak perempuannya yang kedua sudah besar dan wajahnya sangat cantik mirip dengan anak perempuannya yang ketiga. Dia tersenyum seraya mengusap-usap pelan rambut Sherly dengan sayang. 'Kasian kamu nak, maaf ya nak, dari dulu mommy nggak bisa nemenin kamu.' Batinnya dalam hati.


"Akhirnya selesai juga,"


Keysa kini tersenyum lega karena semua tugasnya sudah dia kerjakan semua, dia meletakan bolpoinnya dan menutup buku tulisnya, lalu dimasukan buku tersebut kedalam tas ransel sekolahnya. Keysa melirik sebentar jam dinding yang berwarna biru muda, pukul menunjukan pukul delapan malam.


Dia beranjak dari kursi belajarnya lalu diambilnya ikat rambut berwarna hitam—dengan malas dan mengikat rambutnya yang panjangnya sepunggung miliknya dengan asal. Berikutnya dia melangkahkan kakinya menuju wastafel yang letaknya berada didalam kamar mandi miliknya. Dia memutar kran air dan langsung membasuh wajahnya dengan lembut, dia menatap wajahnya didepan cermin, lagi-lagi dia menghela napas pelan.