We Are Together

We Are Together
Empat puluh satu



Keysa meraih tote bag dan boneka macan putih miliknya. Dia segera mengayunkan kakinya menuju kamarnya yang berada diatas—tepatnya lantai dua. Keysa menaiki anak tangga dengan santai sesekali dia bernyanyi pelan.


Keysa meraih knop pintu kamarnya lalu mendorongnya dengan pelan, sedetik kemudian dia tersenyum saat melihat tidak ada satupun pakaian diatas kasur queen size-nya—itu artinya Aletta sudah melaksanakan perintahnya.


Keysa meletakan tote bag diatas nakas, sedangkan boneka macan putih—dia taruh diatas kasur. Keysa mengelus dadanya pelan, dia bersyukur karena Alletta melaksanakan perintahnya dengan baik. Dia kira Alletta tidak merapihkan pakaiannya? Namun, ternyata dugaannya salah besar.


"Eh, tunggu-tunggu, Alletta kok nggak ada? Bay the way, itu anak kemana, ya?" Keysa bertanya kepada dirinya sendiri seraya mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kamar—berharap matanya menemukan sosok Aletta.


Alletta menepuk pelan bahu Keysa, membuat sang empunya terlonjak karena kaget. "Lo kangen gue ya kak?" tanya Alletta dengan percaya diri.


Keysa tidak menjawab pertanyaan Alletta. Dia tersenyum lalu tangannya terangkat. Dia mengapit pipi Alletta yang sedikit chubby dengan ibu jari dan telunjuknya lalu dia menariknya dengan kencang. Ya, dia mencubitnya.


Sudah berapa kali Alletta mengagetkannya?


Apakah Alletta belum kapok juga?


"Ih, gemes banget gue sama lo. Lama-lama gue jadi pengen cubit ginjal lo deh," tutur Keysa kesal.


Cubit ginjal? Gimana caranya, huh?


"Canda kak! Canda! Gitu doang marah!" Alletta menyahut, sesekali dia meringis kesakitan karena cubitan yang diberikan Keysa terlalu kencang.


"Bodo amat! Lo tiap hari kerjaannya bikin gue darah tinggi mulu sih, nggak ada kerjaan banget emang lo ya? Dasar anak nakal!"


"Kak udah dong, gue kan udah capek-capek beresin pakaian lo, kok lo tega banget sih kak sama gue?"


Keysa tidak bergeming. Dia terdiam sejenak, berusaha untuk mencerna apa yang dikatakan Alletta barusan. Perlahan telapak tangannya lepas dari pipi Alletta. Alletta mengelus pipinya yang terlihat memerah dengan sayang. "Kasihan kamu pi—pipi, masa kamu terus sih yang jadi korbannya?"


Keysa menoleh kesamping tepatnya kearah Alletta. Keysa memicingkan matanya kearah Alletta yang sedang berbicara dengan pipinya sendiri. Tunggu-tunggu, Alletta masih waras, bukan? Tidak mungkin jika Alletta menjadi gila, bukan?


"Pipinya jawab apa, Ta?" Keysa bertanya lalu dia tertawa renyah.


Alletta menoleh kearah Keysa. "Pipi Alletta bilang kalau dia benci sama kak Keysa karena kak Keysa selalu nyubit pipi Alletta yang nggak punya salah apa-apa." sahutnya seraya mengerucutkan bibirnya, lucu.


Sinting memang!


Jawaban Aletta berhasil membuat Keysa tertawa terbahak-bahak seraya memegangi perutnya, kenapa receh sekali humornya?


Keysa terdiam sejenak. "Kagak lucu anjir!"


Alletta memutar bola matanya jengah. "Katanya nggak lucu, tapi kok kak Keysa tadi ketawa sih?"


Dasar aneh!


Keysa terdiam sejenak, ya memang benar tadi dia sempat tertawa. Keysa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sungguh sangat memalukan. Keysa berdeham pelan sebelum berjalan untuk mendekat kearah nakas. Tangannya terulur untuk mengambil tote bag miliknya, dia mengeluarkan sekotak martabak telur. Dia tersenyum canggung lalu menyodorkan sekotak martabak tersebut dihadapan Alletta.


Alletta memejamkan matanya sejenak—menikmati aroma martabak telur yang menyeruak ke dalam hidungnya, dengan senang hati Alletta menerima. Siapa orang yang tidak mau di kasih makanan gratis coba?


"Itu sebagai ucapan terimakasih gue karena lo udah beresin pakaian gue dan martabak itu spesial buat lo ANAK NAKAL!" Keysa sengaja menekankan dua kata itu supaya Alletta sadar bahwa dia sangatlah nakal.


Alletta hanya mengangguk-anggukan kepalanya, padahal tadi dia tidak mendengarkan perkataan Keysa. Dia hanya pura-pura paham saja.


"Ya udah gue mau mandi dulu, bye anak nakal." ucap Keysa malas seraya mengacak-acak rambut Alletta dengan sayang.


Keysa berjalan untuk mengambil handuk yang kemarin dia jemur di tempat penjemuran. Keysa mengambil dua handuk dua handuk berwarna biru dan putih dari tiang jemuran. Biasanya handuk itu satu persatu dicuci setelah dua hari sekali. Tapi karena ulah Alletta, semuanya dipakai secara acak alhasil tiga-tiganya Keysa cuci bebarengan.


Keysa berjalan ke kamar mandinya seraya membawa handuk berwarna biru miliknya, handuk berwarna putih sudah dia sisihkan.


"Eum, enak banget gilak!" Alletta memekik kegirangan, lalu dia menggigit lagi martabak telur—menyisakan setengah martabak lagi.


Hening kamar membuat Alletta bosan, dahinya mengernyit, bingung. Kenapa perempuan kalau mandi itu lama, huh? Alletta mengendikan bahunya tidak perduli, sesekali matamya terpejam—mengunyah martabak telur seraya menikmati rasanya yang menurutnya lezat.


Pintu kamar mandi berdecit pelan, menandakan bahwa Keysa sudah selesai mandi—dia hanya menghabiskan waktu lima belas menit saja.


Alletta melirik sekilas kearah Keysa, lalu dia kembali melanjutkan aktivitas menikmati martabak telurnya yang tadi sempat tertunda.


Keysa lebih mengeratkan lagi handuk persegi panjang berwarna biru yang melilit tubuhnya. Keysa lupa tidak membawa baju maupun bathrobe. Mau tidak mau Keysa keluar hanya pakai handuk. Toh, dia juga tidak mau merepotkan Alletta lagi.


Keysa menjejakan telapak kaki dinginnya ke lantai yang juga sama dinginnya. Sesekali air dari rambut basahnya menetes ke lantai dan membuat lantai jadi ikut basah. Dia melirik sekilas Alletta yang sedang duduk di sofa biru miliknya seraya asyik mengunyah martabak telur yang tadi dia beli bersama Darel.


Senyum Keysa mengembang, dia senang jika Alletta suka dengan martabak pemberiannya. Keysa kembali melangkah menuju lembari besarnya. Berikutnya dahi Keysa mengernyit, tanda bahwa dia sedang bingung. Kenapa lemarinya tiba-tiba tidak kunjung terbuka? Terkunci, maybe? Apakah ini karena ulah Alletta? Ah, entahlah Keysa pun tidak tahu itu. Keysa mengembalikan badannya seraya menatap Alletta dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


"Lemari gue—lo kunci ya?" Keysa bertanya to the point.


Alletta hanya mengangguk pelan seraya mengunyah martabak telurnya, namun dia tidak menoleh Keysa sama sekali.


"Terus kuncinya di mana?"


Alletta tidak bergeming, sedetik kemudian dia menunjuk nakas milik Keysa.


Keysa mengikuti arah yang tadi sempat ditunjuk Alletta. Dia hanya berdeham pelan seraya kembali melangkah untuk mendekat kearah nakas.


Keysa tersenyum tipis. Ternyata benar kunci lemari berada diatas nakas—tepatnya disamping tote bag yang berisi sekotak martabak miliknya. Tangan kanannya terulur untuk mengambil kunci.


Keysa membuka kembali lemarinya, kali ini lemarinya bisa terbuka. Keysa mengambil salah satu piyama dengan asal—tidak lupa dengan mengambil **********, lalu Keysa kembali berjalan menuju kamar mandi kembali untuk berganti pakaian.


Tidak butuh waktu lama. Lima menit kemudian Keysa keluar dari kamar mandinya dengan sudah mengenakan piyama yang tadi dia ambil dari lemari. Selanjutnya dia berjalan menuju meja riasnya. Duduk didepan kaca seraya memegang sisir rambut. Telapak tangan kirinya dia gunakan untuk memegang rambutnya yang basah, sementara tangan kanannya dia gunakan untuk menyisir rambutnya.


"Kak Darel pacar kak Keysa, ya?" Alletta bertanya penasaran, lalu dia kembali menggigit martabaknya lagi.


Keysa tidak bergeming, dia masih sibuk menyisiri rambutnya. Sedetik kemudian dia berdeham pelan seraya mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari cermin yang berada didepannya.


Alletta hanya mengangguk mengerti seraya ber-oh ria.


"Pacar kak Keysa buat aku aja gimana?" Alletta kembali bertanya seraya menaikan salah satu alisnya.


Keysa tidak bergeming. Dia terdiam sejenak, berusaha untuk mencerna perkataan yang terlontar dari mulut Alletta barusan. Alletta masih waras, bukan?


Keysa menoleh kearah Alletta sejenak—memandang wajah Alletta yang terlihat polos dan sama sekali tidak menyesali atas perkataannya barusan yang telah dia lontarkan. Keysa menaruh sisirnya yang berwarna biru itu diatas meja rias. Dia berjalan untuk menghampiri Alletta yang masih asyik mengunyah martabak telurnya.


Keysa menempelkan punggung telapak tangannya di dahi Alletta—berniat untuk mengecek suhu tubuh Alletta. Siapa tau panas, bukan? Keysa menggeleng pelan. Tidak panas. Tapi kenapa Alletta bicara seperti itu tadi?


"Lo suka sama Darel, ya?" Keysa bertanya seraya menaikan salah satu alisnya.


Lagi-lagi Alletta hanya mengangguk tanpa menoleh kearah Keysa.