We Are Together

We Are Together
Empat puluh enam



Gerah dan lelah.


Dua kata yang sedang melanda pria paruh baya yang memiliki wajah yang masih terlihat tampan. Dia tengah menaruh tas kantornya tepat diatas meja persegi yang tidak bisa dikatakan kecil dan tidak bisa dikatakan besar—ukurannya sedang.


Pria paruh baya itu melengguh pelan, dia segera melepas jas berwarna hitam pekat dan menaruhnya diatas sandaran sofa ruang tamu yang berwarna navy, lalu dia mengendurkan dasinya dan membuka dua kancing atas, kemejanya yang berwarna putih, setelah itu dia gulung kedua lengan kemejanya sampai sebatas siku.


Perlahan tapi pasti, dia menjatuhkan pantatnya diatas sofa ruang tamu berwarna navy. Sedetik kemudian dia menyenderkan punggungnya di sofa, sesekali matanya terpejam. Kedua anaknya belum pulang. Dia menarik sudut bibirnya saat membayangkan kedua anaknya terkejut karena daddy-nya sudah pulang dari luar negeri—tepatnya dari negeri paman Sam. Pria paruh baya itu bernama Jovanka.


"Bi Ani, buatin saya kopi panas seperti biasanya ya!" Jovanka berseru dengan meninggikan suara beratnya.


"Iya sebentar tuan," sahut wanita paruh baya yang tengah berada di dapur.


Dua menit kemudian, wanita paruh baya yang bernama Ani itu berjalan tergopoh-gopoh untuk menghampiri tuannya yang sedang duduk di sofa ruang tamu, telapak tangannya dia gunakan untuk membawa secangkir kopi hitam panas yang diminta tuannya.


Ani duduk bersimpuh diatas lantai, lalu dia meletakan cangkir berisi kopi hitam panas itu di meja—tepatnya didepan Jovanka—tuannya. "Silahkan tuan," ucapnya seraya menunduk sopan.


Jovanka mengangguk seraya tersenyum tipis. "Varo dan Sherly belum pulang ya, bi?"


Ani mendongak lalu dia menggeleng pelan. "Belum tuan, mungkin sebentar lagi den Varo dan non Sherly pulang,"


Jovanka hanya ber-oh ria saja sebagai responnya.


"Kalau begitu saya pamit untuk ke belakang lagi, tuan." pamitnya sopan lalu dia beranjak dari duduknya dan berdiri.


Jovanka tidak mengucapkan sepatah kata pun dia hanya mengangguk seraya tersenyum tipis.


Ani mengembalikan badannya lalu dia berjalan tergopoh-gopoh menuju dapur kembali.


Jovanka mengalihkan pandangannya kearah secangkir kopi hitam yang bertengker manis di atas meja—asapnya mengepul tanda bahwa kopi masih panas. Dia menarik sudut bibirnya keatas. Kenapa saat melihat secangkir kopi dia jadi teringat akan Deolinda—mantan istrinya, huh?


Telapak tangan kanannya terulur untuk mengambil secangkir kopi itu, dia mendekatkan secangkir itu ke wajah tampannya. Menghirup aroma kopi yang menyeruak kedalam hidungnya. Aromanya begitu menenangkan—sungguh dia rindu kopi buatan Deolinda.


Jovanka menyeruput sedikit kopi miliknya, sedetik kemudian dia tersenyum. Rasanya tidak sama seperti buatan Deolinda, tetapi kopi tersebut sedikit bisa mengobati rasa rindunya kepada Deolinda.


Adiknya Varo dan Sherly apa kabar? Jovanka sama sekali belum pernah bertemu dengan dia—anak bungsunya yang berjenis kelamin perempuannya. Jovanka sedih, kenapa dengan bodohnya dulu dia menceraikan Deolinda, huh? Seharusnya Jovanka dulu tidak menceraikan Deolinda karena masalah sepele.


Jovanka menyesal. Ah ralat, maksudnya sangat menyesal. Jovanka mengusap wajahnya tampannya dengan kasar. "Bodoh!" Makinya pada dirinya sendiri.


Deru mobil yang samar-samar terdengar berhasil mengalihkan seluruh perhatian Jovanka. Jovanka melirik sekilas jam dinding ruang tamu, jam menunjukan pukul tiga sore. Sedetik kemudian Jovanka tersenyum. "Pasti Sherly sudah pulang." Gumamnya pelan. Dia tahu betul akan suara deru mobil milik Sherly.


Jovanka kembali menyeruput kopi hitamnya kembali. Dia benar-benar rindu dengan kedua anak kesayangannya. Selama di negeri paman Sam, Jovanka tidak pernah memberi kabar kepada kedua anaknya itu, karena dia benar-benar sibuk mengurusi beberapa perusahannya yang berada disana.


Sherly segera melepaskan seatbeltnya. Lalu dia membuka pintu mobil dan segera keluar. "Semoga saja bang Varo belum pulang," ucapnya samar, saking samarnya hampir saja tidak terdengar.


Sherly menolehkan pandangannya kearah kanan serta kiri memastikan bahwa motor Varo—kakaknya tidak ada. Dia lantas tersenyum lega. Motor ninja yang berwarna biru milik kakaknya tidak ada didalam garasi rumahnya. Kedua tangannya terangkat untuk menghapus air matanya yang membasahi pipinya.


Sherly melangkahkan kakinya malas. Dia mendongakan wajahnya—menatap pintu utama rumah berwarna putih. Dia saat ini terlihat seperti orang gila. Lihat saja, seragam berwarna putihnya itu terlihat lusuh dan basah—karena air matanya sendiri tentunya, rok berwarna abunya juga terlihat lusuh, rambutnya yang tergerai indah sekarang menjadi acak-acakan, dan terakhir matanya bengkak dan hidungnya memerah karena terlalu lama menangis.


Jovanka yang sedang asyik meminum kopinya pun langsung tersedak sendiri. Jovanka memicingkan kedua matanya saat melihat Sherly tengah berlari memasuki rumah seraya menangis histeris. Telapak tangan Sherly digunakan untuk menutup mulutnya dan telapak tangan kirinya dia gunakan untuk membawa kunci mobil miliknya. Sherly tidak tahu kalau daddy-nya sudah pulang dari negeri paman Sam.


Kenapa Sherly sekarang terlihat seperti orang gila yang sering bertebaran di jalanan, huh?


"Sherly!" Jovanka memanggil dengan meninggikan suara baritonnya—hal tersebut berhasil membuat Sherly yang hendak menaiki anak tangga tiba-tiba menghentikan langkahnya dan diam mematung. Suara itu... sudah tidak asing lagi di telinga Sherly. Suara itu jelas milik daddy-nya. Sherly merutuki dirinya sendiri, seharusnya tadi dia tidak gegabah untuk masuk ke dalam rumah dalam keadaan menangis dan kacau seperti saat ini.


Sherly menolehkan pandangannya ke sofa—tepatnya kearah Jovanka yang tengah menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


"Huaaa... daddy!" Sherly memekik gembira, namun juga masih menangis histeris. Sedetik kemudian Sherly berlari kearah Jovanka, untuk memeluk tubuh kekar milik daddynya.


Akhirnya Sherly jatuh dipelukan Jovanka. Sherly menangis sejadi-jadinya didada bidang Jovanka, membuat kemeja berwarna putih milik Jovanka menjadi ikut basah. Ah, ralat, maksudnya sangat basah karena air mata Sherly yang mengalis deras dari pelupuk matanya.


Jovanka hanya diam membeku, sedetik kemudian Jovanka mengeratkan pelukannya, dagunya dia taruh diatas rambut milik Sherly, sesekali matanya terpenjam.


Jovanka mengusap-ngusap kepala Sherly dengan sayang, dia berharap supaya anaknya itu menjadi tenang dan berhenti menangis. Jovanka sungguh tidak tega melihat adik kesayangannya menangis. Setelah lima menit berlalu, Sherly menjadi lebih tenang, tangisnya kian mereda, hanya masih terdengar suara isakan. Jovanka melepaskan pelukannya perlahan.


"Kenapa anak daddy yang cantik ini nangis, huh?" Jovanka bertanya to the point seraya mencubit pelan hidung Shery yang terlihat memerah.


Sherly menelan ludahnya dengan kasar, dia mendongak untuk menatap kedua mata daddy-nya, dia menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. "Nggak kenapa-kenapa kok dad," dustanya.


Jovanka menggelengkan kepalanya, dia sungguh tidak percaya dengan jawaban Sherly, tidak mungkin kan kalau Sherly menangis karena tidak alasannya?


Jovanka tidak bertanya kembali, tentu saja dia tidak ingin memaksa Sherly untuk jujur. Mungkin Shery belum siap untuk menceritakan alasannya kepadanya? Sherly juga butuh waktu, bukan?


Sherly diam, dia tersenyum licik saat terlintas rencana bagus didalam benaknya, kenapa tidak dari dulu saja, kenapa baru sekarang dia muncul ide yang menurutnya sangat bagus, huh?


"Dad?" Sherly memanggil seraya menggoyangkan lengan kekar kiri Jovanka.


"Hm?" Jovanka menyahut pelan, telapak tangan kanannya masih mengusap usap rambut Sherly yang terlihat begitu acak-acakan.


Sherly mendongakan wajahnya, menatap wajah tampan milik daddy-nya. "Daddy ingin Sherly bahagia, kan?


Kedua mata Jovanka melebar, kenapa anaknya bertanya seperti itu? Bukankah setiap orang ingin melihat anaknya bahagia, huh?


Jovanka mencubit pelan lengan mulus Sherly, membuat Sherly mengaduh kesakitan. "Semua orang tua pasti ingin melihat anaknya bahagia, Sherly sayang,"


Sherly menyugingkan senyumnya, dia bersikeras untuk memiliki Darel. Entah apa yang dirasakan itu cinta atau obsesi?


"Kalau gitu, Sherly ingin di jodohkan sama anaknya paman Arsen yang bernama Darel,"


Jovanka mengangguk setuju. Jovanka tidak keberatan untuk melakukan hal tersebut. Tentu saja dia hanya ingin melihat anak perempuannya itu terlihat bahagia. Mudah baginya untuk melakukan hal tersebut, karena perusahaan Arsenio berada dibawah perusahaannya. Jadi kemungkinan besar kalau dia akan menjatuhkan perusahaan Arsenio dan Arsenio akan meminta bantuan kepadanya.


"Yeay, makasih daddy Jovanka sayang!" Sherly memekik gembira, sedetik kemudian dia kembali memeluk tubuh kekar Jovanka. Jovanka tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia hanya tersenyum, lalu mengecup rambut Sherly dengan sayang. Kalau anaknya bahagia dia juga ikut bahagia.