We Are Together

We Are Together
Tiga puluh tiga



"Selow, bro, selow,"


"Ternyata yang datang bukan cewek, Rel! Bukan, cewek!" hebohnya.


"Yang datang itu cowok, dia itu tinggi, putih, dan wajahnya tampan kayak kita berdua pokoknya... eh, satu lagi, wajahnya itu sekilas mirip—" David menghentikan ucapan karena lupa, dia kembali mengingat-ingat tetapi dia tidak kunjung ingat.


Darel kembali menyandarkan punggungnya ke sofa, dia menatap kosong ke arah depan. Dia jadi teringat kejadian beberapa jam yang lalu, saat dia dan Sherly tengah berada di kamar miliknya—membuatnya kembali memikirkan Sherly yang sekarang sudah berstatus menjadi mantan pacarnya. Darel bertengkar dengan Sherly karena masalah sepele. Ah, ralat, Darel tidak menganggap masalah itu sepele. Bagaimana bisa Darel tidak marah? Orang Sherly sudah merobek-robek kertas yang bergambar wajah Keysa.


Apa Darel salah memutuskan Sherly? Dari dulu juga Darel tidak pernah sayang kepada Sherly. Ah, boro-boro sayang, cinta saja tidak pernah.


David mengguncangkan bahu Darel beberapa kali, membuat Darel sadar dari lamunannya. Darel mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum menoleh kearah David.


"Lo kenapa ngelamun?" David bertanya penasaran seraya mengangkat salah satu alisnya.


Darel berdeham pelan. "Gue nggak ngelamun!" bantahnya.


David tediam sebentar, dia tidak menghiraukan jawaban dari kembarannya barusan. Sedetik kemudian wajahnya menjadi berbinar. "Ah, gue tau! Gue baru ingat kalau cowok yang mukulin gue sekilas mirip Sherly!" David memekik heboh.


Darel teringat dengan kakak kelasnya yang berwajah mirip Sherly sekilas. Tetapi Darel lupa nama cowok itu.


"Eh, masa gue dituduh dia yang enggak-enggak, bikin adeknya nangis lah, apa lah, dan gini deh jadinya... pipi gue yang jadi korban, anjir! Lihat nih wajah gue jadi bonyok kayak gini gara-gara siapa coba? Ya gara-gara dia lah!" David mengomel seraya memegang pipinya yang lebam.


Darel terdiam sebentar, dia berusaha mencerna perkataan David. Bikin adeknya nangis? Darel jadi teringat dengan jelas saat Sherly menangis karena dirinya yang memutuskan hubungan sepihak. Ah, Darel baru ingat nama kakak kelas cowok yang sekilas mirip Sherly—namanya Azka Alvaro Jovanka, dia adalah cowok tampan yang pernah menjadi ketua basket di kelas 11 dulu. Darel juga teringat kalau Sherly punya kakak cowok. Darel semakin yakin bahwa Varo yang memukuli David.


Apa Varo mau balas dendam ke gue ya? karena udah bikin adeknya nangis, pasti Sherly udah ngadu ke Varo. Batinnya.


Darel menatap iba kearah David. Maaf, gara-gara gue, lo jadi yang kena sasarannya.


"Eh, tunggu-tunggu, tadi Sherly nangis kenapa? Apa cowok itu ada hubungannya dengan Sherly?"


Darel mengangguk membenarkan. Pertanyaan David memang benar, bukan?


"Sherly nangis karena tadi gue putusin,"


David langsung menolehkan wajahnya kearah Darel, dia menatap tidak percaya kearah kembarannya.


What the hell?


"Kenapa lo mutusin Sherly, huh?"


"Karena gue nggak pernah cinta sama dia, dulu gue nerima dia juga karena terpaksa, coba bayangin dari kelas sepuluh dia udah ngejar-ngejar gue terus, bro!"


David tidak bergeming sama sekali, dia menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali.


"Tapi kenapa malah gue yang dipukulin, anjir? Harusnya yang dipukulin kan lo, bukan gue," kilahnya.


Nasib David sungguh malang, bukan?


Darel mengusap-usap pelan lengan kembarannya, lalu dia terkekeh pelan. "Mungkin ini sudah takdir?"


"Kampret lo!" umpat David tak terima.


David hanya menjawab dengan dehaman pelan.


*


Keysa yang sedang mengenakan piyama polos berwarna navy saat ini tengah tertidur pulas diatas kasur queen size-nya. Selimut tebal berwarna biru tua berhasil membungkus seluruh tubuhnya, kecuali kepalanya. Lima menit kemudian, dia membuka kedua kelopak matanya yang tadi terpenjam. Matanya mengerjap beberapa kali untuk beradaptasi pada cahaya lampu kamarnya yang menyilaukan mata. Dia terbangun. Keysa merasa jika tadi ada seseorang yang menjahili dirinya.


Keysa menangkup kedua pipinya dengan telapak tangannya. "Anjir, siapa nih yang noel-noel pipi gue? Lagi mimpi kencan sama Jungkook BTS juga," gumamnya, sebal.


Keysa mengendikan bahunya acuh. Maybe, Keysa hanya berhalusinasi saja. Mana ada yang menoel-noel pipinya? Orang tidak ada siapa-siapa di kamarnya.


Keysa tidak tahu jika ada seseorang yang bersembunyi dibawah ranjangnya, dia sedang menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya—dia terkikik geli saat mendengar perkataan yang dilontarkan Keysa tadi.


Keysa mendongak, menatap malas langit-langit kamarnya. Sesekali dia menggulingkan tubuhnya kesana kemari. Keysa mengambil alarmnya diatas nakas, dia melirik sekilas alarm tersebut. Waktu menunjukan pukul jam setengah tiga pagi. Sepuluh menit yang lalu dia terbangun dari tidur nyenyaknya. Dia lantas kembali menaruh alarm itu diatas nakas.


Keysa mencoba untuk memejamkan kedua matanya kembali, setelah setengah jam yang lalu dia tidak kunjung bisa tidur. Dia kembali menggerutu m sebal. "Mau tidur aja susah amat sih!" kesalnya.


Gerah.


Keysa menyibak selimut tebal dengan kasar. Lalu dia beranjak dari tidurnya dan duduk di atas ranjang, punggungnya dia senderkan dikepala ranjangnya. Keysa mengusap peluh yang membanjiri wajah cantiknya, sesekali dia mengipas-ngipaskan wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Arghh... gue belum puas kencan sama Jungkook BTS, anjir!" Keysa berteriak frustasi seraya menjambak rambutnya sendiri yang terlihat sangat berantakan.


Perut Keysa tiba-tiba berbunyi, dia lantas memejamkan matanya sejenak.


Lapar.


"Dasar perut! Mana nggak bisa diajak kompromi lagi!"


Keysa mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kamarnya, berharap menemukan camilan, satu bungkus camilan pun tidak apa-apa, asalkan camilan itu bisa mengganjal perutnya.


Sialan. Keysa mengumpat dalam hati.


Tetapi hasilnya nihil. Tidak ada satupun bungkus camilan dikamarnya. Setelahnya Keysa terperanjat kaget, matanya melotot ketika melihat puluhan buku novelnya yang berserakan di lantai. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Sebelum Keysa tidur—puluhan buku itu masih tertata rapi di rak buku. Tetapi kenapa buku-buku tersebut sekarang menjadi berserakan di lantai, huh? Entahlah, Keysa pun tidak tahu itu. Siapa orang yang berani berantakin buku-buku milik Keysa, huh? Tidak mungkin pelakujya Linda, bukan? Keysa memutar bola matanya jengah. Setelahnya Keysa menoleh atas nakas. Hasilnya nihil lagi. Tidak ada satu bungkus camilan sama sekali.


"Perasaan tadi masih ada dua bungkus camilan, kok sekarang jadi nggak ada, ya?" tanyanya lirih.


Keysa mengendikan bahunya dengan acuh, dia tidak mau ambil pusing. Keysa mendongakkan wajahnya ke atas. Menatap sendu langit-langit kamarnya yang berwarna putih netral itu. Jujur saja, Keysa sangat malas turun ke bawah—menuju dapur. Perutnya kembali berbunyi. Keysa menggerutu lagi. Bulu kuduk Keysa tiba-tiba berdiri.


Kenapa Keysa menjadi takut saat mau menuju dapur, huh?


Tidak ada pilihan lagi. Keysa beranjak dari duduknya. Dia menurunkan kakinya ke lantai. Lantas dia berjalan lunglai menuju dapur. Sesekali dia menguap lebar karena sedikit mengantuk.


Mommy Keysa masih tidurnya nyenyak, maybe?


Keysa mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru dapur, seketika dia tersenyum sumringah ketika melihat stoples yang berisi biskuit butir coklat buatan Linda. Toples itu berada dalam lemari kaca. Keysa sontak langsung berlari kecil menuju lemari kaca. Di ambilnya toples tersebut. Lalu dia kembali berjalan menuju kulkas. Keysa terperanjat kaget saat membuka kulkasnya, dia mengernyitkan dahinya bingung. Kenapa kulkasnya hanya berisi air mineral? Apakah tidak ada minuman lain selain air mineral? Ah, sudah lah, Keysa tidak mau repot. Di ambilnya botol yang berisi air mineral dengan segera.


Keysa mengayunkan kembali kakinya untuk menuju kamarnya. Telapak tangan kanannya dia gunakan untuk memegang toples dan telapak tangan kirinya dia gunakan untuk memegang sebotol air mineral dingin.


Keysa tiba-tiba menjadi was-was sendiri.